BERSAMA KITA BISA!

12 Oktober 2019 - 14.21 WIB

Wabah corona (Covid-19) menyebar hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia saat ini jumlah kasus Covid-19 sudah mencapai ribuan kasus. Virus ini menyerang sistem pernafasan yang bisa menyebabkan gangguan pernapasan, pneumonia akut, hingga kematian. Tak ada cara lain untuk melawan Covid-19 selain bersatupadu, saling bantu, saling bekerjasama, saling tolong menolong tanpa pandang perbedaan. Bersama Pasti Bisa! Aksi solideritas dan gotongroyong yang dilakukan para pemuda Indonesia inilah yang di angkat Kick Andy.

Narasumber pertama yaitu Ben Soebiakto. Ben salah satu penggagas sebuah program digital ‘Live Stream Fest’ yang dapat dinikmati masyarakat Indonesia, terutama untuk mereka yang mudah mengakses internet. Ide tersebut muncul di minggu kedua, setelah Indonesia dinyatakan memiliki kasus Covid-19 dan meminta masyarakat untuk tetap tinggal di rumah. Ben dan tim event-nya mencoba untuk membuat sebuah alternative format baru di industry event Indonesia, yaitu dengan event berbasis digital. Tidak hanya dalam satu jenis event, tetapi dari berbagai jenis seperti musik, talkshow, workshop, komedi, experience, cooking, dan lain sebagainya. Adapun bintang tamu yang mengisi acara Live Stream Fest tersebut diantaranya ada Jerome Polin, Dian Sastro, Andy F Noya, Zaskia Mecca, Reza Artamevia dan masih banyak lainnya. Live Stream Fest volume pertama diadakan pada tanggal 4 dan 5 April 2020 yang diawali dengan para penggerak industri memberikan pandangan terhadap dunia industri di Indonesia selama Covid-19 hingga pandangan dari pejabat negara terkait dampak Covid-19 pada berbagai bidang. Penonton di rumah pun dapat memberikan pendapat dan pengajukan pertanyaan secara online selama sesi berlangsung. Awalnya Live Stream Fest ini hanya akan dilaksanakan dalam satu volume saja, namun melihat respon positif dari masyarakat, Ben dan tim pun memutuskan untuk mengadakan volume dua dengan gaya yang sama dalam dua minggu kemudian. Sehingga volume dua dapat dilaksanakan pada tanggal 17 hingga 19 April 2020. Peminatnya pun semakin banyak, jika volume satu berhasil mengajak 132 ribu orang untuk bergabung, volume dua berhasil mengajak 500 ribu orang. Dalam Live Stream Fest ini juga mengajak masyarakat yang menyaksikan untuk memberikan dukungan dan membantu saudara yang rentan terkena dampak Covid-19 dengan mengirimkan donasi sepanjang penyelenggaraan acara. Bekerja sama dengan Benih Baik, program Live Stream Fest akan memberikan bantuan untuk pembelian sembako dan bantuan langsung tunai bagi mereka yang membutuhkan selama pandemic Covid-19 supaya bisa tetap di rumah. Di dalam platform penggalangan dana Benihbaik.com, sampai dengan Live Stream Fest volume dua, sudah terkumpul 553.732.088 rupiah tanpa batas waktu, dan beberapa diantaranya sudah di salurkan kepada para pekerja harian pihak terdampak Covid-19. Live Stream Fest akan melanjutkan volume tiga selama bulan puasa, dengan sajian yang lebih menarik untuk menemani masyarakat supaya tetap di rumah saja. Ada kajian, siraman rohani, dan juga menu buka puasa, ada cooking session nantinya.

