PAHLAWAN BUMI

12 Oktober 2019 - 14.21 WIB

ON AIR MINGGU, 21 FEBRUARI 2021 PKL 19.05 WIB

Dalam rangka hari peduli sampah nasional, Kick Andy mengangkat cerita orang-orang yang peduli terhadap lingkungan terutama masalah sampah yang telah mencemari lingkungan. Cintanya pada lingkungan diwujudkan dengan aksi nyata yang mereka lakukan, mulai dari berkampanye melalu film documenter hingga memilih sampah organik dan anorganik serta mengolah sampah menjadi bernilai secara ekonomi.

Narasumber yang pertama yaitu I Gede Robi Supriyanto atau lebih dikenal dengan sebutan Robi Navicula. Memulai dari diri sendiri, itu lah yang Robi lakukan sebagai wujud cintanya dari lingkungan, seperti menyaring air abu ibadah dengan penyaring air sederhana (waste water garden) supaya tidak mencemari sungai atau selokan depan rumah. Mengolah sampah organik dan meminimalisasi penggunakan bungkus plastic. Robi menganggap alam telah memberikan segalanya, sehingga tidak sepatutnya dirusak dengan penggunaan sampah plastic yang berlebihan. Peduli dengan isu lingkungan telah dilakoni Robi sejak 15 tahun lalu. Robi bersama dengan band-nya, Navicula, memutuskan bermusik dan berkarya dalam tema lingkungan. Berita tentang Indonesia sebagai penghasil sampah plastik di lautan terbanyak ke dua di dunia menjadi pemicu Robi untuk semakin peduli dan melakukan edukasi tentang pengelolaan sampah kepada masyarakat, khususnya di Bali. Kecintaan dan kepedulian Robi terhadap lingkungan mendorongnya untuk membuat sebuah film dokumenter bertajuk “Pulau Plastik”. Robi bercerita bahwa saat ini film dokumenter yang khusus membahas isu lingkungan nyaris tidak ada, padahal isu lingkungan di Indonesia sudah sangat krusial. Lebih lanjut Robi menjelaskan walaupun film ini menceritakan Bali tapi topik yang dibicarakan mencakup isu nasional dan relevan pula dengan isu global. Isu ini adalah masalah pencemaran sampah di laut Indonesia dan Indonesia kini diklaim sebagai penyumbang sampah plastik tertinggi ke dua di dunia. Robi berharap film ini nantinya bisa menumbuhkan kepedulian masyarakat akan lingkungan karena segala kegiatan yang dilakukan oleh manusia menyangkut isu lingkungan.

Berikutnya yaitu Founder Magalarva Rendria Labde. Magalarva merupakan sebuah startup yang berfokus pada bisnispengolahan sampah organik yang menggunakan bantuan larva Black Soldier Fly atau disingkat BSF yang mampu mengkonsumsi sampah organik hingga empat kali lipat berat badannya. Setelah larva dewasa, Magalarva akan mengeringkan dan menjualnya sebagai produk pakan ternak premium. Bahkan Kotoran BSF juga bisa menjadi pupuk alami. Sebelum terjun ke bisnis ini, pemuda 29 tahun ini pernah merasakan enak dengan berbisnis porperti, namun ia tinggalkan karena merasa tidak mendapatkan nilai yang ia inginkan. Titik baliknya terjadi pada 2016 ketika ia mencoba mengikuti sebuah kegiatan pertanian berkelanjutan di Salatiga, Jawa Tengah. Ingin mencari nilai pada hidupnya yang memiliki dampak. Rendria yang cukup peduli dengan lingkungan ini mencari tahu dampak apa yang ingin ia datangkan. Sempet ingin ikut terjun ke sampah plastik, namun Rendria merasa banyak yang jago. Rendria akhirnya melakukan riset tentang sampah dan ingin membuat perubahan di sector tersebut. Riset jurnal telah ia lakukan, berangkat dari permasalah sampah organik yang tidak terurus dengan baik dan bahkan tercampur dengan sampah non-organik. Rendria menyebutkan 70% sampah organik berakhir di TPA, dan hal tersebut menjadi masalah besar di kemudian hari. Ketika melihat TPA Bantar Gebang yang menerima kiriman sampah sebanyak 7000 ton setiap harinya, ia pun resah dan terus berpikir kala itu. Dari masalah sampah organik yang terus berakhir di TPA, Rendria memilih larva BSF untuk mengurai sampah organik. Selain memiliki kemampuan pengurai sampah organik tercepat, larva BSF kaya akan nutrisi seperti protein, asam lemak, vitamin, dan mineral yang dapat dijadikan sebagai alternatif keberlanjutan untuk mengatasi kelangkaan protein di masa depan. Kini pasar Magalarva telah masuk ke pasar nasional dan internasional.

Terakhir yaitu Adi Saifullah Putra, pendiri startup mall sampah yang berbasis di kota Makassar, Sulawesi Selatan. Mudahnya masyarakat mengakses berbagai layanan yang dibutuhkan dengan hanya bermodalkan ponsel pintar, Adi, pemuda 26 tahun ini yang membuat aplikasi mudah membuang sampah. Jika kehadiran aplikasi ojek online dapat mempermudah calon penumpang mendapatkan pengemudi ojek untuk pergi ke suatu tempat, layanan semacam ini menjadi inspirasi Adi membuat solusi membuang sampah. Ia memberi nama aplikasi tersebut dengan nama Mall Sampah. Sebuah aplikasi yang dapat diunduh di ponsel pintar yang fokus pada jual beli sampah secara online. Nilai rupiah yang didapat oleh sekitar 2000-3000 rupiah setiap kilogramnya. Rintisan bisnis startup lokal telah menginspirasi Adi untuk “mengawinkan” ide pengelolaan sampah berbasis pengepul lokal dengan teknologi. Mall Sampah berdiri pertama kali pada tahun 2015, tepatnya pada bulan september 2015. Namun perusahaan startup ini baru berbadan hukum secara resmi pada tahun 2017 dengan nama PT Mall Sampah Indonesia. Sebagai layanan pengelola sampah online untuk rumah tangga dan kantor, Mall Sampah menghubungkan pengguna dengan pengepul, pemulung dan unit-unit pengelola sampah terdekat agar lebih mudah menjual dan mendaur ulang sampah. Layanan Mall Sampah gratis digunakan oleh siapa saja. Aplikasi ini dinyatakan bukan perusahaan layanan penjemputan sampah tetapi menawarkan nilai yang lebih dari itu, misalnya sampah yang di jemput oleh mitra mereka, seluruhnya akan di daur ulang dan tidak di buang ke TPA. Adapun visi dari Mall Sampah yaitu untuk meningkatkan angka daur ulang sampah nasional dan menyejahterakan pengepul lokal. Sedangkan untuk misinya, Mall Sampah ingin meningkatkan angka daur ulang sampah dari 10% mejadi 40% pada tahun 2027. Dengan adanya aplikasi pengelolaan sampah secara online, Adi berharap Mall Sampah dapat berkontribusi dalam mengatasi polusi melalui peningkatan angka daur ulang yang mudah, cepat dan gratis, dapat dijangkau oleh siapa saja sehingga mengurangi jumlah terbuangnya sampah ke TPA.