JADI PETANI ITU KEREN

Tayang Minggu, 10 April 2022 pkl 19.05 wib


Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus memperkuat sektor pertanian, demi ketahanan pangan dan pemulihan ekonomi, salah satunya dengan mengajak para pemuda di desa untuk mengembangkan komoditas daerah sebagai petani milenial yang maju dan inovatif. Ialah Irfan Rahadian petani kopi milenial yang sukses. Setelah menyelesaikan S1 nya di Universitas Padjajaran Bandung (UNPAD), jurusan Pertanian Agribisnis, Irfan melanjutkan S2 di Intitut Pertania Bogor (IPB), dengan jurusan yang sama. Di saat yang sama pula ia mendapatkan beasiswa S2 LPDP dari DIKTI, sehingga Irfan menyelesaikan gelar double masternya secara bersamaan. Satu tengah tahun ia selesaikan gelar S2 nya dari Gottingen University di Jerman, jurusan Sustainable Internasional Agriculture. Selesai dengan gelar double master, Irfan harus mengabdikan ilmunya untuk mengajar di sebuah universitas. Ia pun kembali ke Indonesia dan menjadi dosen di UNPAD. Hanya 3 tahun saja Irfan menjadi dosen, Irfan lebih memilih pulang ke desanya sebagai petani. Memutuskan untuk keluar dari pekerjaan sebagai dosen tak membuat Irfan patah semangat. Meski keluarga sempat menyayangkan keputusannya Irfan yang lebih memilih sebagai petani. Namun keinginannya untuk mengangkat nilai pertanian lebih kuat dari pada menjadi dosen. Irfan menceritakan bahwa saat dirinya pulang dari Jerman, ia telah membantuk sebuah kelompok petani di desanya, Dusun Cikawari, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimeyan, Bandung dengan tujuan mengajak anak-anak muda untuk kembali melirik dunia pertanian. Saat ini lahan kopi miliknya yang semula seperempat hektar, berangsur meningkat hingga tiga hektar. Bahkan bersama kelompok Tani Kiwari, Irfan membuka lahan Perhutani seluas 18 hektar. Irfan juga menjual produk biji kopi, Irfan membangun produk jadi dari kopi yang ia tanam. Meski omsetnya saat ini menurut hingga 90 persen lantaran pandemi, ia masih berusaha untuk mengambalikan omsetnya yang pernah sampai 100 juta tiap bulannya. Misi utamanya untuk mengajak anak muda menjadi petani, ia tuangkan dalam sosial media yang ada, seperti YouTube, TikTok, dan lainnya.


Selanjutnya yaitu Petani Aren Yuli Yanti atau yang biasa disapa Neng Yuli. Selain petani gula aren, perempuan asal Bandung Jawa Barat ini juga merupakan pendiri kelompok usaha Gandrung Alam yang dimulai tahun 2016 silam. Tujuan didirikannya Gandrung Alam yaitu guna mengangkat ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang berada di Desa Batulayang, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat dengan meningkatkan kemampuan usaha petani gula aren agar hasilnya berkualitas dan inovatif. Neng Yuli melalui usaha Gandrung Alamnya ini mampu menciptakan berbagai inovasi produk olahan gula aren seperti gila aren cair dan gula semut. Jerih payahnya pun berbuah manis, inovasi yg dilakukan Yuli mampu meningkatkan ekonomi masyarakat di desa serta membuka lapangan pekerjaan bagi warga desa.


Narasumber berikutnya Ujang Margana, pria lulusan sarjana pendidikan asal Bandung Jawa Barat ini tak ragu lagi untuk memilih profesi sebagai seorang petani. Pasalnya di desanya di Kecamatan Cimenyan, Bandung Jawa Barat ini Ujang melihat potensi besar bertani bawang merah. Kemudian atas inisiatif dan kemauannya sendiri Ujang menggarap lahan pertanian bawang merah milik sang ayah. Kesuksesannya sebagai petani bawang merah, Ujang lantas membentuk kelompok tani Tri Cipta guna meningkatkan produksi berkualitas bawang merah dan untuk mengatasi kendala yang kerap dihadapi para petani bawang merah di desanya. Tak mudah bagi pemuda berusia 29 tahun ini menjadi seorang petani, namun perlahan tapi pasti. Kini Ujang sudah memiliki lahan 30 hektar yang awalnya hanya 1 hektar saja. Bagi Ujang, pertanian merupakan sektor yang menjanjikan bagi generasi muda yang lebih cerdas, inovatif & mandiri. Sehingga bisa menjadikan desanya makmur dan sejahtera.


Dalam episode ini turut hadir Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang menjelaskan tujuan diadakannya program petani milenial yang merupakan program unggulan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang diluncurkan pada Maret 2021 untuk menjawab persoalan di sektor pertanian. Program ini dalam proses perjalanannya menghadapi tantangan dan kerumitan terwujudnya sebuah ekosistem baru. Karena itu sejak awal demi mengantisipasi tantangan ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga menggandeng mitra dan stakeholder yang juga tengah melakukan pembinaan pada petani muda atau eksisting di Jawa Barat. Kolaborasi ini menjadikan inagurasi 24 Maret 2022 di Institut Pertanian Bogor (IPB) adalah perwujudan rumah besar program Petani Milenial. Harapannya program ini bisa menahan laju urbanisasi, dengan tagline tinggal di desa, rejeki kota, bisnis mendunia diharapkan bisa memberikan kesempatan kerja pada anak muda korban PHK di masa pandemi, atau mereka yang baru lulus dari perguruan tinggi hingga keluarga petani untuk turut berkontribusi memajukan perekonomian desa. Selain itu peserta Petani Milenial diharapkan akan menjadi wajah baru pertanian modern Jawa Barat yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan. program Petani Milenial Juara ini tidak hanya mencakup bidang pertanian tapi termasuk peternakan, perikanan, kehutanan dan perkebunan. (End)