PANGAN TERHORMAT

12 Oktober 2019 - 14.21 WIB

Tayang 21 Maret 2021

Pangan, selalu menjadi persoalan dunia. PBB memprediksi bahwa jumlah populasi dunia akan mencapai 9,6 miliar pada tahun 2050. Sumber pangan alternative menjadi penting untuk memenuhi kebutuhan makanan populasi yang terus meningkat.

Pada episode kali ini Kick Andy akan mengangkat cerita orang-orang yang mencoba untuk menciptakan sumber pangan mandiri atau kemandirian pangan, yang mereka mulai dari dirinya sendiri.

Pertama ada cerita dari perempuan asal Garut. Nissa bukan sosok asing di lingkungan gerakan agraria. Sejak 1994, saat masih lajang, ia aktif berorganisasi dan melakukan advokasi petani Jawa Barat. Hingga pada tahun 2008, Nissa meninggalkan Serikat Tani Pasundan dan memilih mendirikan sebuah pesantren bersama dengan suaminya, Ponpes Ekologi Ath-Thaariq.

Latar belakang keluarga menjadi modal mereka mendirikan Pesantren Ath Thaariq. Pesantren tersebut sejatinya adalah buah refleksi panjang atas apa yang mereka perjuangkan sebelumnya. Nissa melihat banyak petani terbelit kemiskinan, meski telah berhasil memiliki tanahnya kembali.

Tujuan dari didirikannya pesantren ekologi yakni sebagai pusat tersebarnya sistem pengetahuan pertanian berkelanjutan yang berpandangan pada penyelamatan dan kepedulian terhadap bumi, manusia dan masa depan. Serta menjadi contoh di Indonesia yang mampu mengeluarkan berbagai produksi pertanian tanpa merusak ekosistem yang ada, menjaga habitat, menjaga keanekahayati, memanen, dan memasarkannya dengan harga yang adil, sebagai bagian dari gerakan sosial, ekonomi dan ekologi yang berkeadilan.


Pesantren Ath Thaariq dirancang menjadi laboratorium mini yang bisa menjadi contoh bagi petani dan keluarganya untuk hidup sejahtera dan sehat. Sebab bagi Nissa, kunci kebahagian utama ada di keluarga, dan kesehatan berawal dari apa yang disajikan di meja makan. Demi membawa misinya, mereka membatasi jumlah santri menetap sesuai batas kemampuan produksi lahan. Sebanyak 30 santri yang mondok tak melulu diajari mengaji, tapi diajak bagaimana dekat dengan alam. Mereka wajib mengetahui cara memenuhi kebutuhan pangan dengan menggarap benih tanaman setempat yang ditanam secara organik.

Narasumber berikutnya adalah sang dukun singkong, Achmad Subagio. Sejak kecil Subagio yang lahir dan tumbuh di Kediri ini sudah akrab dengan singkong. Saat duduk di bangku sekolah, ia membantu keluarganya berjualan gethuk, makanan khas yang berbahan baku singkong.

Tahun 2004 Subagio bertekad untuk meneliti dan mengolah sumber pangan lokal, lalu pilihannya jatuh pada singkong. Penelitian tersebut juga didasari pada opini masyarakat bahwa singkong adalah makanan orang miskin. Opini tersebut diakui oleh Subagio, bahwa orang miskin memang banyak mengonsumsi singkong, karena ketersediaan singkong yang memang melimpah berdasarkan data yang ada. Dari sinilah Subagio ingin mengubah persepsi dan opini masyarakat, bahwa singkong bisa naik ‘kelas’ dan tidak hanya dijumpai dalam bentuk yang ada sekarang ini.

Subagio yang melanjutkan studi ilmu teknologi pangan ke Jepang, tepatnya di Universitas Perfektur Osaka ini menerapkan penelitiannya dalam memodifikasi singkong menjadi tepung yang kemudian disebut Mocaf (Modified Cassava Flour).

Singkong adalah pangan yang memiliki potensi namun termajinalkan, Subagio menyebutkan menurut statistic saat ini produksi nasional tapioka sekitar 3-4 juta ton dengan kebutuhan nasional 4-5 juta ton. Untuk mencukupi kekurangan tersebut, impor saat ini masih menjadi solusinya.

Dengan mengubah cara konsumsi, mendorong isu kesehatan, menjadikan teknologi sebagai alat untuk membuat produk lebih bervariatif harapannya masyarakat dapat mengonsumsi pangan yang ada diwilayahnya.

Terakhir, kita akan mendengar cerita dari seorang pakar perma kultur. Sudah hampir mustahil hidup tanpa ketergantungan dari industri pangan di era ini. Namun, hal itu berhasil dilakukan oleh Iskandar Wawo Runtu, seorang lulusan SMP yang menggantungkan hidupnya kepada alam.

Mempelajari ilmu perma kultur sejak tahun sembilan puluhan, membuat iskandar membawa kehidupannya kembali seperti masa dimana semua kebutuhan dapat dipenuhi oleh alam, terutama pangan .

Tahun 2006, Iskandar dan keluarganya memilih tinggal di lahan seluas 3 hektar, yang ia ubah menjadi hutan. Di lahan ini pula iskandar mendirikan warung Bumi Langit, dengan sajian makanan yang sepenuhnya dihasilkan dari pertanian di hutan tempat mereka tinggal. Tidak hanya itu , mereka juga menjual hasil olah produk pertanian yang sepenuhnya menggunakan bahan organik.

Ilmu yang membawanya kembali ke alam pun ia bagikan kepada mereka yang ingin belajar. dinamakan PDC (baca: pi di si) atau permaculture design course. Kelas yang berlangsung selama dua minggu ini mengajarkan tata cara perma kultur secara teknis dari konsep hingga pelatihan praktik untuk memahami ilmu permakultur agar dapat diterapkan di dalam kehidupan masing-masing. Setiap peserta akan mendapatkan sertifikat resmi yang dapat mereka gunakan saat membangun konsep perma kultur secara legal di tempat-tempat umum.

Membawa manusia kembali menyatu dengan alam adalah impian utama Iskandar. Ia dan keluarganya berharap , semakin banyak masyarakat yang sadar akan keseimbangan alam dan membawa mereka kembali mengambil manfaat alam sesuai dengan kebutuhannya.