DESA MASA DEPAN INDONESIA

12 Oktober 2019 - 14.21 WIB

Tayang, Minggu, 11 April 2021, PKL 19.05 WIB


Perkembangan teknologi mengubah pandangan orang tentang desa. Sekarang orang mulai ingin tinggal di desa, karena dengan tinggal di desa masih tetap terus berkarya. Desa juga menawarkan kehidupan yang lebih sehat dengan air, udara dan lingkungan yang masih terjaga. Saat ini, desa menawarkan banyak kesempatan bagi siapa saja dan hal ini mungkin tidak ditemui pada masa lalu. Dengan kesempatan yang ada banyak orang yang terus berkarya bagi desa dan warganya. Mereka mampu mengubah wajah desa menjadi lebih baik dan membawa kesejahteraan bersama.


Pada tahun 2010, Muh Khoirul Soleh yang akrab dipanggil Irul merintis usaha penjualan bibit buah secara online. Warga Kebonkliwon, Salaman, Magelang, Jawa Tengah ini melihat potensi di desanya yang dikenal sebagai penghasil bibit buah. Usaha bibit buah di Kebonkliwon ada sejak tahun 80-an, namun saat itu tergantung pada tengkulak, sehingga tidak berkembang. Awal memulai usaha penjualan bibit buah secara online tidak mudah, namun lambat laun Irul mendapat pelanggan. Setelah usahanya berhasil ia mengajak warga berjualan bibit buah secara online, namun hanya 2-3 orang yang tertarik. Setelah warga yang mengikuti jejak Irul berhasil, warga berbondong-bondong berjualan bibit buah secara online. Kini hampir semua warga Kebonkliwon berjualan bibit buah secara online dan diikuti warga desa di Kecamatan Salaman. Dengan berjualan secara online, permintaan buah datang dari seluruh Indonesia. Setiap bulan, puluhan ribu bibit buah terjual dan memberi kesejahteraan pada warga. Kini Irul sedang membangun pusat pelatihan pertanian, perikanan dan peternakan.


Mengaca pada masa lalunya yang sangat sulit mendapatkan pendidikan, Johani Fauzi mendirikan Graha Kreatif di Desa Pasirbuyut, Jawilan, Kabupaten Serang, Banten. Tujuan pendirian Graha Kreatif ini untuk memberi kesempatan pada pemuda yang sebelumnya sulit untuk meningkatkan kemampuan mereka menjadi pemuda-pemuda yang punya kemampuan mumpuni di berbagai bidang. Di Graha Kreatif, para pemuda mendapatkan pelatihan secara gratis mulai dari entrepreneur, teknologi informasi, konten kreatif, pertanian hingga peternakan. Johani juga mendirikan Join Mart untuk menampung hasil produksi warga dan koperasi untuk membantu para petani. Saat ini Johani juga memberi bea siswa pada 26 orang untuk menempuh pendidikan S1 dan 3 orang untuk menempuh pendidikan S2.


Di Gresik, Jawa Timur ada sosok Abdul Halim yang mengubah Desa Sekapuk dari desa tertinggal menjadi desa mandiri. Pada Desember 2017, Abdul Halim terpilih secara mutlak sebagai kepala Desa Sekapuk. Lewat berbagai gebrakannya salah satunya membuat obyek wisata Setigi (Selo, Tirto, Giri) mampu memberi kesejahteran pada warga. Sebelum dikelola sebagai obyek wisata, Setigi merupakan bekas tambang batu kapur yang dijadikan tempat pembuangan sampah. Kini setelah disulap menjadi obyek wisata mampu mendatangkan pendapatan pada desa. Pada tahun 2020, pendapatan obyek wisata Setigi mencapai Rp 5 milyar. Kini di Desa Sekapuk tidak ada warga yang menganggur dan kesejahteran warga meningkat. Desa Seakpuk dikenal sebagai Desa Milyader. Saat ini Abdul Halim sedang mendirikan AHA Institut di Sekapuk untuk berbagi pengalaman tentang pengelolaan pemerintah desa dan Bumdes***