KAMI JUGA INDONESIA

12 Oktober 2019 - 14.21 WIB

Tayang : Minggu, 28 Februari 2021


Bangsa Indonesia merupakan bangsa majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, agama dan ras. Kemajemukan ini terjalin dalam satu ikatan bangsa Indonesia sebagai satu kesatuan bangsa yang utuh dan berdaulat. Namun kadang ikatan kesatuan bangsa terpecah karena persoalan yang timbul di masyarakat diantaranya karena perbedaan pilihan politik. Masih ada juga masyarakat yang belum sepenuhnya menghayati keberagaman yang ada di Indonesia. Dalam sejarah bangsa Indonesia tercatat beberapa kejadian yang melukai semangat persatuan dan kesatuan. Warga negara Indonesia dari etnis Tionghoa kadang menjadi korban. Sementara sejarah menunjukkan kontribusi besar mereka pada bangsa. Saat ini, lewat berbagai profesi, mereka juga memberi kontribusi yang besar pada bangsa Indonesia.


Kapten Penerbang Marko Andersen Sasmita adalah seorang pilot pesawat tempur Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara. Cita-cita menjadi penerbang telah terpatri sejak duduk kecil. Tahun 2008, Marko diterima sebagai taruna Akademi Angkatan Udara (AAU). Saat diwisuda tahun 2012, Marko menjadi satu diantara delapan perwira muda yang terpilih masuk skuadron tempur. Saat ini, Kapten Penerbang Marko bertugas di Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Riau. Sebagai seorang pilot pesawat tempur TNI AU, Kapten Penerbang Marko siap mengawal dan menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKR).


Di Surabaya, Jawa Timur ada Michael Andrew lewat Roemah Bhineka mencoba merawat kesatuan dan persatuan dengan mengadakan berbagai kegiatan. Roemah Bhineka merupakan komunitas yang anggotanya lintas agama, suku dan profesi yang terbentuk sebagai respon adanya benih perpecahan akibat perbedaan politik pada tahun 2016. Sebagai anak muda, Michael Andrew ingin berkontribusi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.


Sementara, Ester Indahyani Jusuf atau Siem Ai Ling adalah seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), khususnya dalam bidang anti diskriminasi dan anti rasialisme. Ia dikenal aktif dalam perjuangan dan penegakkan HAM terkait persoalan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Publik Indonesia saat memasuki era reformasi 1998 lalu mengenal Ester Indahyani Jusuf. Ia adalah aktivis LBH Jakarta yang bersama Arnold Purba, kala itu mendirikan Yayasan Solidaritas Nusa Bangsa yang mempunya misi memperjuangkan kesetaraan harkat dan martabat apapun ras, etnis, agama, dan latar belakangnya melalui produk hukum yakni Undang-undang.Setelah berjuang selama 10 tahun, pada 2008 DPR mengesahkan Undang-undang Penghapusan Diskrimininasi Ras dan Etnis (UU PDRE). Sejak tahun 2012 ia fokus dalam bidang pendidikan khususnya literasi hukum untuk masyarakat dan juga pemberdayaan petani. Ester Jusuf banyak menerima penghargaan diantaranya Ashoka Foundation 2003 dan Yap Thiam Hien Award 2001.***