ZONA NYAMAN TIDAK SAMA DENGAN BAHAGIA

12 Oktober 2019 - 14.21 WIB

Menjadi orang kantoran dengan gaji besar tidak selalu menarik buat sebagian anak muda zaman sekarang. Buktinya, ada sebagian anak muda yang rela meninggalkan kehidupan nyaman secara finansial demi mengejar mimpi pribadi. Apa yang mereka cari? Seperti halnya yang dilakukan para narasumber kick andy kali ini.

Yang pertama dia adalah Trisno pemuda yang berhasil jadi sarjana pertama di desanya lulus kuliah, ia tidak mencari pekerjaan di kota besar seperti layaknya sarjana lain. Trisno malah kembali ke dusun pemuda lulusan Psikologi UMS Surakarta itu ingin mengubah nasib desanya yang katanya miskin, bodoh dan terbelakang sebagian besar mata pencaharian penduduk dusun adalah bertani dan beternak.

Terbetik ide di benak Trisno ia ingin menjadikan desanya menjadi desa wisata. Maka dimulailah sebuah proyek nekad. Trisno ingin menjadikan dusunnya sebagai desa wisata dimana pengunjung akan dihibur berbagai jenis tarian dan kesenian Trisno mulai mengumpulkan teman-temannya warga dusun di tahun 2009. Bersama-sama mereka berniat mewujudkan rencana gila Trisno. Kini desanya telah menjadi desa wisata dan masyarakat desa sangat bersyukur taraf hidup meraka menjadi meningkat di berbagai bidang kehidupan.

Yang berikutnya adalah Siti Soraya Cassandra, sarjana psikologi lulusan University of Queensland, Australia, dan Universitas Indonesia bersama sang suami Dhira Narayana, juga sarjana psikologi alumnus Universitas Indonesia sempat mencoba berbagai pekerjaan di dalam dan luar negeri, dari korporasi, hingga NGO.Akhirnya berani keluar dari zona nyaman dan memilih menjadi petani dibandingkan bekerja di kantoran. Ibunya memang sempat keberatan ketika Sandra memutuskan beralih profesi dari orang kantoran yang kinclong menjadi petani.Bukannya saya menentang orangtua, tetapi saya lihat di keluargaku semua orang kantoran, enggak ada yang bisnis. Apalagi jadi petani. Orangtua mungkin khawatir saja dengan masa depanku

Sandra dan sang suami, Dhira,kini menjadi petani kota dengan mendirikan Kebun Kumara, Kebun Kumara adalah sebuah kebun belajar bagi siapapun yang ingin berguru pada alam. Kami bertekad membantu masyarakat kota meraih gaya hidup seimbang yang lestari melalui pengalaman nyata dan interaksi bermakna dengan alam. Selain menumbuhkan kesadaran pentingnya menanam, mereka akan membuat kebun sayur organik. Mereka ingin menunjukkan bahwa, kalau mau, anak muda bisa menjadi petani di kota besar.



Dan yang terakhir adalah Muslahuddin Daud. Disaat yang lain berlomba-lomba mencari profesi yang mapan, pria satu ini justru memlilih keluar dari World Bank yang membuatnya berlimpah materi selama 13 tahun. Yang mengejutkan, Muslahuddin nekat menjalani sebuah profesi yang justru banyak dihindari masyarakat di zaman yang serba modern dan hedonis ini.

Pilih menjadi petani tinggalkan kemewahan Muslahuddin Daud yang pernah menerima gaji puluhan juta. Namun semua kemapanan itu telah ia tinggalkan. Muslahuddin lebih memilih untuk mengikuti panggilan hatinya dengan berkebun sambil membina petani-petani lain di daerah asalnya di Aceh. Walaupun ia pernah diprotes sang istri dan keluarganya setelah resign dari Bank Dunia. Meski begitu, ia berhasil meyakinkan sanak familinya tentang keputusan yang telah di ambilnya.


Kini usaha kerasnya selama menjadi seorang petani telah membuahkan hasil ia telah membina 7000 petani sampai saat ini. Bagi Muslahuddin Daud, materi merupakan alat yang bisa dicari, bukan menjadi tujuan hidup. Meninggalkan kemewaan demi masa depan orang lain, merupakan sebuah perbuatan mulai yang jarang terjadi.