MENEMBUS BATAS RUANG DAN WAKTU

TAYANG MINGGU, 12 DESEMBER PKL 19.05 WIB


Kehadiran internet khususnya di daerah-daerah membuka peluang usaha dan mempermudah masyarakat melakukan berbagai aktifitas. Keberadaan jaringan internet dimanfaatkan Saipul Usman dengan membuat aplikasi Draiv, sebuah aplikasi ojek online di Banggai, Sulawesi Tengah. Draiv dirilis pada awal Januari 2020, sebelum wabah virus covid-19 menyerang Indonesia. Pandemi covid-19 mendorong semua orang mengandalkan jaringan internet untuk mempermudah aktivitas sehari-hari. Beruntung, jaringan internet cukup lancar di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Ketersediaan jaringan internet membantu masyarakat dalam beraktifitas dan kehadiran Draiv membantu aktifitas warga.

Saat ini, Draiv sudah digunakan di 22 kota/kabupaten. Draiv menggandeng ratusan pengemudi motor dan puluhan pengemudi mobil. Draiv membuka lapangan kerja baru, sekaligus menjadi pilihan transportasi alternatif. Selain menyediakan jasa layanan antar, Draiv juga mendukung layanan pesan makanan dan antar barang. Opsi pelayanan ini mendukung penerapan protokol kesehatan, yaitu setiap orang dianjurkan untuk membatasi aktifitas. Draiv juga memberi manfaat pada para mitra diantaranya pelaku usaha kuliner. Selain itu, dari Draiv pengguna bisa bersedekah karena terdapat pilihannya. Setiap bulan, Draiv mendata masjid yang sedang dibangun. Lalu dilibatkan customer untuk membantu proses pembangunannya. Selain masjid, terdapat pilihan sumbangan untuk panti asuhan dan masyarakat yang kekurangan biaya untuk pengobatan.


Kehadiran internet juga dimanfaatkan Simon Tabuni untuk membuka usaha. Pemuda 31 tahun ini, mendirikan Anggi Mart Home Delivery di Manokwari, Papua Barat. Simon mendirikan Anggi Mart untuk membantu para petani memasarkan hasil usaha mereka, khususnya mama-mama petani di pedalaman. Anggi Mart memasarkan produk pertanian, baik secara online maupun off line. Anggi Mart yang berdiri pada awal tahun 2020, terus berkembang. Kini bukan hanya hasil pertanian saja yang dipasarkan Anggi Mart, namun juga hasil dari para nelayan, serta hasil produk pelaku UMKM.


Simon juga mendorong para pemuda memberi nilai tambah pada hasil pertanian dengan mengolahnya menjadi beragam produk. diantaranya menjadi selai. Simon yang sedang menempuh pendidikan S3 di Australian National University ini juga membina para petani muda. Sekitar 2500 petani milenial menjadi binaan Simon. Saat ini, Simon dan teman-temannya mengembangkan eko wisata berbasis sagu di Kais, Sorong Selatan, Papua Barat. Salah satu tujuan pengembangan eko wisata sagu Kais ini adalah membuka keterisolasian daerah pantai Sorong Selatan. Simon berharap dengan berbagai kegiatan yang dilakukan bersama teman-temannya dapat membawa kesejahteraan pada masyarakat.


Selain cerita Saipul Usman dan Simon Tabuni, di episode ini kita juga mendengar cerita dari Dedy Permadi, Juru Bicara Kominfo tentang manfaat pembangunan infrastruktur telekomunikasi khususnya di daerah 3T untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.***