KOLABORASI KEBAIKAN

12 Oktober 2019 - 14.21 WIB

Lakukanlah perbuatan baik sekarang juga, sekecil apa pun itu. Itulah yang dilakukan Mira Hoeng, seorang designer produk fesyen lokal bernama Miwa. Berkolaborasi dengan anak –anak muda lainnya yang ingin menolong sesama. Kolaborasi yang dilakukan anak-anak muda Indonesia inilah diangkat di Kick Andy dengan tema Kolaborasi Kebaikan.

Dengan tagline “Happiness in Pattern”, Miwa hadir, dari kegemaran Mira yang hobi menggambar sejak usia 2 tahun. Cikal bakal berdirinya Miwa sendiri, terpikirkan oleh Mira setelah ia melakukan perjalanan ziarah ke India. Saat itu Mira, masih bekerja di perusahaan ternama “Walt Disney Indonesia” sebagai creative manager. Kesibukan dengan intensitas stres yang tinggi menjadi pekerja, membuat Mira menderita stroke kala usianya masih 28 tahun. Mira akhirnya mengambil langkah keluar dari tempatnya bekerja. Mira ingin lebih memaksimalkan hidupnya, melalui talenta menggambarnya, agar bisa memberi manfaat dan menyebar kebaikan pada orang lain. Kini perempuan berusia 32 tahun ini rajin memberikan pelatihan keterampilan menggambar, membatik, merajut kepada kaum ibu di pelosok desa di Indonesia. Tak hanya itu saja, Mira juga memberikan pelatihan keterampilan di lapas lapas wanita. Melalui pelatihan keterampilan tersebut, Mira ingin memberikan harapan baru bagi kaum perempuan untuk bisa berkontribusi dalam hidup. Tak cukup sampai disitu, November 2019 lalu, berkolaborasi dengan LINE Indonesia dan benih baik dot com, Mira Hoeng meluncurkan brand terbarunya “Miya”, karakter kelinci jenaka namun inspiratif, yang hadir ke bumi untuk menyebarkan kebaikan. Ke depannya, Mira membuka peluang kerjasama dengan beberapa brand lainnya untuk bersama-sama menyebar kebaikan.

Narasumber berikutnya yang melakukan kerjasama untuk melakukan kebaikan adalah Arto soebiantoro atau yang sering disapa Arto. Arto mempunyai peran penting dalam memajukan pelaku usaha di Indonesia. Berkat kerja kerasnya menjadi aktivis brand local, dia berhasil melahirkan program digital online, brand adventure Indonesia.Melalui brand Adventure Indonesia, Arto berkolaborasi dengan Mira Hoeng dalam memajukan brand lokal Indonesia, salah satunya membuat pelatihan UMKM payung “geulis” khas Tasikmalaya. Dengan kolaborasi ini, diharapkan brand lokal Indonesia semakin maju dan berperan dalam kehidupan masyarakat. Dalam hal ini, pengembangan payung “geulis” Tasikmalaya, Arto memdapatkan ide dari seorang brand aktivis local bernama Akbar.

Akbar sangat cinta dengan dunia brand, sejak 2014 ia hijrah dari Garut ke Tasikmalaya untuk mencoba peruntungan melalui dunia usia dengan membuka sebuah agency sejak 5 tahun yang lalu. Melihat Tasikmalaya adalah kota produksi, sejak tahun 2016, Akbar merasa bahwa ada yang aneh dengan logo kota Tasikmalaya. Ia melihat logo kota Tasikmalaya terdapat simbol payung khas Tasikmalaya yang secara histori menjelaskan tentang mata pencaharian orang dulu sebagai pengrajin payung. Akhir tahun 2019, Akbar bertemu dengan Arto Biantoro, ia pun mencoba memberikan tentang isu lokal yang menjadi kekhawatirannya. Menurut Akbar, industri kerajinan payung geulis sudah dilakukan oleh pengrajin sejak lama, hanya saja pengrajin mendapatkan harga rendah karena kualitas yang terus menurun karena mengejar kuantitas. Karena itulah akbar berharap dengan kolaborasi dengan Arto dan Mira Hoeng bisa mengembangkan payung “geulis” Tasikmalaya lebih berkualitas dan bernilai jual tinggi, sehingga bisa mendapkan pendapatan lebih bagi para pengrajin payung.

Narasumber terakhir yaitu Ratnawati Soetedjo seorang sosioprenuer yang membantu penyandang disabilitas untuk hidup mandiri dengan menghasilkan kerajinan tangan yang berjual nilai tinggi. Bagi Ratnawati setiap manusia berharga di mata tuhan, bagaimana pun bentuk dan rupanya. Di balik kecacatan yang mereka miliki itu, mereka mampu berkarya. Produk kerajinan tangan ini bisa kita temui dan beli di Precious One. Precious One, merupakan wadah usaha yang tenaga kerjanya adalah para penyandang disabilitas. Sekitar 23 orang disabilitas dikaryakan oleh Precious One. Mayoritas penyandang tuli, dan tuna daksa. Para penyandang disabiitas ini dikaryakan untuk menjahit, membuat boneka kertas, bahkan melukis. Ratnawati Sutedjo, adalah sosok dibalik lahirnya Precious One. Bermula tahun 2001, kala dirinya menderita penyakit hepatitis A yang cukup parah. Di saat itu, ia merasa hidupnya tak lagi berharga, sampai ia bernazar untuk membantu penyandang disabilitas untuk dapat hidup mandiri. Tidak hanya disabilitas, Ratnawati juga menggandeng penderita down syndrome untuk berkarya di Precious One. Pada perhelatan Asian Games lalu, Precious One dipercaya untuk membuat souvenir ikon Asian Games. Melalui Precious One, Ratnawati ingin berkolaborasi kebaikan dengan siapa saja untuk membantu sesama. Baru baru ini, Ratnawati bersama Mira Hoeng, desainer produk fesyen Miwa, berkolaborasi dalam mengembangkan karya hasil para disabilitas. 15 tahun sudah kiprah Precious One dalam berkarya, tidak terhitung keringat dan air mata yang dicurahkan Ratnawati dalam menjalankan Precious One. Karena bagi Ratnawati, bukan hanya berkarya untuk meraup keuntungan diri sendiri, tapi bagaimana bisa memanusiakan manusia menjadi lebih berharga.