JINGGA DI ANTARA HITAM DAN PUTIH

Tayang 03 Oktober 2021 pkl.19.05 wib


Di dalam kehidupan kita sehari – hari, ada kehidupan yang sering luput dari perhatian kita, yakni kehidupan kaum waria atau transpuan. Kali ini kick andy ingin mengajak Anda melihat kehidupan mereka. Sebab lepas dari pro dan kontra, mereka ada di antara kita. Masih banyak masyarakat kita yang nelihat kaum transpuan ini dari kacamata negative, yakni sebagai penyakit sosial,kelompok penjaja seks di jalanan, penyebar HIV/ AIDS, dan macam – macam stigma lainnya. Tapi apakah pandangan itu sepenuhnya benar? Dan siapa saja narasumber kali ini ?


Yang pertama adalah Shinta Ratri seorang transpuan yang juga pimpinan pondok pesantren waria Al Fatah yang berlokasi di Yogyakarta Shinta lahir dari keluarga yang kerkecukupan dan berpendidikan. Mereka biasa hidup demokratis. Lulus sebagai Sarjana Biologi dari Universitas Gadjah Mada, Shinta memilih profesi sebagai pengusaha kerajinan perak. Dia juga kemudian aktif memberdayakan para waria di lingkungan Yogyakarta.


Dalam payung pondok pesantren itu dia bersama puluhan waria lainnya bergerak mencari Tuhan. Mengejar hak mereka untuk beribadah. Mereka mendapatkan bimbingan antara lain dari seorang ustaz yang mengajarkan tentang agama dan mengajarkan membaca Al Quran. Awalnya mereka memang mendapat penolakan, ejekan serta stigma yang negatif terhadap para kaum transpuan yang berada di pesantrennya namun kini masyarakt sudah bisa menerima keberadaan mereka.


Yang berikutnya adalah Kanzha Vina,yang juga seorang transpuan dan ketua sanggar swara walaupun terlahir sebagai lelaki, sejak kecil Vina merasa dirinya lebih nyaman untuk berprilaku sebagai perempuan. Hidup sebagai transpuan Vina harus bergelut dengan diskriminasi, perundungan, bahkan kekerasan seksual. Vina memiliki harapan untuk mendapatkan hak – haknya sebagai transpuan dan tentunya sebagai manusia.


Vina mulai mencari harapan dengan mangadu nasib di Jakarta pada usia 17 tahun, dan bergabung dengan program bernama transchool yang diselenggarakan oleh sanggar waria ramaja atau sanggar swara. Kini vina menjabat sebagai ketua sanggar swara dan aktif mengadvokasi hak para transgender dan memberikan bantuan kepada para waria yang terdampak pandemic covid 19.


Dan yang terakhir adalah Hendrika Mayora Victoria, atau akrab disapa Bunda Mayora, terpilih menjadi Wakil Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Ia disebut-sebut sebagai transpuan pertama yang menjadi pejabat publik di Indonesia.

Pengakuan Bunda Mayora sebagai transpuan membawanya ke kehidupan jalanan yang penuh kekerasan. Untuk bertahan hidup, Bunda Mayora sempat mengamen. Ditangkap Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) saat mengamen, dirundung, dan dipukuli menjadi bagian kehidupannya. Pengalaman itu lah yang menyadarkan Bunda Mayora akan stigma dan diskriminasi yang dialami oleh para transpuan.

Kini setelah menjadi wakil ketua BPD bunda Mayora mengerjakan apa saja yang dapat dilakukannya bagi masyarakat. Mulai dari menjadi pembawa acara perkawinan atau hajatan keluarga, mengadakan kegiatan kesenian dan pembinaan keimanan anak di gereja, menjadi ketua kelompok kerja yang membawahi pengajaran Pancasila, pola asuh keluarga, hingga memberi penyuluhan ketika ada wabah penyakit.