JURNALIS: BERKARYA DAN BERMAKNA

12 Oktober 2019 - 14.21 WIB

Selama ini jurnalis hanya dikenal sebagai pelapor kejadian, menginformasikan peristiwa yang trejadi di sekitar kita. Tetapi, jurnalis atau wartawan juga manusia, yang punya hati dan perasaan. Mereka tidak hanya melaporkan peristiwa yang menimpa masyarakat saja, tetapi banyak wartawan yang juga tergerak hatinya untuk membantu sesama. Untuk itu Kick Andy ingin mengangkat cerita dan narasumber para wartawan yang terpanggil hatinya untuk ikut membantu sesama.

Narasumber pertama yaitu Yasir Nene Ama seorang jurnalis televisi dari Kompas TV. Kesibukannya sebagai seorang wartawan, Yasir masih menyempatkan diri, membantu warga di kampung halamannya di Flores Timur, NTT untuk merenovasi masjid yang sudah sejak puluhan tahun tidak pernah direnovasi bahkan nyaris roboh. Nama Masjidnya adalah Nurul Ihsan di desa Horinara yang berada di kaki gunung Adonara, Klubagolit, Flores Timur, NTT. Kondisi bangunan yang memprihatinkan membuat Yasir Neneama tergerak hatinya untuk menggalang dana pembangunan masjid. Melalui kita bisa dot com, Yasir berhasil mengumpulkan dana dari masyarakat sebesar tujuh ratus juta lebih. Bagi pria yang mengawali karir sebagai wartawan sejak tahun 2012 ini, merasa bahagia saat melihat masjid di kampung halamannya sudah berdiri kokoh dan masyarakat di sana bisa beribadah dengan tenang tanpa khawatir tertimpa bangunan.

Berikutnya adalah wartawan Harian Kompas, Wlibrordus Megandika Wicaksono. Dibalik profesinya, pria yang biasa disapa Dika masih menyempatkan diri untuk peduli kepada anak-anak di panti asuhan. Dika mengajak sejumlah wartawan di Banyumas, Jawa Tengah untuk menulis buku yang berjudul Di Tepi Serayu Aku Merindu. Buku ini bercerita tentang kehidupan dan latar belakang anak-anak di panti asuhan Bunda Serayu yang sangat merindukan kasih sayang orangtua. Dika dan kawan-kawannya berharap melalui bukunya ini bisa mengajak orang untuk peduli dan memberikan cinta kasih bagi anak-anak di panti asuhan ini. Hasil dari penjualan buku ini sebagian akan didonasikan untuk anak-anak di panti asuhan Bunda Serayu Banyumas, Jawa Tengah.

Narasumber berikutnya yaitu Johan Heru Jurnalis TV Berita Satu. Sejak tahun 2002, Johan sudah menjadi reporter di SCTV selama 4 tahun, lalu pindah ke Metro TV hingga tahun 2013. Setelah tujuh tahun berkarir di Metro TV, tahun 2015 ia melanjutkan karir jurnalisnya ke Berita Satu hingga saat ini. Di tengah kesibukannya sebagai seorang jurnalis, Johan tetap menikmati hobi touringnya, kali ini ia membuat hobinya lebih menarik dengan touring sambil sharing. Setelah ia menemukan komunitas touring yang melakukan kebaikan berbagi, Johan merasa kecanduan setiap kali touring. Mulai 2018, tanpa bersama dengan komunitas touring yang ia ikuti sebelumnya pun, Johan melakuan kebaikan berbagi dengan caranya sendiri. Gempa dan Tsunami Banten 2018 lalu menjadi momen untuk Johan melakukan kebaikan berbagi ini secara mandiri. Kecamatan Sumur, Ujung Kulon menjadi salah satu desa terdampak gempa dan tsunami dua tahun lalu, dengan inisiatifnya, Johan bersama dengan dua temannya yang memiliki misi sejalan pun patungan untuk membantu warga terdampak. Pasca gempa dan tsunami Banten tersebut, Johan pun melanjutkan aksi berbaginya memberi buku dan tas untuk anak-anak dengan bertandang ke sekolah-sekolah. Tak sampai disitu jika daerah yang dikunjungi Johan belum memiliki perpustakan, Johan akan membuatkan perpustakaan kecil di sana seperti di daerah Citoreh, Cileteuh, dan Sukabumi. Bahkan Johan dan dua rekannya sampai saat ini masih sering mengelar sunatan massal gratis bagi anak-anak tidak mampu.