Narasumber ke dua yaitu Henny Zidny Robby Rodhiya salah satu pendiri Gerakan social Nutrisi Garda Terdepan (NGT). Meski baru mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Henny Zidny mengajak teman-teman mahasiswa FKUI untuk melakukan penggalangan dana mendukung tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan dalam mengatasi wabah Covid-19 ini. Ide penggalangan dana tersebut muncul ketika salah seorang dosennya yang juga bertugas di RSCM memberikan extra fooding kepada tenaga kesehatan di sana. Minggu kedua Maret lalu, Gerakan Nutrisi Garda Terdepan (NGT) yang dimotori oleh Henny ini pun terbentuk dengan dukungan kurang lebihnya 30 mahasiswa FKUI pada awalnya. Ia mengaku memilki tantangan tersendiri dalam mengajak mahasiswa FKUI untuk bergabung dalam gerakan social tersebut. Selain disibukan dengan tugas sebagai mahasiswa akhir, mereka juga harus mendapatkan izin dari orangtua masing-masing untuk menjadi relawan pendistribusian makanan gizi seimbang ke rumah-rumah sakit rujukan yang akan di bantu. Di masa pandemi ini Henny menceritakan bahwa tenaga kesehatan sangatlah penting. Pengalamannya ketika koas pun membuatnya semakin terpanggil untuk turut mendukung nutrisi tenaga kesehatan yang harus berjaga setiap hari. Sesuai dengan visi misinya, aksi ini dilakukan untuk mencoba memenuhi kebutuhan nutrisi para tenaga medis. Nutrisi Garda Terdepan membuka pengumpulan dana melalui platform galang dana seperti kitabisa.com dan juga benihbaik.com. Seluruh dana yang terkumpul diumumkan secara transparan melalui media sosial resmi mereka seperti instagram dan twitter secara rutin setiap dua hari sekali. Mereka juga menerima siapa saja yang ingin membantu dalam bentuk makanan dan nutrisi. Dalam pendistibusian, NGT melakukan sesuai dengan prosedur yang dianjurkan dan aman. Para petugas mengantarkan makanan dengan alat pelindung seperti masker dan sarung tangan. Mereka juga bekerja sama dengan GoBox dan juga Grab Food untuk suplay makanan.


Narasumber ketiga yaitu Pandhu Adjisurya co founder Help To Help. Help To Help adalah sebuah gerakan non profit yang di motori oleh dokter Gabriela Forencia dan Pandhu Adjisurya yang merupakan seorang sutadara film. Help to help merupakan gerakan yang bertujuan untuk membantu tenaga medis di seluruh Indonesia untuk mendapatkan Alat Pelindung Diri (APD) yang layak. Help to Help ingin memberikan donasi APD untuk rumah sakit rujukan covid-19 yang berada di luar jabodetabek. Alasan mereka, rumah sakit rujukan yang ada di wilayah Jabodatebek sudah dibantu pemerintah dan bahkan banyak pihak swasta yang bantu pula. Sebagai co-founder Pandhu menceritakan awal dari tercetusnya Help To Help ketika Gabriela curhat tentang minimnya APD ketika ia bertugas di Bali melalui Instagram stories. Pandhu pun merespon keresahan Gabriela tersebut. Pandhu langsung mengajukan dirinya bersedia membantu, meskipun Pandhu bukan orang medis karena Pandhu berprofesi sebagai sutradara. Ketika merespon Gabriela, posisi Pandhu sedang melakukan syuting film di Jogja, pasca kasus Covid-19 di Jakarta terkait pasien 01, 02, 03. Di Jogja pun Pandhu dalam keadaan tidak tenang, ternyata kasus di Jogja juga banyak yang menjadi ODP saat itu. Mereka pun break dari syuting dan melakukan cek kesehatan. Saat itu Pandhu melihat rumah sakit yang ia kunjungi, petugas kesehatannya tidak menggunakan APD yang lengkap, hanya menggunakan masker saja. Pandhu merasa ini sangat berbahaya. Gerakan yang semula hanya sporadis ini pun diatur dengan baik, mereka membentuk sebuah tim yang terdiri dari 14 orang, 12 orang diantaranya berprofesi di bidang medis, dan 2 lainnya non medis, termasuk Pandhu di dalamnya. Meski baru terbentuk, Help To Help serius dalam menindaklanjuti dukungan mereka. Dengan kekuatan tim yang mayoritas tenaga kesehatan mereka mantap untuk mendukung pengadaan APD secara lengkap kepada tenaga kesehatan di rumah sakit rujukan covid-19 se Indonesia.


Semoga kisah tiga pemuda pemudi ini, dapat menginspirasi kita semua untuk melakukan perbuatan baik, membantu sesama guna memutus mata rantai penyebaran covid-19 di Indonesia.