ADA APA DENGAN JALI, KELOR DAN SINGKONG

12 Oktober 2019 - 14.21 WIB

Indonesia dikenal mempunyai tanah yang subur dengan beragam tanaman yang dapat diolah menjadi bahan pangan atau digunakan untuk kepentingan lain diantaraya untuk obat. Namun sejumlah tanaman mulai dilupakan karena masyarakat Indonesia mayoritas mengkonsumsi nasi. Anak muda sekarang mungkin sudah tidak mengenal Jali atau Hanjeli. Dulu biji jali dikonsumsi layaknya nasi seperti sekarang.


Asep Hidayat Mustopa (33) berhasil mempopulerkan kembali jali atau hanjeli. Tidak terlalu populer di kalangan masyarakat Indonesia masa kini, meskipun sejatinya hanjeli telah dikenal sejak lama. Selain itu, hanjeli memiliki kandungan setara beras. Bulir hanjeli mengandung karbohidrat (76,4%), protein (14,1%), lemak nabati (7,9%), dan kalsium (54 mg per 100 gram). Kandungan proteinnya ini lebih tinggi daripada beras. Ketahanan tanamannya juga bagus, tak banyak memerlukan pengairan, jadi tahan di musim kemarau. Awalnya tidak mudah meyakinkan warga di tempat tinggalnya di Desa Waluran Mandiri, Sukabumi, Jawa Barat untuk menanam hanjeli, namun setelah mereka mengetahui nilai ekonomi hanjeli yang tinggi warga antusias budidaya hanjeli. Sebagai pencinta wisata alam, Asep memiliki visi jauh ke depan dengan gerakan bersama warga desa yang ia pelopori itu, yakni Integrated Tourism Farming (ITF), agro-wisata berbasis komunitas, konsep wisata yang terintegrasi dengan pertanian, edukasi, dan pemberdayaan warga. Berkat usahanya, Asep mendapat penghargaan sebagai juara 1 Pelopor Ketahanan Pangan Propinsi Jawa Barat dan Sukabumi Award 2019 sebagai pelaku usaha Industri Kecil dan Menengah Berprestasi


Kelor yang tumbuh subur di Indonesia dipandang sebelah mata. Dulu kelor lebih dihubungkan dengan hal-hal mistis diantaranya sebagai sarana pengusir mahluk halus. Namun kini kelor telah diolah menjadi beragam produk dan ternyata kandungan nutrisinya sangat bagus sehingga kelor sering disebut sebagai superfood. Kelor mengandung 92 jenis nutrisi, 46 antioksidan dan 18 asam amino. Selain itu, kelor mengandung vitamin C 7 kali lebih banyak dari jeruk, vitamin A 4 kali lebih banyak dari wortel, kalsium 4 kali lebih banyak dari susu, protein 2 kali lebih banyak dari yogurt, kalium 3 kali lebih banyak dari pisang dan zat besi 25 kali lebih banyak dari bayam.


Felix Bram Samora (32) melihat kelor merupakan komoditas yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Felix Bram adalah pendiri Rumah Kelor yang berada di Blora, Jawa Tengah. Rumah Kelor yang berdiri pada tahun 2015 Kelor mengolah daun kelor menjadi berbagai produk yang mempunyai nilai jual tinggi diantaranya teh, bubuk dan sabun. Ia juga mengolah biji kelor menjadi minyak biji kelor. Dengan Rumah Kelor, Felix mampu membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Apresiasi dan penghargaan pernah diperoleh Felix diantaranya menjadi juara utama di ajang Indofood Local Pitch Competition (ILPC) 2018, masuk top 20 Bibli Big Start Indonesia Season 4 dan masuk sebagai finalis di ajang Astra Start-up Chalenge 2020.


Orang lebih mengenal tepung gandum dibanding tepung singkong yang dimodifikasi atau modified cassava flour (mocaf). Padahal mocaf dapat diproduksi di dalam negeri sedang tepung gandum harus diimpor. Tepung singkong juga lebih sehat karena 100 persen gluten free, sehingga aman dikonsumsi penderita diabetes dan anak dengan gangguan autis. Dengan Rumah Mocaf yang didirikanya pada tahun 2014 di Banjarnegara, Jawa Tengah, Riza Azyumarridha Azra (28) dan sang istri, Wahyu Budi Utami bercita-cita Indonesia dapat swasembada tepung dengan mengolah singkong menjadi mocaf. Rumah Mocaf adalah sebuah perusahaan yang berlandaskan asas sociopreneurship. Perusahaan ini sangat mengedepankan kolaborasi dengan seluruh masyarakat Banjarnegara. Hal tersebut bertujuan agar mampu meningkatkan kesejahteraan petani singkong dan masyarakat. Semua bertumbuh dan berkembang bersama untuk menyediakan produk tepung yang terbaik. Masyarakat yang tergabung dalam usaha mengembangkan mocaf saat ini terdata sebanyak 451 orang. Mereka telah merasakan manfaat adanya Rumah Mocaf.***