MENDULANG EMAS DI KAMPUNG SENDIRI

ON AIR : MINGGU, 6 FEBRUARI 2022 PKL 19.05 WIB 


Kita sering terkaget-kaget ketika di media sosial ada sebuah desa yang menjadi topik pembicaraan karena alamnya yang keren banget atau ada atraksi yang menarik. Sehingga banyak orang kemudian beramai-ramai mendatangi desa tersebut untuk berwisata. Tapi, berapa banyak orang yang tahu siapa di balik kesuksesan desa wisata tersebut. Bahkan tak hanya wisatawan yang terpesona dengan keindahan desa itu saja, melainkan kesejahteraan masyarakat desanya secara ekonomi meningkat, berkat kegigihan sosok-sosok muda yang berhasil membangun desanya menjadi tujuan wisata. Karena itulah, Kick Andy mengundang tiga narasumber yang menjadi tokoh penggerak desa.


Di balik aksi panggungnya Erick Christianto atau lebih dikenal dengan sapaan Erix Soekamti yang selama ini dikenal sebagai musisi grup band Endang Soekamti, ternyata berhasil mengajak masaryakat di Jawa Tengah mengubah desa menjadi tujuan wisata yang menarik, viral dan banyak dikunjungi wisatawan. Keindahan bukit Menoreh yang terletak di Magelang Jawa Tengah ini salah satu yang berhasil menjadi destinasi wisata baru yang mendatang banyak wisatawan. Erix Soekamti bersama pemuda desa yang tergabung dalam komunitas gelang projo ini, membangun desa wisata secara mandiri. Menariknya, destinasi wisata yang sedang viral ini dibangun Erix ini tanpa merusak keindahan alam dan tetap menjaga ekosistem yang ada. Selain itu, Erik bersama pemuda desa di sini juga berhasil meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat desa dengan membangun usaha penginapan, wisata edukasi dan aktivitas oudoor. Tak hanya bukit Menoreh saja, Erix bersama gelang projo juga membangun desa wisata di kabupaten Kulon Progo dan Purworejo. Erix berharap dengan hadirnya desa-desa wisata ini, bisa mensejahterakan kehidupan masyarakat sekitar.


Narasumber berikutnya adalah Dharma Setyawan dari Lampung Metro, Provinsi Lampung. Dharma berhasil membangun desa yang tadinya tidak dikenal, namun melalui gagasan pasar kreatif yang diciptakannya yang diberinama Payungi, sekarang desanya menjadi tujuan wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Pasar kreatif yang diinisiasi oleh Dharma dinamakan Pasar Yosomulyo Pelangi atau yang disingkat Payungi. Buat Dharma inti dari pasar ini bukan pada keuntung semata,, tapi lebih kepada mengembalikan lagi budaya gotong royong, semangat merawat tradisi, dan menciptakan ruang bagi masyarakat untuk meningkatkan perekonomian. Tanpa di sangka, lahan bambu yang semua suka untuk buang sampah disulap menjadi pasar kreatif dengan aneka kuliner ibu-ibu Yosomulyo. Gelaran pertama dibuka pada 28 Oktober 2018. Dharma pun tidak menyangka gelaran pertama itu total uang terkumpul mencapai 16 juta rupiah. Dharma berhasil mewujudkan dengan membuat pasar kreatif ini di tengah kampung setiap hari minggu. Dharma melihat potensi ibu-ibu di desanya yang pandai dalam hal kuliner. Setiap minggunya Payungi hampir menerima hampir 2000 orang. Rata-rata setiap kali gelaran omset mencapai 40-50 juta rupiah. Untuk mendapatkan omset sebesar itu, masyarakat Yosomulyo tidak lepas dari gotong royong. Setiap Sabtu baik pagi dan sore hari, warga membersihkan daerah yang digunakan untuk membuka gelaran pasar. Setiap hari Minggu pagi, mereka bersiap-siap. Payungi terlihat seperti pasar kaget atau pasar kreatif pada umumnya. Namun, Payungi telah berkembang dan mengembangkan berbagai program dan kegiatan, seperti Pesantren Wirausaha, Payungi University, Kampung Bahasa Payungi, Women and Environment Studies (WES), Kampung Kopi, dan Rumah Anak Payungi. Dharma mengatakan bahwa agar kampung yang telah digagas terus berkembang, dibutuhkan kreativitas dan optimisme dari warga sekitar. Seluruh potensi yang ada di masyarakat sedapat mungkin diberdayakan guna memberikan manfaat bagi masyarakat itu sendiri. Mulai dari lahan kosong, ide-ide segar dan kreativitas dari masyarakat selalu diutamakan.


Terakhir yaitu Alif Faozi, Alif adalah ketua kelompok sadar wisata Dieng Pandawa, dan penggagas Dieng Culture Festival.Dieng, layaknya kahyangan di bumi Jawa Tengah, menyajikan pesona alam yang luar biasa. Keasrian alam Dieng, memiliki segudang potensi wisata yang tak pernah habis menarik para wisatawan. Sadar akan potensi wisata, setiap tahunnya kerap diadakan Dieng Culture Festival, sebuah festival budaya, yang mensinergikan antara alam dan budaya masyarakat lokal. Gagasan kegiatan ini tak terlepas dari sosok Alif faozi, putra daerah yang sadar akan pengembangan potensi Dieng. Tahun 2006 menjadi langkah berat Alif mengembangkan pariwisata Dieng, namun ia mempunyai mimpi besar untuk dieng. Ayah 3 anak ini pun mulai membangun kesadaran masyarakat mengelola potensi sumber daya alam di desa. Proses tidak menghianati hasil, sekarang Dieng menjadi destinasi favorit wisatawan. Jerih payahnya berbuah manis, berbagai penghargaan pernah diraih, salah satunya anugerah Satya Lencana Pariwisata, pada tahun 2018. Kedepan, Alif dan komunitas Pokdarwis akan terus membuat formula baru untuk pengembangan pariwisata di kawasan Dieng Jawa Tengah. (end)