PAHLAWAN KEMAJUAN KELUARGA

TAYANG 13 FEBRUARI 2022 PKL 19.05 WIB

Dalam episode Pahlawan Kemajuan Keluarga ini, Kick Andy akan mengajak pemirsa untuk mendengarkan cerita tentang pahlawan keluarga yang telah berjuang untuk kemajuan keluarganya namun juga memberikan manfaat bagi banyak orang.

Ponijo Seorang Difabel yang merupakan pahlawan bagi anak-anak yang kekurangan nutrisi di Bantul Yogyakarta.Sehari-hari, Ponijo berjualan koran & kanebo di Perempatan Klodran, Bantul, Yogyokarta Sesungguhnya, dia bukan penjual koran biasa, karena hasil penjualan koran itu digunakan untuk terapi putrinya. Selain itu, uang lainnya disisihkan untuk membeli sembako, susu bagi anak-anak dhuafa dan kurang nutrisi yang tinggal di sekitar rumahnya. Padahal sejak kecil, dia memiliki kondisi fisik yang kurang sempurna. Dengan keuntungan Rp1.000 per buah, tiap hari dia bisa menjual 13-14 kanebo. Sementara dia bisa membawa uang Rp20 ribu sehari dari berjualan koran. Keuntungan sebanyak Rp2.000-3.000, ia sisihkan untuk terapi anaknya yang berusia 6 tahun. Tulang putrinya mengalami pembengkokan dan tak bisa tumbuh normal. Sedangkan sebagian keuntungan itu ia sisihkan untuk makan dan sebagian lagi ia belikan sembako, susu bagi para anak-anak dhuafa di sekitarnya yang kekurangan gizi. Ponijo tergerak hatinya untuk membantu anak-anak duafa yang kekurangan nutrisi berawal dari kepergian anak pertamanya karena kekurangan nutrisi saat bayi. Peristiwa itu membuatnya merasa sangat bersalah. Apalagi orang sekitar menganggap dia tak bisa mengurus keluarganya. Sejak saat itu, Pak Panijo berjanji akan merawat putrinya sepenuh hati dan berbagi ke anak-anak dhuafa lainnya yang kekurangan gizi (sejak tahun 2017), agar mereka tidak bernasib sama dengan anaknya. Dan hingga saat ini Ponijo masih melakukan kegiatan sosialnya sambil jualan Koran dan kanebo untuk menghidupi keluarganya.


Berikutnya yaitu Musodikun Petani organik & peternak sapi yang berhasil mengolah limbah sapi menjadi peluang usaha. Musodikun peternak sapi dan petani organik sekaligus orang yang berhasil memanfaatkan limbah sapi bernilai rupiah. Bahkan Musodikun dapat mensejahterakan hidup keluarganya dan masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Memanfaatkan limbah kotoran sapi berawal dari peternakan sapi yang dimilikinya. Dimana Musodikun menghadapi masalah melimpahnya kotoran sapi di sekitar rumahnya yang mengganggu kesehatan keluarganya karena menjadi sumber penyakit. Dari situlah Musodikun secara aktif mengikuti kegiatan dan pembinaan dari BPTP Kalimantan Selatan, salah satunya inovasi teknologi pengolahan limbah kotoran sapi. Teknologi yang dilakukan Musodikun tak hanya baik bagi lingkungan keluarganya tapi juga dijadikan peluang usaha, karena dari pengolahan limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik ini, Musodikun bisa hidup sejahtera. Dari limbah sapi ini Musodikun berhasil menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi, bahkan rumahnya yang dulu terbuat dari kayu sekarang sudah di beton. Setelah melihat keberhasilannya, kini banyak petani dan petenak sapi di desanya Desa Danda Jaya Kabupaten Barito Kuala, Kalsel yang juga berhasil menerapkan pengolahan limbah sapi & pertanian organik atas edukasi yang dilakukan Musodikun. Tak hanya lingkungannya menjadi sehat tapi juga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat desa.

 

 

Mita Kopiyah peternak sapi perah binaan frisian flag Indonesia. Mita Kopiyah memulai karirnya dalam dunia peternakan sapi perah sejak tahun 2005. Dia melanjutkan Profesi peternak dari keluarganya. Namun, orang tua Mita berkecimpung dalam peternakan sapi potong. Keinginan mengubah haluan dari peternak sapi potong ke peternak sapi perah dimulai ketika dia dan suaminya melihat saudara dan tetangga yang lebih dulu menjadi peternak sapi perah. Awalanya modal membeli sapi perah didapatkannya dari memelihara sapi perah milik orang lain dengan system bagi hasil. Perlahan, pendapatan dari sitem tersebut mampu membeli satu sapi sendiri. Hingga saat ini, Mita dan suaminya sudah mempunyai 15 sapi perah dengan produksi sekitar 75 liter/hari. Pada 2018, Mita resmi bergabung sebagai peternak binaan Frisian Flag Indonesia (FFI) melalui Koperasi Bangun Lestari, dengan mengikuti program Farmer2Farmer. Pada tahun berikutnya (2019), dirinya terpilih menjadi salah satu dari 4 peternak yang diberangkatkan ke Belanda dalam naungan program tersebut selama dua pekan untuk mengikuti berbagai pelatihan langsung dengan peternak Belanda. Kini Mita telah sukses menjadi peternak sapi perah dan otomatis kehidupan keluarga Mita menjadi sejahtera. Menariknya Kisah Mita Kopiyah ini pun dibuatlkan film pendeknya oleh Frisan Flag Indonesia.


Oleh sebab itu turut hadir sebagai narasumber Nia Dinata sutradara ternama Indonesia yang memfilmkan Kisah hidup Mita Kopiyah dalam bentuk film pendek dengan durasi 4 menit. Nia Dinata tertarik membuatkan film pendek Mita Kopiyah karena dalam diri Mita Kopiyah memiliki nilai-nilai progressive sebagai sosok peternak perempuan yang punya mindset hidup maju untuk kesejahteraan keluarganya. Frisan Flag Indonesia mengajak Nia Dinata karena dianggap sosok sutradara perempuan Indonesia yang juga kerap menyuarakan nilai-nilai positif ke masyarakat Indonesia melalui karya-karyanya. Hal itu disampaikan langsung oleh Felicia Julian perwakilan dari Frisan Flag Indonesia yang turut hadir sebagai narasumber dalam episode Pahlawan kemajuan Keluarga ini.


Felicia Julian turut pula menjelaskan dalam kaitannya ulang tahun ke-100, Frisan Flag Indonesai membuka peluang bagi masyarakat Indonesia untuk mengusulkan pahlawan Kemajuan keluarganya versinya masing-masing yang ditemukan di sekitar tempat tinggalnya. Cerita mengenai sosok tersebut bisa langsung di email ke kickandy.pahlawankeluarga@metrotvnews.com . Sesuai ulang tahun yang ke 100, maka Frisan Flag mencari cerita sebanyak 100 sosok pahlawan kemajuan keluarga dan bagi yang terpilih nantinya akan mendapatkan penghargaan Arkatama Award.


(end)