HATI YANG MELAYANI

Dalam episode Natal ini, Kick Andy menghadirkan narasumber inspiratif yang peduli dengan sesama, membantu warga miskin, anak-anak kurang mampu dan bahkan orang-orang penderita gangguan jiwa yang selama ini hidup dalam pasungan. Hebatnya lagi, kedua narasumber Kick Andy kali ini rela blusukan ke daerah-daerah di pelosok. Dengan sukarela, keduanya membantu sesama tanpa pandang agama, suku, ras maupun golongan.

Narasumber pertama yaitu lelaki asal pulau Flores Nusa Tengara Timur bernama Avent Saur. Pria kelahiran 27 Juli 1982 ini telah mengabdikan dirinya untuk melayani dan menolong saudara-saudara kita yang dipasung karena mengalami gangguan kejiwaan di kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Tahun 2014 silam, Avent Saur yang yang tidak lain adalah seorang pastor memulai aksi kemanusiannya dengan seorang diri. Hal itu dilakukannya semata-mata karena kepeduliannya terhadap para penderita gangguan jiwa di Kabupaten Ende. Setiap hari Ia keliling dari kampung ke kampung pelosok untuk memberikan obat, makanan dan juga memberikan perhatian pada penderita gangguan jiwa yang selama ini terpinggirkan dan dikucilkan. Ia juga terus memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa dengan penanganan yang benar orang dengan gangguan jiwa dapat disembuhkan, sehingga mereka tidak harus dipasung dan tidak perlu dianggap sebagai aib. Karena kegiatan sosialnya inilah Avent Saur mendapat julukan “pastor orang gila’’ oleh masyarakat sekitar Ende yang mengenalnya. Sudah hampir 3 tahun Avent Saur menjalani hari-harinya dengan menggurusi orang dengan gangguan jiwa. Namun kini, ia tidak lagi seorang diri dalam kegiatan sosialnya itu. Tepat Februari 2016 Avent Saur membentuk sebuah kelompok peduli untuk membantu orang dengan gangguan jiwa, dengan membentuk kelompok Kasih Insani. Avent Saur dan kelompok Kasih Insani berharap, tidak ada lagi orang dengan gangguan jiwa yang dipasung. Dan tentunya, mereka juga berharap pemerintah daerah maupun pusat mau memberikan perhatian khusus kepada orang dengan gangguan kejiwaan terutama di kalangan tidak mampu.

Menolong sesama, karena perintah Tuhan, itulah yang mengilhami hati narasumber berikutnya Priskila Linda, mantan pengusaha otomotif yang memulai perjalanan melayani masyarakat sejak 2005 silam. Bencana gempa nias, menjadi titik awal Ia mengabdikan hidupnya menjadi pelayan Tuhan bagi sesama. Melalui yayasan sungai kasih yang dibentuknya, Ia rajin melakukan misi kemanusiaan ke berbagai daerah di Indonesia. Gerakan ini memiliki visi menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk orang-orang yang membutuhkan, dan memberi dampak positif bagi masyarakat. Tidak hanya bakti sosial, mereka pun membantu masyarakat dalam merintis usaha sederhana, dengan memanfaatkan sumber daya alam sekitar. Menyadari betapa pentingnya masa depan anak-anak, pada tahun 2010, ia pun menggagas sebuah project pendidikan karakter melalui rumah kasih di Pontianak dan di Singkawang. Di rumah kasih, para penerus bangsa dibimbing untuk membangun hubungan dengan Tuhan melalui cara yang kreatif, sederhana dan menyenangkan. Karakter mereka pun dibina, agar menjadi manusia yang berbudi pekerti dan menghormati sesama. Selain pendidikan rohani, mereka pun mendapatkan bimbingan dan motivasi belajar guna meningkatkan prestasi anak-anak di sekolah. Tidak hanya pelajaran umum, mereka juga dikenalkan dengan bahasa asing, yakni bahasa inggris dan mandarin. Bahkan sudah ratusan anak yg berhasil dibantunya untuk bisa bersekolah formal. Dalam membantu sesama Priskila Linda tidak pernah memandang agama, suku, ras maupun golongan. Anak-anak adalah calon pemimpin masa depan. Linda percaya, pengajaran yang baik dan sentuhan kasih sayang sejak dini akan merubah hidup mereka dan orang-orang disekitarnya untuk menjadi lebih baik.