MENUJU JALAN TUHAN

12 Oktober 2019 - 14.21 WIB

Tayang Minggu 07/02/2021 Pkl.19.05 wib

Banyak cara untuk menyampaikan hal – hal baik atau perbuatan baik dengan caranya masing – masing, narasumber kali ini adalah mereka yang menyampaikan hal – hal baik dengan cara yang unik atau tidak biasa.Seperti apa caranya dan apa yang mereka lakukan ?


Yang pertama adalah Miftah Maulana Habiburrahman atau lebih dikenal dengan Gus Miftah. Perjalanan dakwah Gus Miftah dimulai saat usianya masih 21 tahun. Pada sekitar tahun 2000-an, Gus Miftah juga dikenal sebagai ulama muda Nahdlatul 'Ulamayang fokus berdakwah bagi kaum marjinal, baik melalui dakwah di dalam maupun di luar pesantren. Namanya mulai diperbincangkan publik ketika video dirinya viral saat memberikan pengajian di salah satu kelab malam.Bermula dari kegiatan tersebut, kajian agama mulai rutin digelar oleh Gus Miftah. Meski awalnya banyak tantangan, tapi saat ini sejumlah pekerja dunia malam sudah menerima kehadirannya. Tidak jarang, ketika pengajian sejumlah jemaah meneteskan air mata dan mulai merubah perilakunya secara perlahan.


Perjalanan dakwah Gus Miftah ke tempat – tempat prostitusi, kelab- kelab malam sudah berlangsung belasan tahun lamanya. Awalnya, ia masuk lantaran mendapati keluh kesah para pekerja dunia malam yang kesulitan mendapat akses kajian agama. Ketika hendak mengaji di luar mereka mengaku menjadi bahan pergunjingan. Sebaliknya di tempat kerjanya tidak ada kajian agama yang bisa didapatkan. Berbeda dengan dulu saat mendapat penolakan ketika hendak memberi kajian, kini banyak pekerja malam yang merasa butuh untuk mendapat pengajian. Tidak jarang beberapa banyak pekerja malam kemudian berhijrah menjadi lebih baik.


Selain itu Gus Miftah juga mendirikan pondok pesantren yang diberi nama Ora Aji, Para santri ini berasal dari seluruh Indonesia dan gratis. Sebagian dari sanrti ini adalah para penyandang masalah sosial seperti mantan preman, mantan narapidana, mantan pegawai salon plus-plus dan mantan pegawai tempat hiburan malam serta kaum marginal lain dan juga mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta


Dan narsum yang berikutnya Karina De Vega atau yang akrab disapa Rina, ia adalah seorang pembimbing rohani yang sering memberikan bimbingan rohani kepada para terpidana di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah selama belasan tahun lamanya. Meski demikian, Rina menempatkan diri bukan sebagai pendeta, tapi sebagai kakak dan ibu ketika bertemu para terpidana. Karena menurut Rina, selama belasan tahun di penjara, mereka berperilaku baik. Bahkan para terpidana mati, mereka selalu hadir setiap ada pelayanan rohani. Rina mengaku sejumlah terdakwa menyampaikan beberapa pesan kepadanya jika nanti eksekusi mati telah dilaksanakan.


Rina juga mengaku, sebelum akhirnya dieksekusi mati, para terdakwa melewati hari-hari yang sulit saat berada di penjara karena mereka telah menyandang status terpidana mati. Sudah banyak para terpidana mati yang telah dituntunnya untuk kembali ke jalan yang benar sebelum hari eksekusi tiba.


Selain itu Rina juga mendirikan panti asuhan yang diberi nama Gita Eklesia. Panti asuhan ini berisi anak-anak dari bermacam-macam latar belakang, ada anak-anak jalanan, anak korban konflik Ambon, anak korban tsunami banyak cerita di masa lalu anak-anak tersebut Hal itulah yang menumbuhkan semangat Rina untuk memberikan cinta kasih sepenuhnya untuk anak asuhnya dengan harapan anak-anak itu tidak lagi memendam trauma berkepanjangan, minder bertemu orang lain atau terpuruk dan miskin prestasi.Dan selain itu Rina juga aktif di berbagai kegiatan sosial.