SEPEDA LOKAL GO GLOBAL

12 Oktober 2019 - 14.21 WIB

Di tengah maraknya kegiatan bersepeda saat ini dan masyarakat memburu sepeda-sepeda branded dari luar negeri ada sepeda yang dibuat orang Indonesia yang diminati orang dari manca negara. Sepeda itu memiliki keunikan yang menjadi nilai tambah dari sepeda itu. Setiap sepeda yang dibuat juga ada cerita di baliknya. Di Lombok, Nusa Tenggara Barat ada sepeda listrik Le Bui yang dibuat oleh Gede Sukarma Dijaya. Le Bui kependekan dari Lombok E-bike Builder. Berbeda dari sepeda listrik kebanyakan desain sepeda listrik Le Bui mirip sepeda motor custom yang menonjolkan rangka dan ban besar. Tanpa bodi penutup, bagian tengah diisi tempat penyimpanan baterai. Produksi sepeda listrik Le-Bui bukan saja soal gaya. Gede memikirkan juga mengenai keamanan dan kenyamanan penggunanya. Perangkat keamanan seperti lampu dan rem, tetap menjadi komponen utama di sepeda listriknya. Sepeda Le-Bui diproduksi di bengkel milik Gede Sukarma Jaya di Keru, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Meskipun berbasis lokal dengan kandungan komponen lokal mencapai 70 persen, konsumen yang memesan sepeda listrik buatannya justru banyak berasal dari luar negeri. Hal ini membuktikan bahwa kualitas yang dimiliki oleh Le Bui diakui oleh dunia internasional.  Khusus di pasar Amerika Serikat, sudah ada dua dealer yang menjual Le-Bui.


Di Depok, Jawa Barat ada sepeda kayu yang diberi nama Kayuh. Didi Diarsa dan Maulidan Isbar adalah founder dan co-founder Kayuh Wooden Bike. Keduanya melihat sepeda dari bahan kayu merupakan produk yang unik dan mereka menangkap peluang bsinis dalam keunikan tersebut. Mereka membuat sepeda kayu dimulai pada tahun 2014. Mereka terlebih dahulu melakukan riset hingga 10 bulan hingga akhirnya jadi produk pertama di 2015. Produksi pertamanya itu belum sempurna dan setelah riset dan pengembangan akhir tahun 2016, Kayuh mulai diproduksi. Alasan mereka membuat sepeda kayu tidak terlepas dari tersedianya limbah kayu karet yang potensi penggunannya bisa lebih baik lagi dibandingkan menjadi kayu bakar. Selain itu, masalah solusi dari kemacetan di kota besar seperti Jakarta coba dijawab lewat terobosan ini. Pembuatan frame sepeda dari limbah kayu karet dilakukan dengan mengambil filosofi sapu lidi, semakin banyak lapisan kayu karet membuat frame sepeda semakin kuat. Selain dibuat dari kayu limbah, kelebihan Kayuh Wooden Bike adalah kemampuannya untuk dibuat custom. Itu artinya pembeli bisa memesan desain sesuai yang diinginkannya. Selain dipasarkan di dalam negeri, Kayuh juga telah dipasarkan ke luar negeri.


Sementara di Temanggung, Jawa Tengah ada sepeda yang terbuat dari bambu yang diberi nama Spedagi. Singgih Susilo Kartono adalah sosok di balik Spedagi. Melihat potensi bambu yang melimpah di kampung halamannya, Dusun Kandangan, Temanggung, Singgih yang merupakan alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung ini membuat sepeda dari bambu. Ia mengembangkan desain pada tahun 2013 dan menyempurnakan produksinya setahun kemudian. Spedagi banyak diminati orang dari manca negara. Spedagi juga pernah dipakai pesepeda Indonesia untuk mengikuti event Paris Brest Paris. Event ini merupakan kegiatan bersepeda tertua di dunia dengan menempuh jarak 1200 kilometer. Sepeda bambu ini hanya merupakan bagian kecil dari tujuan besar Singgih yakni merevitalisasi desanya dan mendorong desa-desa lainnya untuk ikut melakukan suatu gerakan yang dapat menonjolkan kearifan lokal. Sebelumnya, Singgih sukses membuat radio kayu yang diberi nama Magno dan menggagas Pasar Papringan.***