PANDEMI KETULUSAN

12 Oktober 2019 - 14.21 WIB

Sampai hari ini kita tidak tahu sampai kapan Pandemi Covid ini akan berakhir. Kita juga tidak tahu pengusaha kecil yang terdampak. Tetapi apakah kemudian kita putus asa? Menyerah?. Tidak punya semangat untuk bangkit?

Nah, agar kita tetap semangat, terutama bagi anda yang usahanya terdampak oleh Pandemi Covid, hari ini saya mengundang beberapa pengusaha mikro, yang tetap semangat untuk bangkit walau badai covid menerjang. Siapa saja mereka ?


Yang pertama ialah Dede Koswara akrab dipanggil dede regge, petani milenial kelahiran 1989 adalah anak seorang petani,sehingga dari kecil sudah terbiasa hidup dilingkungan petani dan pertanian khususnya bertani labu acar, sejak lulus STM Tahun 2008 merintis sebagai supir pengangkut sayur, dan belajar membina petani 15- 25 orang melanjutkan jejak orang tua. walaupun jatuh bangun dalan usaha namun dede regge tetap semangat dan merasa tertantang untuk membuka pasar baru diwilayah tangerang yang saat itu memiliki peluang besar untuk pemasaran komoditas labu acar.

Dengan berbekal keyakinan, ketekunan, dan kerjakeras, dede regge mampu membuka lapangan pekerjaan dan merangkul petani muda disekitar untuk menjadi petani labu sehingga tahun 2016 anggota petani labu mulai bertambah dan hasil tani labu acar meningkat menjadi 7 - 10 ton dengan omset per hari 10 sd 30 juta. Selanjutnya dengan bertambahnya anggota petani muda hingga saat ini 2.100 petani yang tergabung dalam Gapoktan Regge Generation, dengan luas lahan garap + 350 ha menghasilkan labu acar 20 sd 60 ton per hari dengan omset 50 sd 120 jt per hari. Pemasaran saat ini : selain di pasar dibandung juga Pasar Kemang -Tangerang , Pasar tanah tinggi dan Pasar Cibitung.

Dede Regge menerapkan budaya menabung ( sistem kas) kepada anggota petani mitra kerjanya sebesar Rp.100,- dari setiap kilogram labu acar yg dijual kepasar, dengan tujuan untuk subsidi harga bilamana harga labu dipasar mengalami penurunan , selain itu dana tersebut selain bisa dinikmati untuk kegiatan kelompok : seperti pelatihan, rekreasi anggota ( 2019 seluruh anggota rekreasi dan baksos ke daerah pangandaran), dan tahun 2020 dana tersebut dialokasikan untuk kegiatan sosial tepatnya pada tanggal 29 Juli sd 01 Agustus 2020 melakukan khitanan masal dan pemotongan hewan qurban. Selain merangkul petani mud dede regge menginisiasi para istri petani yang diketuai oleh ny. Nita - istri sdr. Dede Regge melakukan pemberdayaan wanita ( saat ini terdiri dari 10 orang istri petani) melakukan kegiatan home industri membuat olahan seblak dan macaroni, rencana selanjutnya ingin mengembangkan olahan turunan dari labu seperti manisan labu.

Yang kedua adalah H Asmarudin yang akrab disapa Damo merupakan warga asli Kecamatan Parung. Dulunya, dia juga pedagang ikan dan mantan ketua RT di Kampung Jati. Pada 2005, Damo menampung seluruh pedagang yang 60 persennya merupakan warga setempat, untuk mendirikan sebuah pasar milik pribadi yang bernama ’Pasar Ikan Hias Parung’. Pasar ini memiliki luas sebesar 800 meter persegi yang pada awal pendiriannya pun dijalankan dengan sistem retribusi sebe­sar Rp2.000 per hari untuk biaya pembangunaan bale.

