CINTA YANG MENYEMBUHKAN

TAYANG, MINGGU, 30 JANUARI 2022 PKL 19.05 WIB


Setiap orang dikarunia rasa cinta. Dengan cinta mendorong orang untuk berbuat kebaikan. Kali ini tamu Kick Andy adalah orang-orang yand peduli pada para difabel karena cinta. Tamu pertama adalah Arnoldus Dominikus Duli Uran yang akrab disapa Opa Arnold. Ia adalah pendiri Panti Asuhan Adi Mister (Anak Difabel Miskin Terlantar) di Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Opa Arnold mendirikan Panti Asuhan Adi Mister pada tahun 2010. Untuk mendirikan panti asuhan ini, Opa Arnold rela menjual sejumlah barang berharga miliknya diantaranya mobil dan juga bengkel mobil miliknya. Seperti namanya, panti asuhan ini mengasuh anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) dari keluarga tidak mampu. Bahkan banyak diantara mereka yang sudah tidak dinginkan keluarganya dengan berbagai macam alasan dan alasan ekonomi menjadi faktor utamanya. Saat ini Panti Asuhan Adi Mister mengasuh 53 orang difabel dengan kecacatan yang beragam dari cacat tunggal hingga cacat ganda.

Sejak kecil Opa Arnold telah merawat orang difabel. Ia adalah anak kedua dari sembilan bersaudara dimana tiga orang saudaranya difabel. Pada usia SD, Opa Arnold ikut mengasuh adiknya nomor delapan yang menderita lumpuh. Sang adik tidak berumur panjang, meninggal pada usia 2 tahun. Simpati dan empati, Opa Arnold terus terpupuk saat sekolah di Seminari Larantuka. Kepedulian Opa Arnold pada kaum difabel diwujudkan dengan melakukan pendampingan pada mereka dan keluarganya di Kabupaten Flores Timur dan Lembata. Di Flores Timur tercatat 2853 orang difabel dan di Lembata terdapat 1850 orang difabel. Dari angka itu, sekitar 240 orang difabel telah didampingin dan juga diberikan berbagai pelatihan diantaranya kerajinan tangan dan kuliner. Opa Arnold yang pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Sikka ini juga terus mendorong peraturan yang pro pada difabel. Selain dari uang pribadi, Opa Arnold menerima bantuan dari warga untuk membiayai panti asuhan dan kegiatan-kegiatannya.

Tamu selanjutnya adalah Sufiah (38), pendiri Yayasan Al Ikhlas yang berdiri 3 tahun lalu di Desa Madumulyorejo, Dukun, Gresik, Jawa Timur. Yayasan ini membantu anak berkebutuhan khusus untuk terapi serta melakukan pendampingan pada keluarganya. Pada tanggal 6 Januari 2022, Yayasan Al Ikhlas baru meresmikan TK Luar Biasa dan SD Luar Biasa. Kini Yayasan Al Ikhlas mendampingi 200 anak berkebutuhan khusus dan 60 persen diantaranya merupakan anak dengan celebral palsy. Sufiah aktif sebagai relawan untuk membantu para difabel sejak anaknya lahir dan dinyatakan tuna netra. Saat anaknya masuk usia sekolah, Sufiah memutuskan berhenti bekerja dan fokus merawat anaknya. Ia pulang kampung ke Gresik. Di sekitar desanya, ia kesulitan menemukan sekolah luar biasa bagi anaknya. Sufiah malah menemukan anak yang berkebutuhan khusus dari keluarga tidak mampu dan dari situ ia tergerak untuk membantu. Anak pertama yang ditemui adalah anak dengan celebral palsy dan autis. Awalnya tidak mudah meyakinkan orang tua sang anak untuk membawa anaknya terapi. Mereka telah pasrah dengan kondisi anaknya. Namun setelah diyakinkan, akhirnya ia mau. Dari satu anak itu, terlihat ada perkembangan yang bagus dan kabar itu tersebar dari mulut ke mulut dan makin banyak anak berkebutuhan khusus yang dibantu Sufiah. Untuk memberi dampak yang lebih luas, tiga tahun lalu Sufiah membentuk Yayasan Al Ikhlas.

Selain dari kantong pribadi, biaya untuk terapi dan kegiatan lainnya, Sufiah mendapat bantuan dari sejumlah pihak. Ia meyakini selalu ada jalan untuk berbuat baik. Sufiah bercita-cita membangun SMP dan SMA luar biasa serta Balai Latihan Kerja (BLK) bagi anak-anak berkebuhutan khusus. Ia juga bercita-cita membangun sebuah rumah khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus yang sudah tidak diinginkan orang tua mereka, karena berbagai alasan. Selama ini, ia sering diminta mengambil anak oleh orang tua anak berkebutuhan khusus.

Tamu yang ketiga adalah Maria Lanneke, Koordinator Lovely Hands yang berada di Sunter, Jakarta Utara. Lovely Hands adalah sebuah komunitas sosial yang melayani anak-anak berkebutuhan khusus dari keluarga tidak mampu. Komunitas ini terbentuk pada tahun 2011 dan berada di bawah Gereja St. Yohanes Bosco, Sunter Jakarta Utara. Lanneke bergabung dengan Lovely Hands pada tahun 2013 karena terpanggil untuk memberikan pelayanan pada anak-anak berkebutuhan khusus. Lanneke sendiri punya pengalaman merawat anak berkebutuhan khusus. Anak pertamanya terlahir dengan celebral palsy dan divonis dokter tidak berumur panjang , namun dengan kasih sayang dari Lanneke dan keluarga, anaknya dapat berusia hingga 20 tahun. Lanneke merasa banyak keajaiban yang diterimanya selama mengasuh dan merawat anaknya.

Saat ini, terdapat sekitar 87 anak berkebutuhan khusus yang dilayani Lovely Hands. Di Lovely Hands anak-anak mendapat terapi disesuaikan dengan kondisi anak, tambahan makanan sehat, pelajaran dan pelatihan yang juga disesuaikan dengan kondisi anak. Setelah bergabung dengan Lovely Hands potensi anak-anak dapat digali. Mereka ada yang dapat bernyanyi dan bermain alat musik serta ketrampilan lain. Lovely Hand memiliki grup musik yang beranggotakan anak-anak berkebutuhan khusus. Selain memberikan pelayanan pada anak, Lovely Hands juga memberikan pendampingan pada orang tua dan keluarga sang anak. Mereka didorong untuk memberikan perhatian dan kasih sayang pada anak-anak mereka. Bagi Lanneke, kini Lovely Hands menjadi bagian hidupnya. Kegiatannya itu didukung suami dan dua orang anaknya.***