


Menteri Perdagangan mengeluarkan kebijakan bagi PNS untuk memiliki skor 600 untuk TOEFL (bahasa Inggris)
“And the war began, that is, an event took place opposed to human reason and allLebih banyak mana, keuntungan atau kerugian secara fisik maupun mental, yang diakibatkan oleh sebuah perang? Jawabannya, tergantung di posisi sosial mana kita saat ini. Jika anda seorang tentara, atas nama patriotisme dan nasionalisme, perang mungkin banyak untungnya karena secara psikologis mereka dipacu untuk memenangi peperangan untuk membela sebuah ideologi. Tetapi bagi masyarakat sipil, perang mungkin lebih banyak merugikan mereka karena korban biasanya memang lebih banyak datang dari warga sipil.
Seperti Tolstoy di atas, perang memang sangat melawan akal sehat dan nurani kemanusiaan. Yang lebih meyakitkan dan membawa dampak berjangka panjang adalah efek perang terhadap pertumbuhan individu anak-anak dan keluarga. Secara tidak disadari, efek perang adalah munculnya deretan kekerasan yang melibatkan ayah terhadap anak, ibu terhadap anak, anak terhadap teman-teman sepermainannya, dan kombinasi di antara ketiganya. Pendek kata, akibat perang yang paling kasat mata adalah kekerasan. Gambaran tentang ini terjalin sangat apik dalam film cukup lawas berjudul the war yang dibintangi oleh Elijah Wood dan Kevin Costner.
Sejalan dengan kesimpulan Tolstoy soal perang, Stu (diperankan oleh Elijah Wood) membuat sebuah kesimpulan sangat baik tentang kekerasan yang terjadi antara satu keluarga dengan keluarga lainnya sesama veteran perang Vietnam. Kata Stu “semua manusia mengenal apa itu perang, tetapi perang tak mengenal manusia.” Betapa traumatiknya sebuah masyarakat akan akibat perang, sehingga kekerasan kemudian menjadi gelombang kedua dari efek perang yang kurang disadari oleh manusia. Tetapi jika kekerasan di dalam keluarga dan atau di sekolah kerap terjadi, bentuk perang apa yang kira-kira terjadi sebelumnya?
Hampir setiap hari kita menyaksikan berita tentang kekerasan, baik yang terjadi di tengah keluarga, masyarakat, dan sekolah. Tawuran antar sekolah dan bentuk-bentuk intimidasi lainnya terhadap anak ketika belajar di sekolah kerap terjadi namun kita seakan tak bisa memberi jalan keluar. Meskipun saran dan seruan tentang penting dan perlunya pendidikan moral, akhlak, karakter dan pendidikan agama sudah sering kita dengar, tetapi kekerasan terhadap anak masih saja tetap terjadi. Jika kekerasan adalah bentuk lain dari perang, maka dalam terminologi the psychosocial costs of structural violence sangat boleh jadi kemiskinan (poverty) adalah bentuk perang sesungguhnya yang sedang dialami oleh masyarakat kita, terutama perempuan dan anak-anak (Brown:1983; Edelmen:1983).
Selama akar kemiskinan belum bisa diselesaikan, maka kekerasan tak akan mudah diselesaikan, baik di tingkat keluarga, masyarakat maupun sekolah. Faktor lain yang juga mudah memicu kekerasan adalah pengangguran (unemployment), yang seperti halnya kemiskinan, sangat berpengaruh terhadap model pengasuhan (parenting) orang tua di keluarga dan guru di sekolah (Toomey & Christie: 1990). Itulah sebabnya mengapa hampir semua orangtua yang miskin dan guru yang selalu memiliki kekurangan dan rendah diri cenderung tak memiliki sikap yang hangat dalam berinteraksi dengan anak-anak mereka.
Selain kedua alasan di atas, kekerasan di sekolah kerap terjadi lebih banyak dikarenakan guru dan atau senior (kakak kelas) salah dalam mengartikan kata disiplin. Menurut Rizal Panggabean (2009), paling tidak ada tiga hal yang membuat guru, kakak kelas, dan bahkan orangtua salah dalam memaknai disiplin. Pertama, pendekatan disiplin bersifat punitif atau menghukum terhadap siswa yang tidak patuh dan karenanya dianggap bersalah. Pengalaman banyak sekolah menunjukkan pendekatan punitif dan taktik menindas, apalagi dengan hukuman fisik dan kekerasan, telah terbukti tidak efektif. Selain itu, riset manajemen konflik di sekolah juga menunjukkan bahwa bentuk hukuman lain, seperti peringatan keras, memanggil orang tua, dan skorsing juga sama tidak efektifnya dalam menurunkan kekerasan termasuk bullying di sekolah.
Kedua, pendekatan disiplin seperti di atas tentu saja akan megganggu dan merusak perkembangan otonomi peserta didik. Siswa diperlakukan serupa bejana kosong, yang harus diisi dengan aturan, nilai, dan norma kepatuhan, yang kalau tidak demikian individu akan membahayakan masyarakat. Ketiga, pendekatan disiplin berbahaya dilihat dari sudut pengembangan imajinasi dan intelek siswa. Nilai-nilai penting yang hendak dikembangkan melalui pendidikan adalah kemanusiaan, rasa ingin tahu, dan kreativitas, termasuk kreativitas artistik. Nilai-nilai ini yang membebaskan imajinasi dan intelek siswa; bukan loyalitas, disiplin, kepatuhan, atau kekuatan fisik.
