BOCAH PEMBAWA PERUBAHAN

12 Oktober 2019 - 14.21 WIB

Tayang Minggu, 14 Maret 2021 pkl 19.05 WIB


Pernahkah Anda membayangkan seorang anak kecil mampu menggerakkan masyarakat untuk membuat perubahan sosial yang besar? Bahkan orang-orang yang menerima manfaat dari perubahan itu adalah mereka yang usianya jauh lebih tua dari mereka. Dan hal itu terjadi di Indonesia. Dan Kick Andy epsiode Bocah Pembawa Perubahan akan menghadirkan anak-anak Indonesia yang sudah membawa perubahan positif di masyarakat. Berikut cerita mereka.


Narasumber pertama yaitu Muhammad Rafa Ibnusina Jafar atau akrab dipanggil dengan Rafa Jafar ini adalah seorang pendiri komunitas E-WasteRJ, sebuah komunitas non profit di Indonesia yang membentuk pengelolaan sampah elektronik dan mendukung penerapan pengembangan teknologi berkelanjutan. Rafa saat ini masih berusia 18 tahun dan duduk di kelas 3 SMA. Pada dasarnya, E-wasteRJ melakukan tiga fokus kegiatan, yakni mensosialisasikan atau berkampanye mengenai bahayanya sampah elektronik bagi kehidupan manusia, mengumpulkan sampah elektronik, dan mendaur ulang di tempat yang tepat. Berbagai jalur komunikasi pun digunakan Rafa di komunutasnya mulai dari media sosial, webinar, event, serta kunjungan ke berbagai sekolah di Indonesia. Rafa tertarik dan mulai peduli mengenai masalah sampah elektronik sejak kelas 5 Sekolah Dasar, sejak usianya masih 10 tahun. Kala itu Rafa mendapat tugas dari gurunya untuk membuat laporan. Tema besarnya ketika itu adalah soal gaya hidup. Lalu tema tersebut mengerucut ke peralatan elektronik yang sudah tidak dipakai lagi. Setelah itu, Rafa melakukan riset pengelolaan limbah elektronik bersama teman-teman satu kelompoknya. Selama kurang lebih tiga bulan hasil riset sampah elektronik telah diselesaikan Rafa dkk. Dan dari laporan itulah, Rafa ditantang sang Kakek untuk tak hanya sekedar laporan saja, namun harus diwujudkan dengan sebuah gerakan. Dari situlah hingga saat ini komunitas E-wasteRJ terbentuk. Dibantu sang bunda Diba, rafa mencari banyak referensi dan pihak yang mengurus sampah elektronik. Hal tersebut mempertemukan Rafa dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya. Di saat yang sama, ia juga telah menerbitkan sebuah buku dari risetnya dengan judul, E-WASTE (sampah elektronik) yang menjadi satu-satunya buku bergenre sains anak Indonesia (non-fiksi) yang dituliskan oleh anak Indonesia. Sejauh ini, E-wasteRJ telah merekrut agen di beberapa lokasi di seluruh Indonesia untuk memfasilitasi pengumpulan sampah elektronik dengan menyediakan dropbox khusus, tapi karena bersifat sukarela, sistem operasional yang efektif belum tercapai di semua lokasi. Lebih dari 4 ton sampah elektronik sudah terkumpul sejak 2016. Sampah elektronik yang terkumpul didistribusikan kepada perusahaan yang tersertifikasi oleh KLHK untuk pendaur ulangan sampah elektronik. E-wasteRJ juga ingin berkontribusi dalam mengembakan database sampah elektronik guna membantu pengambilan keputusan pemerintah pusat maupun daerah.


Narasumber selanjutnya yaitu seorang aktivis anak dan pegiat literasi asal Bulukumba, Sulawesi Selatan bernama Hilyatul Aulia Syahrul atau yang akrab disapa Ila. Ila saat ini sekolah di kelas 2 SMA Negeri 1 Bulukumba. Sejak kecil Ila selalu mendengar neneknya, yang selalu memotivasi untuk menjunjung tinggi pendidikan. Karena di desanya Ila banyak teman-teman seusianya yang menikah diusia dini daripada harus bersekolah terutama untuk kaum perempuan. Sepulangnya dari pertukaran pelajar itulah Ila membangun sebuah tim, yang mencakup guru dan teman-teman dekatnya mengubah sebuah ruangan di sekolah menjadi perpustakaan yang diberi nama Mari Mengenal Dunia. Ila ingin menginspirasi teman-temannya untuk bermimpi besar dan mengejar pendidikan tinggi dengan merombak dan membangun ulang perpustakaan di sekolahnya yang berisi koleksi buku informatif dan inspiratif untuk membuka wawasan akan dunia di luar sana. Meskipun sempat mengalami penolakan dari teman2nya, Ila tak gentar. Bahkan saat ini, sudah ada teman-temannya yang datang ke perpustakaan untuk membaca.

Terakhir yaitu Kusuma Dyah Sekar Arum atau yang akrab disapa Ara ini adalah seorang social entrepreanur muda yang berasal dari Salatiga, Jawa Tengah. Ara memulai perjalanannya sebagai seorang pembaharu diusia 10 tahun dengan inisiatifnya Moo’s Project, yang mengintegrasikan peternak lokal untuk memanfaatkan sumber daya yang dimiliki sapi dengan lebih baik lagi. Empat tahun berjalan, tim Moo’s Project mempertemukan 150 peternak di Sukorejo, Boyolali, untuk berbagi ilmu dalam pengelolaan ternaknya. Moo’s Project yang digagas Ara Kusuma ini bermula dari kesukaannya pada susu sapi sejak kecil. Melalui Moo’s Project, Ara juga belajar pentingnya pemasaran yang baik dalam menjaga keberlanjutan sebuah usaha. Pada tahun 2012 saat usianya belum genap 15 tahun, Ara melanjutkan kuliah di Singapura mengambil jurusan marketing dan management. Saat usianya 19 tahun Ara sudah menjadi sarjana. Ara terpilih menjadi Ashoka Young Changemaker di tahun 2008 dan meneruskan keterlibatannya dengan jejaring pembaharu internasional tersebut sebagai co-leader gerakan Everyone a Changemaker dan pemimpin program anak muda Ashoka.Ashoka merupakan lembaga yang didirikan oleh Bill Drayton pada tahun 1981. Ashoka diambil dari nama seorang raja di India yang hidup pada abad ke-3 sebelum masehi. Ashoka Foundation sendiri didirikan dengan tujuan memberikan dukungan untuk pengembangan social entrepreneurship. Kini, Ara juga tengah membagi waktunya untuk meningkatkan akses pendidikan kreatif dan berkualitas bagi teman-teman yang tidak memiliki infrastruktur pembelajaran daring selama pandemi ini dengan Aha! Project. Sejauh ini, inisiatif tersebut telah menjangkau lebih dari 1600 anak di 35 desa di 13 provinsi di Indonesia. (end)