KISAH PEMBELA ALAM

12 Oktober 2019 - 14.21 WIB

Banyak orang di kota-kota besar selalu ribut soal kerusakan alam, hutan-hutan yang gundul, punahnya hewan-hewan langka yang dilindungi, tapi berapa banyak yang kemudian mau turun tangan untuk mencegah kehancuran bumi yang semakin parah ini. Dalam episode Kick Andy “Kisah Pembela Alam” kali ini mengundang orang-orang yang tidak banyak bicara, tetapi mereka adalah pahlawan pahlawan yang bekerja dalam sunyi, tidak butuh pujian, tetapi peran mereka nyata dalam melindungi planet bumi tempat manusia hidup ini. Siapa sajakah mereka? Berikut kisahnya.


Keterbatasan fisik tak menghalangi seseorang untuk bisa berbuat kebaikan bagi lingkungannya. Seperti yang dilakukan Tini Kasmawati, seorang Perempuan berusia 48 tahun asal Sukabumi ini. Meskipun Tini tidak bisa melihat, namun Tini sangat peduli pada habitat Owa Jawa yang berada di Hutan Lengkong, Sukabumi Jawa Barat sejak tahun 2014 lalu. Berkurangnya sumber makanan Owa di dalam hutan membuat binatang tersebut, terpaksa mencari makanan ke luar hutan dan menganggu masyarakat yang tinggal di sekitar dekat hutan. Hal itulah yang membuat Tini berinisiatif untuk memberi makan pada Owa yang ditemuinya dan menjaga habitat owa agar tidak punah. Perjuangan Tini tidak lah mudah. Tini memiliki gangguan penglihatan yang membuatnya harus menggunakan tongkat sebagai penunjuk arah saat berjalan. Tanpa rasa takut, setiap hari Tini pergi ke hutan untuk menjumpai owa-owa kesayangannya sembari memberi makan owa. Meskipun Tini berasal dari keluarga sederhana, Tini masih bisa menyisihkan uangnya untuk merawat owa jawa yang ada di Hutan Lengkong. Berkat kegigihan Tini menjaga habitat owa Jawa, kini semakin banyak orang pula yang turut peduli dan merawat hanibat owa yang ada di dalam hutan.


Berikutnya adalah seorang aktivis lingkungan sungai kali Ciliwung Ialah Suparno Jumar, pria yang dijuluki Sunan Jagakali. Setiap hari, sejak pagi hingga sore, Suparno menyusuri aliran sungai Ciliwung, untuk mengangkat sampah dari sungai. Sungai Ciliwung merupakan kali terbesar di Jakarta, yang membentang 120 kilometer dari hulu. Sampah di aliran sungai Ciliwung didominasi sampah rumah tangga. Pria asal Purworejo ini awalnya gusar melihat orang buang sampah ke sungai, hingga ia pun tergerak untuk mendedikasikan dirinya menjadi aktivis sungai Ciliwung. Kini ia tergabung dalam tim satgas naturaliasasi Ciliwung, dan beberapa komunitas peduli Ciliwung. Sejak merantau ke Jakarta, ayah 3 anak ini sempat bekerja di event organizer dan menjadi loper koran, sampai akhirnya tahun 2015 ia memutuskan untuk terjun ke kali Ciliwung. Suparno bersama beberapa rekan membentuk hakikat ciliwung, sebuah komunitas yang bergerak menuntaskan permasalahan Ciliwung dari sisi manusianya, dengan mengadakan kegiatan di sungai. Bagi suparno, sungai adalah sumber kehidupan manusia, oleh karena itu harus sadar untuk dijaga dan dilestarikan.


Hutan adalah paru-paru dunia. Keberlangsungan hidup, sangat bergantung pada kelestarian hutan. Seperti yang telah dilakukan oleh masyarakat Desa Sendang Asih, Kecamatan Sendang Agung, Kabupaten Lampung Tengah. Mereka sadar, bahwa hutan adalah sumber kehidupan mereka. Iwan Darmawan lah sosok yang menjadi motor penggerak dibalik kesadaran masyarakat untuk menjaga dan melestarikan hutan. Iwan sang mantan preman lebih memilih menyelamatkan hutan yang rusak sejak tahun 2003. Kerja keras Iwan bersama masyarakat dusun berbuah manis. Kini air pun melimpah. Atas keberhasilanya itu, Iwan dan kawan-kawan pun mendapatkan izin mengelola area hutan kemasyarakatan dari kementerian lingkungan hidup kehutanan. Keberhasilan masyarakat Desa Sendang Asih menjaga hutan tidak lepas dari prinsip gotong royong yang sejak lama mereka pegang teguh. Iwan dan kawan-kawan juga

Memiliki program arisan rumah, sebuah upaya untuk membantu warga desa memiliki hunian yang lebih layak. Masa lalu yang gelap telah membuat seorang Iwan tersadar, bahwa hidupnya harus bermanfaat untuk orang lain, dan lingkungan di sekitarnya.