PELUANG DI DESA GLOBAL

Tayang, Minggu 2 Januari 2022

Kemajuan teknologi informasi mengubah cara orang bekerja dan membuka kesempatan bagi siapa saja untuk mengembangkan diri tanpa dibatasi ruang dan waktu. Bagi warga Desa Kedungmuli, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, internet telah membawa perubahan dalam hidup mereka. Ratusan warga dapat bekerja tanpa meninggalkan desa mereka. Nofi Bayu Darmawan adalah sosok di balik perubahan di Karangmoncol ini. Pada mulanya adalah keinginan berbagi. Lalu Nofi mengambil jalan nekat dengan melepaskan statusnya sebagai pegawai negeri di Kementerian Keuangan RI. Pada 2017, Nofi kembali ke kampung halaman. Misinya satu mengembangkan jualan online miliknya, sekaligus membagikan ilmu itu kepada para pemuda di Purbalingga. Pada suatu hari, ada temannya yang menghubunginya untuk dicarikan tenaga customer service (CS) untuk toko onlinenya. Nofi menyanggupinya dan dari situ terus berkembang sehingga disebut Kampung Marketer. Sebelum pandemi Covid-19, sekitar 800 warga yang bergabung di Kampung Marketer dengan 220 klien.

Sejak awal, Nofi membayangkan Kampung Marketer sebagai social enterprise, alih-alih berusaha untuk menggaet sebanyak mungkin profit semata. Dia menyatakan, Kampung Marketer bertujuan untuk menciptakan tiga dampak sosial. Pertama, mengurangi pengangguran usia muda di desa. Kedua, mengurangi urbanisasi usia muda. Ketiga, menciptakan pengusaha muda desa di bidang teknologi. Usaha Nofi telah menampakkan hasil dan untuk terus memberi manfaat, Nofi membuka tempat pelatihan di Sleman. Kini Kampung Marketer telah berkembang menjadi startup dengan nama Komerce. Sekitar 500 warga bergabung sebagai tenaga customer service dan marketing di bawah manajemen Komerce dengan 220 klien yang berada di berbagai kota. Nofi juga membuka tempat pelatihan di Sleman, Yogyakarta. Tempat pelatihan di Sleman ini akan dijadikan role model untuk pelatihan di kota lain.

Jika di Purbalingga ada Kampung Marketer di Bondowoso, Jawa Timur ada Kampung Youtuber. Imam Januar adalah sosok di balik keberadaan Kampung Youtuber yang berada Dusun Posong, Desa Tapen, Kecamatan Tapen. Imam merintis menjadi youtuber sejak tahun 2017 didorong kondisi ekonominya saat itu. Profesi sebagai pramuniaga toko pakaian yang dijalani sejak tahun 2006 tidak dapat memcukupi kebutuhan ekonominya. Ia juga merasa jenuh dengan pekerjaannya itu. Di internet, Imam menemukan cara mendapatkan uang dengan menjadi youtuber. Ia bertanya pada orang yang telah menjadi youtuber namun tidak mendapat respon yang baik. Akhirnya Imam belajar sendiri dan sedikit demi sedikit akun youtubenya mampu menghasilkan uang.

Tidak ingin menikmati keberhasilan seorang diri, Imam membagi pengalamannya kepada orang lain. Awalnya malah para pemuda dari desa lain yang belajar padanya. Setelah melihat keberhasilan Imam, para pemuda di desanya juga tertarik. Kini sekitar 100 orang yang belajar menjadi youtuber pada Imam. Selain kegatan membuat konten yang positif, Imam juga mengajak para anak didiknya untuk berkegiatan sosial diantaranya bersih-bersih masjid dan berbagi sembako. Imam juga mendorong youtuber di desanya untuk memanfaatkan hasil dari youtube untuk berinvestasi. Kegiatan yang digagas Imam telah membawa perubahan positif di Desa Tapen.

Di Yogyakarta, ada cerita inspiratif dari sosok Aryo Pamungkas. Sejak kecil, Aryo suka menggambar. Hobinya itu terus berlanjut saat ia kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM). Ia kerap menerima order membuat desain-desain untuk berbagai kegiatan. Setelah lulus ia bekerja pada perusahaan yang membuat produk-produk dari desain digital. Ia juga secara mandiri membuat desain-desain untuk produk seperti kaos. Aryo pernah terlilit hutang dan setelah dapat mengatasi hutangnya, Aryo membuka usaha sendiri di bidang desain. Usaha yang dirintis sejak tahun 2011 dan diberi nama Slab Studio itu terus berkembang. Kini Slab Studio memiliki 6 studio yang berada di Yogyakarta dan Kebumen. Sebagai bentuk rasa syukur, Aryo memiliki sejumlah kegiatan sosial diantaranya menjadi mentor di Pondok IT yang berada di Yogyakarta. Aryo bersama teman-temannya mendirikan yayasan untuk memberikan pelatihan desain gratis bagi siapa yang ingin belajar. Ia juga mendirikan rumah tahfiz. Santrinya berasal dari berbagai daerah di Indonesia diantaranya dari Maluku dan Pontianak.***