SEMUA KARENA CINTA

Tayang : Minggu, 18 Juli 2021 Pkl 19.05 wib.


Dalam episode Semua Karena Cinta, Kick Andy menghadirkan para narasumber orang-orang tangguh yang berdamai pada kehidupan pahit yang harus mereka terima, walaupun dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, mereka bangkit dan tetap semangat menjalani kehidupan dengan penuh sukacita.

Junika Sugiarsih, seorang ibu yang memiliki 4 orang anak, 3 anak diantaranya merupakan penyandang disabilitas. Membesarkan anak dengan disabilitas tentu butuh perjuangan. Setidaknya, itulah yang dirasakan Junika, ibu dari 4 orang anak. Junika menjadi sosok ibu tangguh dengan 3 dari 4 anaknya memiliki kebutuhan khusus. Anak pertamanya bernama Muhammad Arif, ia punya masalah dengan segala hal yang membutuhkan fokus lebih, atau kerap disebut Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Sementara, anak keduanya Muhammad Irfan mengalami down syndrome. Anak ketiga Junika adalah seorang perempuan, bernama Tri Anisah. Dapat dikatakan Nisa lebih beruntung dibanding kakak dan adiknya karena tak punya masalah dengan tumbuh kembangnya. Anak bungsunya bernama Muhammad Ilham, merupakan anak pengidap PDD Nos --Pervasive Developmental Disorder, Not Otherwise Specified, kondisi yang mengganggu tumbuh kembangnya sehingga ia tak mampu bersosialisasi dengan baik. Kondisinya sekilas mirip dengan anak autisme. Dengan segala pemberian Tuhan ini, Junika mengaku tetap bersyukur karena Ia percaya bahwa di balik keterbatasan itu, anak-anaknya juga punya kelebihan yang membanggakan.


Berikutnya Ni Komang Warsiki yang diceritakan sosoknya oleh Andy F. Noya. Ni Komang Warsiki adalah orangtua tunggal yang memiliki 3 anak, 2 diantaranya penyandang disabilitas. Putu Agus Setiawan anak pertama Ni Komang Warsiki mengalami seluruh tubuh Agus mengecil. Agus lumpuh sejak usia 8 bulan. Di usia itu, harusnya ia sudah bisa duduk, tapi tidak bisa. Dokter yang merawatnya kala itu juga belum bisa mendiagnosis kelainan yang Agus derita. Sementara Kadek Windari atau biasa disapa Winda kakinya lumpuh tidak bisa digerakan. Kelumpuhan kaki Winda itu tak diketahui penyebabnya, dan kian lama kondisinya kian parah. Bahkan membuat tulang-tulang di tubuh Winda menjadi tidak normal. Beban hidup keluarga Ni Komang Warsiki bertambah saat sang suami yang sangat dicintainya meninggal dunia di tahun 2014 karena sakit tumor ginjal dan liver. Kematian suaminya menjadi pukulan berat bagi Ni Komang Warsiki, karena Ia harus menanggung hidup anak-anaknya. Untuk membantu ekonomi keluarga, Ni Komang Warsiki bekerja sebagai tukang pijat. Ni Komang Warsiki pun merasa bangga memiliki anak seperti Winda dan Agus. Winda dengan keahlian melukis banyak menghasilkan lukisan yg indag dan Agus telah menjadi penulis buku.



Narasumber berikutnya yaitu pasangan suami istri tuna netra Sukiman dan Partini asal Solo, Jawa Tengah. Meskipun keduanya tidak bisa melihat, Sukiman & Partini mampu merawat sendiri ke empat anaknya sejak anak-anaknya lahir. Bahkan dengan keterbatasan fisik dan ekonomi, Sukiman & Partini mampu mengantarkan ke empat anaknya lulus perguruan tinggi dan menjadi sarjana. Ke empat anaknya tak pernah malu atas kecacatan yg disandang oleh kedua orangtuanya sekalipun saat menghadiri wisuda. Ke empat anak2nya bangga memiliki orangtua Sukiman dan Partini. (End)