PEMUDA MENGGUNCANG DUNIA

12 Oktober 2019 - 14.21 WIB

“Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Itulah kalimat bung karno yang menggambarkan betapa besar potensi generasi muda indonesia. Kick andy kali ini akan bercerita tentang prestasi anak muda indonesia di kancah internasional. Mereka tidak hanya menemukan inovasi, namun juga mampu mengembangkan temuannya itu untuk kemajuan hidpu masyarakat.

Cerita pertama tentang inovasi dalam bidang perikanan. Seiring dengan hadirnya teknologi digital, lahir pula inovasi perikanan yang berbasis IT atau internet of things.

Ialah Banoo, sebuah project inovasi yang mampu mempercepat pertumbuhan ikan di dalam kolam. Dengan menambahkan kadar oksigen melalui microbuble generator, kualitas air kolam akan selalu terjaga. Hasilnya, produktivitas dapat meningkat hingga 42 persen.

Project ini di prakarsai oleh lima anak muda yang bermarkas di yogyakarta. Mereka adalah Azellia, Fajar Sidik, Hary Santoso, Aliva Zein dan Adlan Hawari. Berawal dari kondisi budidaya ikan di indonesia yang kurang produktif dan tidak berkelanjutan, anak-anak muda ini terdorong untuk mencari sebuah terobosan, demi meningkatkan kesejahteraan para petani ikan.

Pada 2016, mereka pun memulai project inovasi teknologi Banoo. Cara kerjanya cukup canggih. Sensor pada microbubble generator akan aktif secara otomatis ketika kadar oksigen berada di bawah batas normal. Selain itu, inovasi Banoo mampu beroperasi dengan daya listrik yang rendah, serta menggunakan sumber energi terbarukan dari panel surya.

Project ini pun berhasil meraih juara pada kompetisi Cisco Global Problem Solver Challenge 2019. Kompetisi ini menjaring ide bisnis baru yang memanfaatkan teknologi untuk dampak sosial, dari seluruh dunia. Pada tahun ini, Banoo telah bertransformasi menjadi sebuah startup. Dibawah bendera Banoo, tim terus mengembangkan inovasinya untuk perikanan air asin dan payau.

Tidak hanya itu, mereka juga tengah mengembangkan remote microbubble dan real-time data monitoring, melalui sebuah ponsel.

Dan prestasi kembali diraih, banoo berhasil lolos menjadi finalis M.I.T Solve Sustainable Food Systems Challenge 2020. Pemuda pemudi indonesia ini mampu menyisihkan 2600 pendaftar, dari 135 negara. Harapannya, inovasi banoo dapat meningkatkan produksi perikanan yang berkelanjutan, di Indonesia.

Cerita kedua akan menceritakan temuan menarik di bidang telekomunikasi. Seiring berkembangnya teknologi, seorang anak muda asal yogyakarta menemukan sebuah inovasi dalam menghemat data internet. Ialah Chirstopher Farrel Millenio Kusuma, penemu sebuah algoritma yang mampu mengkompresi berbagai file berukuran besar, menjadi file dengan ukuran lebih kecil.

Menariknya lagi, inovasi pemuda 20 tahun ini, kompresi yang dihasilkan tidak mengurangi kualitas file aslinya. Temuan farrel ini sempat di tolak 11 kali, dalam berbagai lomba karya ilmiah. Kala itu, orang lain cukup kesulitan memahami apa yang ia temukan, dan apa manfaatnya. Ia pun mengirim hasil temuannya ke sebuah web pengembang perangkat lunak, dan mendapatkan perhatian dari Google.

Pada 2017 farrel diundang ke markas Google di California, Amerika Serikat, untuk mempresentasikan temuannya. Tak disangka, teryata banyak pihak yang tertarik dengan temuan farrel tersebut. Pada usia 18 tahun, farrel digandeng oleh Google untuk projcet algoritma khusus kompresi pada Google Photos.

Bersamaan dengan itu, ia pun mengembangkan algoritma temuannya sendiri. Dan pada tahun 2018, farrel mendirikan Kecilin.id, sebuah aplikasi yang mampu menghemat data internet.

Bermarkas di Yogyakarta, kecilin terus berkembang. Aplikasi ini memiliki ribuan pengguna harian, dan mengompres 115 terabyte data setiap hari. Artinya, aplikasi ini mampu menghemat pemakaian tiap pengguna hingga 500 juta rupiah tiap bulannya.

Kini, farrel tengah mengembangkan virtual drive untuk menyimpan memori tanpa batas, dan kecilin meet, sebuah aplikasi konferensi video yang lebih hemat data hingga 60 persen. Atas prestasinya itu pula, farrel mendapatkan beasiswa di University of York, Inggirs. 


Cerita terakhir datang dari dunia arsitektur. Karya arsitektur terus berkembang seiring perubahan zaman, yang diikuti munculnya para arsitek muda. Salah satunya ialah Muhammad Egha.

Kiprah pemuda berusia 29 tahun ini tidak diragukan lagi di dunia arsitektur, ia sudah banyak menciptakan bangunan bangunan yang ikonik. Saat ini egha menjabat sebagai founder di Delution Company, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang arsitektur dan desain interior.


Awalnya, tahun 2013, egha bersama rekannya, bermodal 30 juta rupiah, mendirikan biro arsitektur bernama Delution, yang bertujuan memberikan inovasi baru bagi wajah arsitektur di tanah air.

Meski sempat jatuh bangun dalam membangun bisnis, ia tak pernah patah arang. Egha membuktikan, di usia yang masih terbilang muda, dirinya berhasil membangun perusahaan yang bergerak di bidang arsitektur serta desain interior.

Karya delution mulai dikenal masyarakat, lewat beberapa proyeknya yang viral. Salah satu karyanya yang unik adalah the twins, konsep hunian 2 rumah di lahan sempit 70 meter persegi, dengan bangunan yang unik dan terletak di areal padat penduduk.

Berkat karyanya delution pun menorehkan sejumlah penghargaan, baik nasional maupun internasional seperti, special mention Jerman Design Awards 2016, Best Design Of The Year For Corporate Small Space Category yang diadakan asosiasi desain interior internasional di Hong Kong, dan finalis 2A Asia Architecture Awards di Istanbul Turki. Harapannya, ia ingin menciptakan peradaban negara yang lebih baik sehingga indonesia bisa dipandang lebih baik di dunia internasional.