BUKAN SEKADAR KATA

ON AIR : MINGGU, 19 SEPTEMBER 2021

Banyak orang yang mengatakan ingin berbuat baik menolong sesama, tetapi sampai akhir hayatnya keinginan itu hanyalah sebatas kata-kata saja, tidak ada tindakan nyata. Beribu alasan orang untuk menunda perbuatan baik, tapi banyak orang juga yang lupa bahwa kita tidak ada yang tahu berapa lama Tuhan memberi kita hidup di dunia. Kapan saja, Tuhan bisa memanggil kita, dan kita terlambat untuk berbuat baik. Karena itu “Tanamkan Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan”. Nah, dalam episode Bukan Sekadar Kata, Kick Andy mengundang tiga anak muda yang bukan hanya kata-kata saja, tetapi mereka sudah menabur banyak kebaikan dengan tindakan nyata. Segenap materi, tenaga dan pikiran dikorbankan demi membantu sesama yang membutuhkan.

Pertama dialah Aditya Prayoga Laki-laki sederhana lulusan SD berusia 29 tahun ini, kini memiliki lima rumah makan gratis bagi orang-orang tidak mampu. Setiap harinya, minimal 200 bungkus nasi lengkap dengan lauk pauknya dibagikan kepada mereka yang membutuhkan, tanpa membedakan agama, suku, ras dan agama. Namun siapa sangka, Aditya Prayoga ternyata pernah mengalami kehidupan kelam saat merantau dari Palembang ke Jakarta, Aditya pernah hidup terlunta-lunta di ibukota negara, tidur di kolong jembatan, bekerja serabutan mulai dari tukang parkir, tukang koran hingga menjadi marbot di masjid dengan penghasilan yang tak menentu. Kegiatan sosial mendirikan lima rumah makan gratis pun dilakukan Aditya, berawal dari pertemuannya dengan seorang nenek yang sedang mengais sampah dalam keadaan sakit dan hidup sebatang kara. Kemudian dirawat dengan penuh kasih oleh Aditya, hingga akhirnya sang nenek meninggal dunia. Sebelum meninggal dunia sang nenek memberikan pesan tentang nantinya Aditya bisa memiliki apa yang tidak dimiliki sekarang, nantinya aditya bisa datang ke tempat yang diinginkannya. Sejak sang nenek meninggal dunia, kehidupan Aditya dan istri berubah menjadi sejahtera, Aditya bisa memiliki anak, Aditya memiliki penghasilan yang lebih, bahkan Aditya bisa pergi umroh ke Mekah Arab Saudi. Karena itulah Aditya bertekad untuk terus bersedekah dengan mendirikan rumah makan gratis, meskpun dalam waktu mendirikan rumah makan gratis tak selamanya berjalan mulus, Aditya pernah difitnah dan juga pernah dirampok. Namun dengan dukungan orang sekitar, Aditya tak pernah berputus asa dan terus melakukan kegiatan berbagi kepada sesama, selama hayat masih di kandung badan.

Berikutnya adalah Albertus Gregory Tan, pemuda berusia 31 tahun ini yang menjadi inisiator gerakan peduli gereja katolik. Gerakannya ini sudah dimulai sejak tahun 2011, dengan menggalang dana di media sosial, untuk membangun gereja-gereja di wilayah terpencil di indonesia. Hingga saat ini tahun 2021 sudah 150 gereja yang sudah dibangun dan direnovasi oleh Greg Tan. Di usianya yang masih muda saat itu, tidak mudah bagi Greg mengawali gerakannya ini, sampai ia pun hampir putus asa. Rencana Tuhan tak ada yang mustahil, gerakan yang ia inisiasi ini pun semakin masif, dan telah menjadi sebuah yayasan yang bernama Vinea Dei. Melalui yayasan Vinea Dei, Greg dan timnya tidak lagi terbatas pada membangun gereja secara fisik, kini mereka berfokus pada pendidikan anak anak katolik yang ada di pelosok Indonesia. Sampai sekarang sudah ada 150 gereja yang dibangun dan 40 anak yang dibiayai pendidikannya. Greg berharap, yayasannya ini bisa menjadi oase dan sumber air untuk membantu banyak orang yang membutuhkan.


Berikutnya di masa pandemi ini membangkitkan semangat tolong menolong dan berbuat kebaikan untuk sesama.Banyaknya kasus kematian covid-19, menggugah hati seorang remaja berusia 17 tahun Akmal Fauzani Fadillah, dengan menjadi relawan pemakaman jenazah covid-19, di TPU Jombang, Ciputat, Tangerang Selatan. Di masa sistem belajar daring, Akmal yang saat itu masih duduk di bangku SMK, meluangkan waktunya untuk kegiatan yang bermanfaat. Dari sebab itu, ia pun menawarkan diri untuk menjadi petugas pemakaman jenazah covid-19. Pemuda berbadan gempal ini, hampir setiap hari berada di TPU membantu petugas pemakaman. Sejak April 2020, Akmalsecara sukarela dan iklas membantu petugas pemakaman. Hingga saat Akmal sudah membantu memakamkan seribu lebih jenazah covid-19 yang dimakamkan. Kedepannya Akmal yang saat ini masih mengumpulkan dana untuk bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, demi menggapai cita citanya menjadi seorang perawat. (end)