logo
Tayang Setiap : Jumat pk 21.30 WIB
Tayang ulang : Minggu pk 15.30 WIB

About | Contact | Help/FAQ

Follow On :

  • Home
  • The Show
  • Video Streaming
  • Foundation
  • Andy`s Friend
  • Andy`s Corner
  • Store
  • Community
Login | Register
 
Menu The Show
  • The Show
  • Special Edition
Polling

Menteri Perdagangan mengeluarkan kebijakan bagi PNS untuk memiliki skor 600 untuk TOEFL (bahasa Inggris)

 Setuju
 Tidak Setuju
 Tidak tahu
The Show
Jumat, 11 Juni 2010 21:30:00 WIB
TANAH AIR BETA
kick andyIndonesia sudah melepaskan Timor-Timur hampir 11 tahun lalu. Tapi akibat perpecahan ini dampaknya masih terasa, terutama bagi saudara-saudara kita yang telah memilih untuk menjadi warga negara Indonesia. Mereka yang terpaksa hengkang dari tanah kelahirannya, berpisah dengan keluarga, sanak, dan saudara. Mirisnya hingga sekarang mereka masih harus tinggal di kamp pengungsi yang sangat jauh dari layak sebagai tempat tinggal.

"Saya su 11 tahun tinggal di pengungsian, karena tak punya uang untuk beli tanah di tempat lain," tutur Olandina Da Silva Xiemenes, seorang pengungsi di kamp Tuapukan, Kupang, NusaTenggara Timur.

Olandina dengan ratusan kepala keluarga lainnya masih bertahan di Kamp milik pemerintah. Mereka tak bisa beranjak dari tempat tinggal sempit  yang berdinding rangkaian ranting, beratap rumbia, dan berlantai tanah itu karena memang tak memiliki pilihan. Jangankan untuk  membeli tanah di tempat lain, untuk makan sehari-hari saja sangat susah. 

Host Andy F. Noya berkesempatan mengunjungi kamp Tuapukan, ia berinteraksi langsung dengan sejumlah warga pengungsi di sana. Satu hal yang membanggakan adalah meski mereka hidup sengsara, mengaku senang karena telah memilih jadi warga negara Indonesia. "Saya sebagai masyarakat tidak menyesal, karena saya sudah terlanjur cinta merah putih," kata Paulus, seorang pengungsi. Hal yang sama disampaikan juga beberapa warga, termasuk Olandina.

Di Kick Andy, Olandina membeberkan pengalaman kelamnya saat pasca jajak pendapat di Timtim tahun 1999 lalu.  Di masa itu, ia harus rela menerima kematian suaminya yang seorang anggota TNI, dengan cara mengenaskan. Sang suami dibunuh dengan cara yang keji, dalam sebuah pertikaian antar masyarakat yang pro integrasi dan pro kemerdekaan. Belum pulih rasa dukanya, ia pun harus rela meninggalkan tanah kelahirannya dan pergi mengungsi karena kondisi yang tidak aman di Timtim saat itu. Olandina mengungsi. Bersama  dua anaknya. Sementara tiga anak lainnya  masih di Dili, dan tak memungkinkan untuk dibawa serta. Beberapa tahun lalu, olandina minta bantuan palang merah untuk membantu mencari keberadaan anak-anaknya, dan ternyata mereka masih ada di Dili. "Saya tidak bisa menemui mereka hingga sekarang, karena saya tak bisa masuk Timtim. Saya memiliki tanda merah, karena saya keluarga tentara," ujar Olandina lirih.

Sebelas tahun berlalu dan Olandina bertahan untuk meneruskan hidupnya sebagai warga negara Indonesia, meski harus tinggal di rumah teramat sederhana di kamp pengungsian Tuapukan, hingga sekarang. Bantuan pemerintah kini sudah tak ada lagi, dan ia harus  banting tulang jadi buruh tani di lahan penduduk setempat. Pensiunan suaminya sebesar Rp400 ribu sangat jauh dari mencukupi.   

Sementara itu, Hamida Tilaar, seorang pengungsi yang kini tinggal di wilayah Oebelo Kupang, mengisahkan kehidupannya yang sedih sebagai pengungsi. Saat huru-hara terjadi, ia diminta suaminya untuk segera menyelamatkan tiga anaknya dan mengungsi. Sang suami berjanji untuk menemui mereka di Kupang.

Hamidah yang terlahir dengan nama Merry Da Consecou ini pun pergi membawa anak-anaknya. Proses pengungsian di tengah chaos itu baginya adalah pengalaman mengerikan. Kapal yang mengangkut ribuan manusia itu teramat padat oleh orang-orang yang hanya membawa kesedihan dan meninggalkan banyak harta serta keluarga di Timtim. Banyak orang mengalami kelaparan. "Sampai Kupang saya depresi, karena di saku saya hanya bawa uang 7000 rupiah. Akhirnya setiap orang yang saya temui, saya tabokin," kata Hamida mengenang pengalaman buruknya.

Hamida membesarkan anak-anaknya sendirian. Berbagai upaya ia lakukan agar bisa menghidupi ketiga anaknya, dari mulai berjualan es hingga jadi buruh tani. Sang suami yang berjanji akan menemuinya di Kupang, hingga kini lenyap bak ditelan bumi.

