WARISAN BUKAN HARTA

Tayang Minggu, 17 Oktober 2021 Pkl 19.05 WIB


Pendidikan merupakan bekal terbaik untuk perjalanan hidup. Itulah kalimat bijak yang menjadi pegangan orang tua untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka, seperti yang dilakukan tamu Kick Andy kali ini. Mereka tidak mewariskan harta pada anak-anak mereka, namun memberikan bekal pendidikan. Keluarga Yahya dan Umayah di Pekalongan, Jawa Tengah mampu mengantarkan delapan orang anaknya menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Tujuh dari delapan orang anaknya menjadi aparatur sipil Negara (ASN) sedang satu orang anaknya memilih berwiraswasta. Bukan hal yang mudah bagi Yahya dan Umayah menyekolahkan delapan orang anaknya hingga mendapat gelar sarjana. Yahya sendiri hanya lulusan Sekolah Dasar (SD), sedang Umayah tidak lulus SD. Pekerjaan Yahya adalah buruh lepas dan perangkat desa dengan penghasilan yang tidak besar, namun dengan doa, ketekunan kerja keras bersama sang istri dapat memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka.

Sedang keluarga Horaman Saragih dan Pinta Uli Sitorus dapat mengantarkan lima putranya menempuh pendidikan hingga S3. Perjalanan hidup Horaman dan Pinta Uli tidak kalah menarik. Pinta Uli yang mendorong Horaman untuk menempuh pendidikan hingga sarjana. Bukan hanya itu, Pinta Uli juga membantu biaya kuliah suaminya dengan membuka toko kelontong. Dengan bekal pendidikan itu, Horaman dapat memperoleh pekerjaaan yang lebih baik dan merintis karir di Departemen Tenaga Kerja. Semangat mencari ilmu itu ditularkan pada lima orang anaknya dan dari lima orang anaknya tiga sudah lulus S3 dan dua sedang menyelesaikan pendidikan S3. Bukan hanya anak-anaknya, lima orang menantu juga dibiayai sekolahnya untuk menempuh pendidikan S2. Horaman dan Pinta Uli tidak membagi harta mereka pada lima orang anaknya. Pasangan ini menjadikan harta yang miliki sebagai bekal pendidikan bagi cucu-cucu mereka. Keluarga Horaman juga mendirikan SMP dimana bagi anak-anak yang tidak mampu tidak dipungut biaya.

Di Gemolong, Sragen, Jawa Tengah ada sosok Suharni yang mampu mengantarkan lima putrinya meraih gelar sarjana bahkan anak pertamanya, Retno Wahyu Nurhayati meraih gelar doktor di Jepang. Sebagai guru honorer dan orang tua tunggal sepeninggal suaminya, Slamet pada tahun 2005 bukan hal yang mudah bagi Suharni membiayai pendidikan anak-anaknya. Berkat doa, ketekunan dan kerja keras hambatan biayai dapat diatasi. Selain gaji sebagai guru honorer, Suharni membuka toko kelontong untuk biayai sekolah anaknya. Meski sempat dicemooh para tetangga, keberhasilan Suharni memberikan pendidikan terbaik bagi menjadi inspirasi bagi banyak orang.***