


Menteri Perdagangan mengeluarkan kebijakan bagi PNS untuk memiliki skor 600 untuk TOEFL (bahasa Inggris)
Sungguh tidak terbayangkan bagaimana perasaan kita jika kehilangan orang yang kita cintai dan sayangi. Perasaan sedih, kecewa dan hancur akan menimpa kita. Dan mungkin kita juga akan mengalami kesedian berhari-hari, berbulan-bulan bahkan bisa tahunan. Kesedihan itu akan ”sempurna” manakala kita tidak mengetahui dimana keberadaan baik jasad atau makam orang-orang yang kita sayangi itu hingga kini.
Itulah mungkin gambaran sekilas apa yang dialami keluarga korban pesawat Adam Air yang dinyatakan jatuh dan hilang pada 1 Januari 2007. Tercatat sebanyak 112 penumpang yang terdiri 96 penumpang dan enam awak pesawat dinyatakan hilang bersama pesawat jenis Boeing 737-400 itu.
Salah satu keluarga yang mengalami peristiwa yang mungkin tidak bisa dilupakan seumur hidup adalah yang dialami keluarga Sardiyanto. Pria setengah baya asal Solo, Jawa Tengah itu kehilangan lima anggauta keluarga yaitu adik, dua cucu dan menantunya. ”Saya sangat sedih sekali, apalagi saya sangat dekat dengan cucu saya,” ujar Sardiyanto menerawang. Perasaan sedih yang mendalam sangat ia rasakan hingga kini. Sardiyanto mengaku, kadang ia berjalan ke Bandara Juanda Surabaya dengan menumpang kendaraan umum. Sesampainya di bandara ia duduk termenung dan berharap keluarganya bisa kembali. “Saya ingin merasakan kembali detik-detik perpisahan saat saya mengantar keluarga saya berangkat ke Manado,” ujar Sardiyanto sambil menangis. Mereka memang tidak kembali, namun Sardiyanto menyimpan kenangan mereka di dalam hatinya. Ia tidak bisa melupakan kenangan bagaimana kedua cucunya itu berebut tidur dengannya manakala Sardiyanto menjenguk cucu yang ia sayangi itu.
Kisah yang tak kalah memilukan mungkin apa yang dialami keluarga Frans Wuisan. Pria yang berprofesi sebagai pendeta di Manado, Sulawesi Utara itu kehilangan lima anggauta keluarga yang terdiri anak, menantu dan tiga orang cucu. Menurut Frans keluarga anaknya yang tinggal di Surabaya berencana pergi ke Manado pada tanggal 31 Desember 2006 untuk memimpin ibadah dalam rangka tahun baru. “Mereka terpaksa membatalkan rencana liburan ke Singapura lantaran tiga anaknya yaitu Gery, Gabriel dan Glen ingin mengunjungi kakeknya di Manado,”ujar Frans sedih. Yang sangat disesali Frans adalah, seharusnya mereka berangkat tanggal 31 Desember 2006 pagi. Namun penerbangan pada tanggal tersebut dibatalkan pihak Adam Air karena tidak ada pesawat dan diganti pada 1 Januari 2007. Dan, ternyata hari itu adalah hari terakhir buat mereka. Anak, menantu dan tiga cucu Frans Wuisan tak pernah sampai ke Manado, karena pesawat Adam Air dengan nomor penerbangan KI-574 itu dinyatakan jatuh dan hilang di perairan Majene Sulawesi Barat. Kini Frans dan istrinya hanya bisa pasrah kehilangan keluarga yang ia cintai. Untuk menghilangkan rasa sedih Frans dan keluarganya yang tersisa sering memanjatkan doa dan mencurahkan rasa sedihnya saat berdoa. Selain itu ia juga sering melakukan tabur bunga di perairan laut Majene, Sulawesi Barat.
Tragedi hilangnya pesawat Adam Air juga menyisakan kenangan pahit bagi keluarga Rika Wantania. Wanita yang biasa disapa Rika itu kehilangan tujuh anggauta keluarga. Selain kehilangan suami tercinta, ia juga kehilangan Ayah, Ibu serta kakak dan adik serta cucu. Menurut Rika, tidak bisa diketemukan jenasah keluarganya hingga kini merupakan pukulan berat bagi keluarga besar Wantania. ”Kami merasa sangat kehilangan. Karena apa yang terjadi tanpa bukti,”kata Rika sedih. Namun ia hanya bisa pasrah karena semua apa yang terjadi di dunia ini adalah rencana Tuhan.
Apa yang dialami para keluarga itu adalah sebuah tragedi . Namun cara mereka menghilangkan kesedihan patutlah ditiru. Mereka tidak mencoba menghilangkan kenangan korban dalam benaknya, tetapi berserah diri dan selalu memanjatkan doa kepada arwah keluarganya. ( end ).
