BISNIS KEKINIAN

Tayang, Minggu, 27 Juni PKL 19.05 WIB

 

Berdasar Startup Rangking.Com jumlah startup di Indonesia per April 2021 mencapai 2.229 perusahaan rintisan. Dengan jumlah itu maka Indonesia menduduki peringkat kelima sebagai negara dengan jumlah startup terbanyak di dunia.. Negara dengan jumlah startup terbanyak dipegang Amerika, lalu India, United Kingdom, Kanada. Jenis usaha perusahaan rintisan di Indonesia beragam, mulai dari kuliner hingga pertanian. Pelaku perusahaan rintisan di Indonesia didominasi anak muda dan kalangan terdidik. Kondisi ini menggembirakan, karena makin banyak anak muda yang punya usaha, maka makin banyak membuka lapangan pekerjaan. Dengan banyaknya startup mendorong Indonesia menjadi negara maju. Berdasar riset, negara akan maju jika jumlah pelaku usaha mencapai 6 persen dari jumlah penduduk. Kali ini, Kick Andy menampilkan sosok di balik sejumlah startup yang terus berkembang.

 

Pertama, ada Hangry!. Startup ini merupakan multi-brand virtual restaurant pertama di Indonesia. Hangry! hadir mewarnai industri makanan dan minuman dengan 5 brand yang dikembangkan sendiri di bawahnya (brand in-house), yakni Bude Sari, Ayam Koplo,  San Gyu  Kopi Dari Pada dan Moon chicken.  Dari produk yang dijualnya tersebut Hangry! meraih Top 5 di kategori tiap brand di berbagai aplikasi berbasis delivery

 

Berdiri pada September 2019, Hangry! resmi beroperasi sejak November 2019 di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Hangry! didirikan oleh Abraham Viktor, Robin Tan dan Andreas Resha karena ketertarikan mereka yang sama pada makanan. Resto ini terinspirasi dari model bisnis cloud kitchen yang memanfaatkan fleksibilitas dan efisiensi infrastruktur dapur serta menghilangkan kepentingan berinvestasi di aset real estate yang prima sehingga akan selalu hadir di mana pun konsumen berada. Saat ini, Hangry! telah membuka lebih dari 40 outlet di wilayah Jabodetabek dan Bandung. Dengan pendanaan dari investor, Hangry! terus mengembangkan usahanya.  Hangry! memiliki ambisi besar untuk menjadi perusahaan kuliner global di tahun 2030, dimulai dengan menjadi perusahaan makanan dan minuman terbesar di Indonesia di tahun 2025.

Selanjutnya ada Nusantics yang didirikan tiga sekawan, Sharlini Eriza Putri, Revata Utama, dan Vincent Kurniawan pada tahun 2019. Nusantics adalah usaha rintisan (startup) yang bisnisnya mengaplikasikan teknologi genomik ke indusri. Nusantics merupakan startup teknologi genom pertama dan satu-satunya di Indonesia. Genomik adalah studi yang mempelajari genome, termasuk bagaimana organisme bekerja dan apa interaksinya dengan organisme lainnya. Nusantics mendiagnosis keberagaman microbiome di tubuh manusia untuk diaplikasikan pada perbaikan gaya hidup, khususnya menarget orang-orang yang peduli kesehatan.

Pendiri Nusantics tertarik membangun startup ini berdasarkan pengalaman mereka sebagai engineer. Mereka juga menemukan kesadaran bahwa inovasi industri di Indonesia masih terbatas karena ketidakpahaman terhadap life sciencedan microbiome. Namun, menyadarkan tetang hal itu jelas tidak mudah, apalagi membisniskannya. Karena itu, dalam rangka aplikasi ilmu dan teknologi yang digagas tim Nusantics, mereka memulainya dengan menggarap industri kecantikan terlebih dahulu yang dianggap lebih siap. Pada saat pandemi Covid-19 mulai merebak di tanah air, Nusantics digandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Biofarma, sebagai bagian dari tim Task Forcepembuatan test kit Covid-19. Nusantics ditugaskan membuat prototipe, koordinasi bahan baku, dan transfer knowledge ke Biofarma. Setelah prototipe hasil pengembangan Nusantics tersebut jadi, BPPT, Bio Farma, dan Indonesia International Institute for Life Science akan memproduksinya secara massal. Test kit yang didesain Nusantics itu diberi nama BioCoV TFRIC-19. Per akhir Juni 2020, sudah didistribusikan 100.000 test kit secara bertahap ke seluruh Indonesia.

Yang ketiga ada Java Fresh yang didirikan oleh Robert Budianto, Margareta Astaman, dan Swasti Adicita pada tahun 2014. Mereka bertiga mendirikan PT Nusantara Segar Global (NSG) pada 2014. Perusahaan ekspor ini fokus pada pengembangan buah-buahan tropis Indonesia, seperti manggis, jeruk purut, salak, kelapa, buah naga, durian, dan mangga. NSG telah mengekspor buah-buahan ke 18 negara di dunia dengan merek Java Fresh. Pasar terbesar Java Fresh saat ini adalah Eropa Barat, China, dan Rusia. 

Untuk menyedikan pasokan buah, Java Fresh menggandeng sekitar 3 ribu petani di berbagai daerah di Indonesia. Khusus untuk salak, Java Fresh menggandeng 33 kelompok tani di Yogyakarta. Selain itu, dalam menjalankan bisnisnya Java Fresh juga melihat dampak lingkungan sosial. Mereka mempekerjakan perempuan untuk bagian pengemasan. Pemberdayaan perempuan memang menjadi salah satu fokus mereka.***