MUDA YANG BERDAYA

12 Oktober 2019 - 14.21 WIB

Episode Kick Andy kali ini akan bercerita tentang anak muda, yang mampu membuka lapangan kerja dengan berwirausaha. Mereka memiliki pilihan untuk hidup sejahtera dengan mencari keuntungan sebesar-besarnya, namun mereka memilih untuk berbagi, dengan memberdayakan masyarakat di lingkungan mereka.

Apa yang telah mereka lakukan pun berbuah manis. Produk mereka mampu menembus pasar global, dan kesejahteraan para mitra mereka pun meningkat. Tidak hanya itu, apa yang mereka lakukan juga memiliki tujuan lebih jauh, yakni menjaga kelestarian alam.

Cerita pertama datang dari Randi Julian Miranda. Usia muda dan berpendidikan tinggi, namun memilih untuk kembali ke desa. Lahir dari anak seorang petani, tidak menyurutkan keinginan randi bisa menuntut ilmu yang tinggi.

Pada tahun 2018 Randi mendirikan Handep, sebuah bisnis yang bertujuan untuk pembangunan desa dengan kearifan lokal yang berkelanjutan. Randi melihat potensi rotan yang melimpah di Kalimantan. Bersama warga desa, Handep mengolah anyaman rotan untuk dijadikan produk fashion, seperti tas, topi, dan aksesoris lainnya.

Selain produk fashion, handep juga mengembangkan produk dekorasi rumah, dan hasil pertanian organik seperti, beras dan madu hutan. Dalam bisnisnya handep mengedepankan prinsip penciptaan nilai tambah, kemitraan yang adil, dan peningkatan kapasitas, yang berguna untuk mensejahterakan masyarakat desa.

Memiliki kualitas yang bagus, dalam kurun waktu 2 tahun, produk Handep sudah dikenal setanah air, bahkan sampai ke mancanegara. Bagi Randi, tidak semata mata mementingkan keuntungan finansial, tapi juga menghargai manusia, lingkungan, dan tradisi.

Cerita berikutnya dari anak muda asal Lombok, NTB. I wayan juliantara dan kris ayu madina, sosok dibalik gumi bamboo, sebuah usaha sosial dan platform penyedia produk ramah lingkungan. Gumi bamboo bertujuan memberikan solusi bijak bagi kehidupan manusia, terutama dalam konsumsi dan produksi sehari hari.

Gumi bamboo memanfaatkan tanaman bambu untuk membuat produk produk inovatif seperti sedotan bambu, alat makan bambu , sikat gigi, dan alat kebutuhan sehari hari lainnya. Melalui produknya, gumi bamboo ingin turut serta memberikan dampak bagi lingkungan, dengan mengurangi penggunaan plastik.

Di desa Karang Sidemen, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Juli dan Ayu melihat banyak ibu ibu bekerja sebagai penambang batu. Dari sinilah timbul keinginan untuk memberikan alternatif mata pencharian yang lebih baik.

Secara rutin Juli dan Ayu memberikan pelatihan dan edukasi kepada ibu ibu setempat, dan akhirnya sebagian dari mereka pun mulai beralih profesi. Saat ini, sudah ada 49 orang menjadi pengrajin bambu di Gumi Bamboo.

Sejak 2017 hingga sekarang, Gumi Bamboo berkembang pesat, produknya seperti sedotan bambu, sudah di eskpor ke berbagai negara di Eropa, Amerika, dan Australia. Gumi Bamboo ingin terus membangun kemandirian masyarakat secara ekonomi, serta berperan dalam memerangi masalah lingkungan.

Terakhir, ada cerita dari pemudi asal Pasuruan Jawa Timur. Melie Indarto adalah pendiri dari Kaind, merek tekstil tenun Indonesia yang bertekad melestarikan Batik Pasuruan. Cerita Melie dimulai saat ia kembali ke kampungnya, setelah lima tahun bekerja di industri fashion di Jakarta. Saat itu, Melie menemukan bahwa hanya tersisa tiga orang pengrajin batik senior, dan tidak ada lagi petani ulat sutera.

Upayanya untuk menyelamatkan pengrajin dan produk asli Purwosari, Pasuruan ini dimulai dengan membangun sebuah komunitas kecil. Melie memberikan ruang kepada para pengrajin senior yang tersisa untuk mewariskan teknik membatik kepada anak-anak muda di Pasuruan.

Selain itu, melie juga menghidupkan kembali budidaya ulat sutera. Ia memberikan pendampingan kepada warga, mulai dari pembenihan, hingga pemasaran hasil panennya. Mengangkat konsep Slow Fashion, KaInd memproduksi beragam produk fashion yang sangat konsen pada kualitas. Seperti pakaian, aksesoris , kain tenun , hingga batik tulis. Saat ini kaind mampu memberdayakan 25 pengrajin batik dan 250 petani ulat sutera di wilayah Pasuruan, Jawa Timur.