BARA DI TENGAH KETERBATASAN

TAYANG : MINGG, 26 SEPTEMBER 2021 PKL 19.05 WIB

Memiliki keterbatasan fisik bukan penghalang seseorang untuk tetap berkarya dan bekerja. Selama ada kemauan dan usaha untuk bisa hidup mandiri. Seperti narasumber Kick Andy episode “Bara Di Tengah Keterbatasan” berikut ini. Mereka adalah para penyandang disabilitas yang mampu membuktikan dirinya mampu bekerja dan menguasai teknologi berbasis digital.

Ialah Migel Arifen Aries Dano atau yang akrab disapa Miji, merupakan penyandang disabilitas netra. Pemuda berusia 33 tahun ini, terlahir dalam keadaan non disabilitas. Namun sebuah peristiwa naas menimpa Miji. Miji yang kala itu duduk di bangku akhir SMA, harus merelakan penglihatannya lantaran ditampar oleh gurunya. Meskipun dalam keterbatasan, tak membuatnya patah arang. Demi menyelesaikan sekolah dan meraih mimpinya, Miji belajar huruf brille, serta belajar menggunakan ponsel dan laptop untuk tuna netra. Satu kesempatan, Miji mengikuti pelatihan komputer yang diselenggarakan oleh Kominfo. Demi mengasah kemampuannya di bidang digital, ia fokus mengikuti program pelatihan dan kompetisi e-commerce, dan mampu meraih juara 2. Dari hasil pelatihannya Miji mulai mengaplikasikan untuk membangun usaha. Ia pun membuar ikan se’i atau ikan asap, lalu menjualnya di media sosial. Bagi anak sebatang kara ini, keterbatasan bukanlah halangan untuk berkarya dan berusaha.

Daya juang dan semangat yang tinggi, adalah modal seseorang bangkit dalam keterpurukan. Inilah yang dipegang teguh oleh perempuan berusia 29 tahun, Echi Pramitasari. Echi terlahir non disabilitas, namun sebuah kecelakaan menyebabkan dirinya menjadi seorang disabilitas fisik. Echi mengalami paraplegia, yaitu kelumpuhan pada anggota gerak dari area panggul ke bawah, sehingga ia pun harus menggunakan kursi roda. Anak sulung dari 4 bersaudara ini, tak ingin menyulitkan keluarga dan orang sekitarnya, maka ia pun berusaha tetap mandiri meskipun dalam keterbatasan. Siapa sangka, dibalik keterbatasan, Echi dan rekannya mampu meraih prestasi dalam Global IT Challenge For Youth With Disabilities, di Korea Selatan. Echi menyabet juara 3 dalam kategori E-design se Asia Pasifik. Bekat kemenangannya ini, Echi banyak dilibatkan dalam pelatihan pelatihan di Kominfo Republik Indonesia. Saat ini, Echi pun bekerja di badan litbang SDMKominfo, sejak tahun 2017. Keinginannya memotivasi rekan rekan disabilitas yang lain, mendorong Echi membentuk Komunitas Paradifa, untuk mengasah dan mengembangkan potensi mereka. Harapan Echi, para disabiitas bisa memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam segala bidang, juga memiliki rasa aman dan nyaman di ruang publik.

Tidak lah mudah menjalani kehidupan dengan keterbatasan fisik. Namun, tidak bagi Afiriyan Choirul Anam atau biasa dipanggil Anam ini. Pemuda berusia 24 tahun ini, selalu semangat dalam menjalani hidup. Sejak usia 1 tahun, anam mengalami penurunan tumbuh kembang dan divonis memiliki penyakit spinal muscular antrophy, penyakit genetik yang ditandai dengan kelumpuhan otot. Rupanya, adik Anam juga mengalami hal yang sama dengan Anam. Sebagai penyandang disabilitas, Anam anak yang berprestasi. Anam merupakan pemenang OSN atau Olimpiade Sains Nasional pada tahun 2011, 2012, dan 2014. Sejak mengikuti OSN bidang IT pada tahun 2012, Anam mulai menaruh minat di bidang tersebut, dan rutin mengikuti perlombaan IT di berbagai institusi. Setelah lulus kuliah pada tahun 2019, Anam pun berhasil bergabung ke dalam perusahaan CV Infinite Solutions sebagai Dot Net Junior Programmer. Anam membuktikan bahwa menjadi penyandang disabilitas mampu berkarya, selama ada kemauan dan semangat hidup.

Narasumber terakhir adalah perwakilan dari pemerintahan yaitu Fadilah Mathar atau biasa disapa Indah, Selaku Direktur Sumber Daya dan Administrasi BAKTI Kominfo yang menangani perancanaan strategis, legal, pengadaan,humas dan kepegawaian, Indah turut membawa disabilitas disetiap kegiatan yang ia bawa lantaran kepeduliannya terhadap isu disabilitas. Ia menceritakan awal dari ketertarikannya dengan disabilitas ketika tahun 2014 Kominfo membantu Pustiknas tahun yang sudah beroperasi tahun 2010, bekerja sama dengan sebuah yayasan dari Korea Selatan untuk memberikan keterampilan pada disabilitas. Tapi pelatihan itu awalnya hanya untuk teman-teman aparatur, mahasiswa yang non disabilitas. Kemudian 2014 yayasan dari Korea Selatan menyampaikan bahwa tahun 2015 akan ada kompetisi TIK untuk disabilitas, dari YPAC minta pelatihan di Pustiknas. Disabilitas yang dilatih melalui Pustiknas saat itu pun dikirim ke Korea Selatan untuk mengikuti Olimpiade TIK. Setelah melihat kurikulum dari pelatihan-pelatihan yang telah dilakukan, Pustiknas bersama Kominfo semakin mantap untuk terus mengadakan pelatihan untuk disabilitas. (end)