GARA-GARA PHK

12 Oktober 2019 - 14.21 WIB

Akibat pandemi Covid-19, banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena kebijakan perusahaan tenpat mereka bekerja yang terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Banyak diantara mereka yang banting setir dengan merintis usaha. Nah, tamu Kick Andy kali ini adalah orang-orang yang berhasil membangun usaha setelah mengalami pemutusan hubungan kerja. Mereka mengalami PHK bukan saat pandemi Covid-19 ini, namun jauh sebelumnya. Mereka mengalami PHK karena berbagai sebab, ada yang karena perusahaannya bangkrut atau karena kritis pada perusahaan.


Choirul Mahpuduah atau yang akrab disapa Irul terkena PHK karena memperjuangkan hak-hak buruh khususnya buruh perempuan. Di perusahaan tempat Irul bekerja yakni pabrik pembuat alat-alat rumah tangga di Surabaya, tidak ada ruang ganti bagi buruh perempuan. Sehingga mereka harus ganti baju di balik mesin. Hak cuti juga kurang diperhatikan perusahaan. Sikap kritis Irul berbuah PHK. Selepas di-PHK pada tahun 1999, Irul aktif di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Setelah itu, Irul berdagang kaki lima, namun kena gusur. Pada tahun 2005, ia mulai usaha pembuatan kue. Saat itu, ia melihat banyak tetangganya yang membuat kue, namun secara ekonomi kurang berdampak. Ia juga melihat para tetangganya di daerah Rungkut Lor, Surabaya banyak yang menganggur karena terkena PHK.


Namun saat Irul mengajak mereka bergabung dalam usaha pembuatan kue, hanya 2 orang yang bergabung. Mereka patungan dan terkumpul uang Rp 150 ribu. Dari uang itu, Rp 100 ribu dipinjam warga untuk mengembangkan usaha kuenya. Setelah melihat keberhasilan warga ini, warga lain tertarik mengembangkan uasah kue. Hingga kini ada sekitar 65 warga yang punya usaha kue. Kini Rungkut Lor dikenal sebagai Kampung Kue. Model pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Irul ini, sudah ditiru di berbagai tempat diantaranya di Tangerang Selatan, Bogor dan Pacitan. Atas usahanya, Irul menerima berbagai penghargaan salah satunya dari Facebook. Namun bagi Irul penghargaan tertinggi adalah jika apa yang ia lakukan bermanfaat bagi orang lain.


Sementara Lynda Permatasari, harus berpikir keras saat terkena PHK pada tahun 1999. Karena krisis moneter saat itu, perusahaan tempatnya bekerja bangkrut dan melakukan PHK. Dengan uang pesangon sebesar Rp 200 juta, Lynda merintis usaha katering. Ia memilih usaha katering karena sang ibunda pandai memasak. Pasa awal merintis usaha, ia menyulap garasi menjadi kantor. Ia juga harus memasarkan door to door jasa kateringnya. Lambat laun usahanya membuahkan hasil, omzetnya hingga mencapai milyaran rupiah. Kini saat pandemi covid-19, usaha Lynda terkena imbasnya, namun ia berusaha tidak melakukan PHK pada 60 orang karyawannya. Beruntung katering Lynda, Puspita Sawargi masih menerima order, meski tidak sebanyak sebelum pandemi Covid-19.


Di Batu, Malang, Jawa Timur suami istri, Ruslan Guntoro dan Sulastri mampu bangkit setelah terkena PHK pada tahun 2004. Saat di-PHK dari perusahaan tekstil karena perushaannya bangkrut, pesangon mereka tidak dibayar sekaligus namun dicicil. Sementara, mereka harus membiayai pendidian 6 orang anak. Saat itu anaknya sudah ada yang kuliah. Beruntung sebelum terkena PHK, mereka telah mempunyai usaha pembuatan jahe herbal instan. Setelah tidak bekerja, mereka fokus mengembangkan usaha mereka dengan membuat berbagai macam produk minuman herbal diantaranya minuman dari sari akar alang-alang. Saat merintis usaha, Sulastri harus berjalan kaki dari tempat timggalnya di daerah Songgoriti ke berbagai toko di Kota Batu. Kegiatan memasarkan door to door dengan berjalan kaki itu dijalani Sulastri selama 1 tahun. Kini setelah usahnya berkembang, Ruslan dan Sulastri tidak pelit berbagi ilmu. Mereka mendirikan perkumpulan UMKM Guyub Rukun Agawe Santoso (GRAS). Asosiasi ini didirikan tahun 2007 untuk memberi pelatihan, berbagi pengalaman dan informasi pameran, dan dukungan kepada warga yang mengembangkan usaha. GRAS juga mendirikan dan mengembangkan koperasi. Saat ini, ada 46 UMKM yang menjadi anggota GRAS. Mereka juga aktif dalam mengembangkan UMKM di desa di daerah Songgoriti, Kota Batu. Pasangan suami istri itu membangun kelompok desa Sanggamitra yang menyasar warga desa, termasuk pengangguran, yang berniat membangun UMKM dari nol.***