”Pasar Ikan Hias Parung bisa membangkitkan tingkat ekonomi warga di sini, alasannya karena di pasar ini terdapat banyak pedagang kecil, jasa layanan parkir, jasa toilet, lapak sewa, ojek, juru angkut barang, mobil angkutan dan efek lain­nya yang bisa menjadi magnet ekonomi untuk memperbaiki perekonomian setempat,” tuturnya. Damo juga mendirikan Koperasi Perhimpunan Pedagang Ikan Hias Parung (KPPIH). Harapannya bisa jadi kekua­tan dan penggerak ekonomi masyarakatnya sendiri dalam menciptakan lapangan kerja. Koperasi ini didirikan pada 2016 dengan modal awal sebesar Rp15 juta.

Saat ini, Pasar Ikan Hias Parung yang berada dibawah naungan Koperasi KPPIH memiliki jum­lah pedagang sebesar 400 orang dengan jumlah lapak 270. Dalam sepekan, pasar ikan hias ini hanya buka tiga hari yakni, Senin, Kamis, dan Sabtu.Ada­pun pasar ini mulai dibuka pada pukul 12:00 WIB sampai dengan pukul 18:00 WIB. ”Pengunjung yang berdatangan ke sini yah gak cuma warga Parung, ada juga yang berasal dari dae­rah jauh seperti Bandung, Lampung, maupun Bengkulu,” katanya.Untuk pendistribusiannya, ikan hias yang berasal dari Pa­sar Ikan Hias Parung ini telah merambah ke mancanegara seperti Malaysia, China (Tiongkok), Jepang, dan Filipina. ”Total perputaran uang yang dihasilkan oleh pasar ini bisa mencapai Rp5 miliar setiap harinya,” pungkasnya

Lalu yang ketiga adalah Jufri Nas merupakan pimpinan pengelola gedung Pasar Dinoyo menceritakan bahwa menjungung pasar sejak pandemi Covid-19 menurun hingga 80-90%. “Tidak ada pengunjung. Kami pun berpikir kalau efeknya nanti ke pedagang dan juga petani,” ujar Jufri yang mencatat jumlah pedagang yang menempati area pasar mencapai 710 pedagang dengan 1588 kios dan los. “Bayangkan jika pasar sepi hingga 80-90%, dengan jumlah pedagang yang banyak.

Pengelola pasar pun memikirkan formula supaya pasar tetap hidup dan kembali berjalan normal, sehingga menguntungkan pihak pedagang, petani, dan juga pembeli. Ide untuk lakukan transaksi online dan layanan antar pun saat ini menjadi solusi untuk kembali menghidupkan pasar dan bahkan memberikan peluang pada beberapa profesi sekitar pasar, seperti tukang ojek.


Upaya untuk memulai transaksi online dan membuka layanan antar pun menurut Jufri memiliki syarat, seperti aplikasi yang digunakan harus mudah supaya memudahkan pedagang dan konsumen, cara pedagang merespon dan melakukan komunikasi, memberi tahu masyarakat bahwa pasar rakyat memiliki layanan tersebut, dan transaksi online memudahkan pembayaran

Dan yang terakhir adalah Supari sejak kecil tinggal di sebuah desa di Jawa Timur. Ia besar dari keluarga sederhana, ayahnya adalah seorang petani dan ibunya adalah seorang pedagang kecil. Sejak keals 5 SD sering memandikan kerbau dan memberi makan kerbau, Supari kecil juga sudah ikut bekerja bersama orangtua di pabrik gula sambil pelihara ternak. Dari sanalah ia mendapatkan nilai-nilai dari kedua orangtuanya.

Salah satu prinsip Supari dalam bekerja adalah “Kurangi yang berlebihan, tambah yang kurang, hapus yang tidak perlu, terus tambah nilai,”. Bagi Supari prinsip tersebut adalah dasar dari sebuah inovasi. Menjadi diri sendiri sangat penting bagi Supari, meski karirnya terus meningkat dari staf hingga direktur tidak mengubah sifat asli seorang Supari.