NIAT JADI AKSI

12 Oktober 2019 - 14.21 WIB

Saya tidak bosan – bosan mengingatkan siapa pun bahwa hidup iti Cuma sekali.. karena itu kita harus berarti. Isi hidupmu yang Cuma sekali itu dengan sesuatu yang bermakna. Tapi, sayangnya banyak orang yang tidak tahu bagaimana cara mengisi hidup yang Cuma sekali itu dengan kegiatan yang bermakna.

Karena itu, hari ini saya mengundang tiga anak muda yang sudah mengisi hidup mereka dengan sesuatu yang bermakna. Semoga kita semua dapat belajar dengan apa yang mereka lakukan.

Yang pertama adalah Muhammad Rubby Emir Fahriza ia menjembatani pekerja disabilitas dan perusahaan melalui aplikasi yang ia buat bernama kerjabilitas.com. Karena sulitnya penyandang disabilitas mengakses pekerjaan formal memantik kegelisahan Muhammad Rubby Emir Fahriza. Ia ingin memberikan kesempatan yang sama bagi disabilitas bekerja di perusahaan formal. Ditambah lagi, pria yang akrab disapa Ruby ini kerap berinteraksi dengan disabilitas sehingga ia terinspirasi membantu mereka.


platform ini memberikan akses informasi lowongan pekerjaan bagi penyandang disabilitas. Seiring perjalanan waktu, ia menemukan berbagai masalah yang dihadapi para penyandang disabilitas. "Bukan hanya informasinya, melainkan pekerjaannya (difabel) masih terbatas. Mau tidak mau kita bergerak mengampanyekan supaya penyedia kerja, baik swasta, pemerintah, maupun UKM membuka kesempatan kerja yang setara buat penyandang difabel. Saat ini kerjabilitas sudah bekerja sama dengan 1.500 perusahaan lokal, BUMN, dan multinasional dan telah mempekerjakan hampir 8.000 difabel.


Lalu yang kedua adalah Dedhy Trunoyudho seorang founder, Garda pangan bermula dari pengalamannya Dedhy Trunoyudho yang berlatar belakang pengusaha katering pernikahan, yang seringkali menghadapi masalah pembuangan makanan tiap pekannya. Dari sudut pandang bisnis, membuang makanan menjadi pilihan ideal karena cepat, murah, dan praktis untuk dilakukan.

Kebiasaan tersebut dicermati oleh Indah Audivtia, istri Dedhy yang melihat pembuangan makanan ini sebagai hal yang menyesakkan dan mengganggu. Kegelisahan itulah yang akhirnya menggerakkan mereka berdua untuk melakukan sesuatu, yaitu mendonasikan makanan berlebih. Dengan menginisiasi gerakan food bank di Surabaya dengan nama Garda Pangan. Garda Pangan adalah startup bidang sosial yang ingin menyelesaikan permasalahan “food waste” di wilayah Surabaya. Solusi yang dihadirkan memanfaatkan teknologi untuk dapat terhubung dengan industri terkait – seperti perhotelan, restoran dll—yang acap kali memiliki sisa makanan berlebih. Visi utama Garda Pangan ialah menghadirkan “sustainable and responsible food waste management”

Dan yang terakhir adalah Peter Shearer Setiawan dia adalah pendiri dari startup yang diberi nama wahyoo. Citra warung makan yang masih dianggap urakan menjadi masalah, terlebih di tengah menjamurnya usaha ritel dan rumah makan modern yang sudah terdigitalisasi. Bukan tidak mungkin, warung-warung makan tradisional akan tersisih dan punah. Hal tersebut yang melatarbelakangi didirikannya Wahyoo, perusahaan sosial digital yang melibatkan pengusaha warung makan, pedagang asongan, pemilik produk serta konsumen

Wahyoo membantu para pelaku usaha warung makan, mulai standardisasi pelayanan, membantu promosi dan memperhatikan keperluan para pemilik warung. "Dekorasi, pelatihan, pemodalan, penyediaan barang, hingga pengiriman barang gratis adalah sederet keuntungan yang diberikan Wahyoo. Wahyoo pun tak hanya bergerak untuk warteg saja, mereka juga turut membantu bisnis lainnya, seperti warung ayam bakar, nasi uduk, bakso, warung padang atau warung lainnya yang sifatnya tradisional.

Saat ini Wahyoo sudah beredar di Jabodetabek dan memiliki 16.000 mitra. Dan sudah bantu 200 warung untuk new normal warung yang pakai sekat selama pandemi, selain itu wahyoo juga tergerak melakukan kegiatan social yang diberi nama Rantang Berbagi. Warteg yang sudah bergabung dengan Wahyoo akan mendapatkan P3K atau pelatihan, pembimbingan, pendapatan dan kemudahan.