Kisah nyata kehidupan Hamida, kemudian  menjadi bagian dari kisah sebuah film bertajuk "Tanah Air Beta". Adalah Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen yang kemudian memproduksi film tersebut memakai  seting kejadian Timtim di tahun 1999 ini. "Kami ingin mengingatkan bahwa pasca referendum, masih banyak saudara-saudara kita yang terpisah dari keluarganya," ujar Ari Sihasale atau Ale ini.

Film yang mengambil lokasi di pengungsian Attambua ini, bercerita tentang seorang perempuan yang terpisah dengan anak dan suaminya. Ale dan Nia mengaku, proses pembuatan film ini mendapat banyak hambatan, terutama soal kecurigaan para pengungsi atas kedatangan crew film.  Tapi akhirnya film yang memakai figuran ribuan warga pengungsi ini bisa terselesaikan juga.

Dibalik kisah pembuatan film itu, Ale menjelaskan tentang seorang anak yang bernama Fransisco atau biasa dipanggil Sico. Anak yang hidup sebatang kara di Kamp pengungsi ini kemudian diajak serta menjadi tim bagian artistik mereka. Bahkan rumah yang dibangun untuk kepentingan film itu akhirnya diberikan pada Sico sekarang. Selepas film ini Sico yang usianya akan menginjak 17 tahun ini,  kembali menjadi anak pengungsi yang tumbuh di tengah lingkungan keras pengungsian dan tak punya lagi keinginan untuk bersekolah.

Sosiolog dan pemerhati masalah pengungsi, DR Yanuarius Koli Bau yang hadir di Kick Andy, mengatakan bahwa banyak sekali generasi-generasi muda yang kehilangan masa depan akibat tragedi pasca referendum ini. DR Yan juga menyatakan masih banyak permasalah yang terjadi diantara ribuan pengungsi Timtim di berbagai kamp pengungsian saat ini.

Episode Kick Andy kali ini, akan mengajak kita untuk kembali menengok keberadaan mereka, saudara-saudara sebangsa kita yang mulai terlupakan. Mereka yang sudah meninggalkan tanah kelahiran, harta benda, dan keluarga, demi kebanggaannya kepada merah putih. 

Selamat menyaksikan.

ARTIKEL TERKAIT :
Arsip +
  • BLAK-BLAKAN ALA KICK ANDY
  • HUTAN RIWAYATMU KINI
  • RING OF FIRE ADVENTURE
  • Cara Gila Menulis Buku
  • KU TAMBATKAN HATI DI INDONESIA
| Share Kick Andy | Kommentar (234) | Dibaca (50185)
Kommentar Anda :

Aturan Posting Kommentar :

Seluruh layanan yang diberikan mengikuti aturan yang berlaku dan ditetapkan oleh kickandy.com.

Pasal Sanggahan :

kickandy.com tidak bertanggung-jawab atas tidak tersampaikannya data/informasi yang disampaikan oleh pembaca melalui berbagai jenis saluran komunikasi (e-mail, sms, online form) karena faktor kesalahan teknis yang tidak diduga-duga sebelumnya.

kickandy.com berhak untuk memuat , tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

Data dan/atau informasi yang tersedia di kickandy.com hanya sebagai rujukan/referensi belaka, dan tidak diharapkan untuk tujuan perdagangan saham, transaksi keuangan/bisnis maupun transaksi lainnya.



Sabtu, 16 Juli 2011 01:02:27 WIB
muh iqbal said : p.l.u.r
tolong tampilkan band slank n iwan fals...karna menurut saya cmn 2 band itu yg mensebarkan viru2 perdamaian di indonesia...
Selasa, 31 Agustus 2010 13:32:19 WIB
bambang : tanah air beta
timbulnya rasa kecintaan terhadap negeri ini perlu di bangkitkan kembali, dengan film2 seperti ini.,.,
Rabu, 18 Agustus 2010 23:40:51 WIB
Sius : Tanah Air Beta
Fenomena tentang pengungsi saat jajak pendapat lalu tetap membekas dimata kita. Film TanahAirBeta menjelaskan kehidupan para pengungsi yang kini telah menjadi warga NTT dan juga warga NTT itu sendiri. Permainan politik yang dilakukan oleh pejabat, akibatkan kehilangan wilayah, dan juga kesengsaraan.
Selasa, 17 Agustus 2010 14:03:32 WIB
inggrid gaudensia : tolong diperhatikan
semoga polemik ttg pengungsi ini dpt lbh di perhatikan pemerintah....mereka memilih bergabung bersama Indonesia tapi kenapa warga di perbatasan masih hrs mengambil air dari Timor Leste.Sukses untuk perfilman Indonesia yang ternyata lbh peka dari pada para Penguasa
Sabtu, 14 Agustus 2010 17:25:07 WIB
gondez ibanez : tanah air beta
film seperti ini yang harus di suguhkan anak2 indonesia,jangan sinetron di tv2 yang gak mengajarkan jiwa2 nasionalisme,semoga perfilman nasional banyak mengangkat,kisah-kisah pinggiran kota.....
123456NextLast ›
Partners :
Kick Andy Talk Show : Help/FAQ (update) | Disclaimer Komentar (update)
RSS Feed Kick Andy : The Show | Andy`s Friend | Andy`s Corner
© 2010 Kick Andy Enterprise - All Rights Reserved