BANGKIT BERSAMA

12 Oktober 2019 - 14.21 WIB

Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) merupakan salah satu penggerak perekonomian nasional. UMKM yang jumlahnya jutaaan mampu bertahan saat krisis ekonomi menerpa tanah air. Di Kick Andy kali ini menceritakan kisah para pengusaha kecil yang terkena dampak pandemi Covid-19, namun mereka tidak patah semangat. Mereka optimis mampu bangkit dan memberi manfaat bagi orang lain.


Dalam mengembangkan usahanya, toko kopi Joyo 99, Setya Yudha Indraswara (42) yang akrab disapa Ulil lebih mengendepankan pendekatan pertemanan. Untuk itu, Ulil mendirikan Jaringan Warkop Nusantara (JWN). JWN yang didirikan Ulil pada tahun 2016 merupakan komunitas tanpa struktur dan sangat cair. Ulil mengaku JWN yang didirikannya tidak memberinya kekayaan. Namun, dari situ ia mendapat banyak teman yang mengalirkan rezeki. Setiap hari, selalu ada orang yang datang ke toko kopi Joyo 99 sekaligus ”markas” JWN yang berada di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Setiap hari rata-rata 15 orang datang ke JWN untuk belajar kopi. Awalnya yang datang adalah para pensiunan yang ingin menekuni bisnis kopi. Belakangan, kebanyakan yang datang anak-anak muda. Sebagian dari mereka adalah lulusan SMA yang tidak bisa meneruskan kuliah, tapi tak punya keterampilan untuk terjun ke dunia kerja. Setelah belajar di JWN, sebagian menyebar ke sejumlah kedai kopi yang tumbuh subur di mana-mana. Ada pula yang merintis warung kopi sendiri.


Sementara bagi Slamet Riyadi (70) ada kebahagian sendiri dengan berbagi kegiatan positif dengan para orang lanjut usia. Slamet Riyadi adalah pendiri Lumintu Recyle Art. Nama Lumintu merupakan kepanjngan dari Lumayan Itung-itung Nunggu Tutup Usia. Sesuai dengan namanya, produk Lumintu memang mayoritas dikerjakan oleh para lanjut usia. Slamet mendirikan Lumintu pada tahun 1998 dan sejak awal, Slamet ingin menggandeng para lansia di sekitar rumahnya yang berada di Sudimara, Kota Tangerang, Banten. Mereka mengolah limbah sampah khususnya sampah plastik dan aluminum foil menjadi berbagai barang kerajinan, seperti tas dan dompet yang punya nilai jual tinggi. Selain dipasarkan di dalam negeri, produk Lumintu juga dipasarkan ke sejumlah negara diantaranya Malaysia, Kanada, dan Amerika. Slamet juga sering diminta memberi pelatihan di sekolah bertaraf internasional, ke Lembaga Pemasyarakatan (LP), anak jalanan dan waria.

Bermodal uang Rp 300 ribu, Yustina Sadji (48) merintis usaha pembuatan keripik pisang pada tahun 2009. Usaha warga Noelbaki, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini berkembang dengan pesat. Permintaan pasar terus tumbuh. Tidak hanya dari Kupang, tapi juga kabupaten/kota lain di NTT bahkan dari propinsi lain seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sorong dan juga dari Timor Leste. Untuk memenuhi permintaan itu, ia menggandeng para ibu-ibu yang tergabung dalam Jaringan Perempuan Usaha Kreatif NTT. Saat ini, ada 50-an perempuan di dalam Jaringan Perempuan Kreatif NTT terlibat dalam usaha aneka keripik. Yustina senang anggota jaringan di Kabupaten Kupang dan Kota Kupang berhasil membangun usaha sendiri. Dari situ mereka bisa menambah penghasilan keluarga dan menyokong suami. Kegiatan Yustina dalam pemberdayaan perempuan juga menyentuh perempuan eks pengungsi Timor Timur (Timor Leste) di Noelbaki. Yustina mendorong mereka agar memproduksi perabotan rumah tangga berbahan daun lontar seperti tas, tempat sirih pinang, tempat beras, tempat tapis beras, topi Ti’I Langga, dan tikar. Yustina membantu memasarkan hasil anyaman para perempuan eks pengungsi Timor Timur itu, sehingga dapat menambah pendapatan mereka.

Dari cerita para nara sumber Kick Andy terlihat bahwa UMKM punya peran yang penting dalam menopang perekonomian. Dengan perannya tersebut pemerintah memberi perhatian pada keberlangsungan dan kemajuan UMKM. Pemberian bantuan modal, pelatihan dan pendampingan diberikan pada UMKM. Dengan usaha pemerintah itu, banyak UMKM yang mampu bertahan dan terus berkembang meski di tengah krisis.***