logo
Tayang Setiap : Jumat pk 21.30 WIB
Tayang ulang : Minggu pk 15.30 WIB

About | Contact | Help/FAQ

Follow On :

  • Home
  • The Show
  • Video Streaming
  • Foundation
  • Andy`s Friend
  • Andy`s Corner
  • Store
  • Community
Login | Register
 
Menu Friend
  • Ahmad Baedowi
  • Billy Boen
  • Desi Anwar
  • Iwan Setyawan
  • Veronica Colondam
  • Yoris Sebastian
  • Muhamad Iman Usman
Polling

Menteri Perdagangan mengeluarkan kebijakan bagi PNS untuk memiliki skor 600 untuk TOEFL (bahasa Inggris)

 Setuju
 Tidak Setuju
 Tidak tahu
Ahmad Baedowi
Rabu, 25 Agustus 2010 08:13:00 WIB
SEKOLAH NON FORMAL
 SEKOLAH NON FORMALAda banyak alasan bagi kita untuk mempersoalkan bagaimana nasib pendidikan moral dan budi pekerti dikembangkan dan diajarkan kepada anak-anak kita di sekolah. Setiap bentuk anomali perilaku anak-anak di sekolah, baik dalam bentuk tawuran antar siswa, penyalahgunaan obat terlarang, penyimpangan perilaku seksual, hingga penistaan peran guru melalui facebook, misalnya, selalu disikapi dengan pendekatan serba formal, termasuk di antaranya usulan tentang perlunya membuat model kurikulum pengembangan pendidikan moral dan budi pekerti. Selain kurikulum, sepertinya tidak ada lagi cara lain untuk memperbaiki perilaku siswa menyimpang. Pertanyaannya adalah, kurikulum yang bagaimana lagi ingin kita buat untuk pendidikan moral dan budi pekerti di sekolah?

Para penggiat dan pemikir pendidikan sejak lama gundah tentang suasana pendidikan yang berlangsung di sekolah. Orang seperti Ivan Illich dan Paolo Freire bahkan mengkritik dengan pedas sekali bahwa sekolah telah menjadikan para siswa seperti robot karena kurangnya mereka dilatih untuk memberi respon kreatif. Lebih hebat lagi bahkan keduanya juga menuduh sekolah telah memasung kebebasan, kreativitas serta membunuh daya pikir anak. Sejak lama sistem sekolah lebih banyak menggunakan pendekatan kognitif, tetapi abai dalam menumbuhkan dan melatih aspek afektif dan psikomotorik siswa secara tajam.

Soal-soal (test) di sekolah lebih banyak menuntut siswa untuk hanya menjawab benar dan salah, tetapi lalai dalam melakukan otokritik terhadap pelembagaan ujian meskipun saat ini, katanya, pemerintah telah memberlakukan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang seharusnya memberi ruang yang lebih banyak bagi guru dan siswa untuk mendesain pola pembelajarannya. Kenyataannya? Kurikulum masih sentralistik, terlalu banyak mengatur ini boleh dan itu tidak boleh, sehingga antara guru dan birokrasi pendidikan kita menjadi setali tiga uang; saling mempengaruhi untuk menumbuhkan budaya kepatuhan tanpa inovasi yang berarti.

Kritik lain juga menyebutkan bahwa pendidikan dengan pola sekolah sama saja dengan industri yang bak sebuah mesin, memperlakukan anak-anak sebagai bahan baku yang siap dicetak menjadi orang yang hanya siap bekerja di pabrik. Karena lebih mementingkan aspek kognitif, sekolah sangat mendorong para siswa untuk menjadi manusia-manusia individualis yang lupa bahwa sesungguhnya mereka adalah makhluk sosial. Belajar seperti kompetisi untuk saling mengalahkan dan menyisihkan orang lain, sehingga menimbulkan banyak sekali labeling seperti murid pandai dan murid bodoh, kelas biasa dan kelas khusus, sekolah nasional dan sekolah internasional. Karena itu wajar jika orang seperti Ivan Illich dan Paulo Freire mengganggap bahwa proses pendidikan di sekolah tak ubahnya seperti ladang tempat di mana para guru membunuh dan menindas potensi kemanusiaan siswa-siswi mereka. Dalam konteks ini, maka wajar jika sekarang kita disibukkan dengan rencana dan wacana untuk membuat model kurikulum pendidikan moral dan budi pekerti.

Dalam sebuah survey yang dilakukan oleh Phi Delta Kappa/Gallup study tahun 2004, 73% responden setuju bahwa kelemahan mendasar pendidikan adalah jarangnya guru baik hati yang pro pada perasaan dan sikap/perilaku anak. Survey tersebut juga menunjukkan bahwa jika karena kondisi terpaksa/mendesak seseorang harus berhenti dari profesinya sebagai seorang guru, jawaban yang paling banyak dipilih adalah karena alasan rendahnya gaji dan fasilitas (67%), kekakuan birokrasi (21%), kesulitan dalam menghadapi orangtua siswa (8%), dan alasan kondisi siswa (4%). Artinya, hanya 4% saja sebenarnya guru yang selalu memiliki keterikatan secara emosional terhadap siswa mereka (Rosanne Liesveld and Jo Ann Miller: 2005). Tetapi ketika ditanya kepada para orangtua dan guru tentang apa yang menyebabkan mereka kurang peduli terhadap siswa, 76% menjawab karena rata-rata siswa malas, tidak disiplin dan bodoh.

Cerita dan fakta di atas menunjukkan bahwa keterikatan (engagement) secara psikologis atau emosional sesungguhnya musuh guru itu sendiri. Dalam konteks pendidikan di sekolah, jangan-jangan lebih banyak guru yang memberi PR daripada yang memeluk dan mencium siswanya di kelas. Jangan-jangan guru-guru kita memang benar seperti dugaan Paulo Freire, mengganggap siswa-siswi mereka sebagai tahanan (prisoners) atau pekerja (employees) yang harus selalu ditekan untuk belajar dan belajar, tetapi bukan mendidik. Di sinilah sesungguhnya pembeda antara pengajar dan pendidik. Dibutuhkan guru dengan tingkat kecerdasan emosional yang tinggi, karena ikatan emosional yang lebih akan menyebabkan hubungan guru-siswa menjadi lebih akrab, dinamis, dan mudah membuat mereka memahami sekaligus mematuhi aturan yang ada.

ARTIKEL TERKAIT :
Arsip +
  • Memaknai Ragam Budaya
  • Dahniar
  • Caesar dan Commodus
  • Virtu
  • TPI
| Share Kick Andy | Kommentar (7) | Dibaca (3806)
Kommentar Anda :

Aturan Posting Kommentar :

Seluruh layanan yang diberikan mengikuti aturan yang berlaku dan ditetapkan oleh kickandy.com.

Pasal Sanggahan :

kickandy.com tidak bertanggung-jawab atas tidak tersampaikannya data/informasi yang disampaikan oleh pembaca melalui berbagai jenis saluran komunikasi (e-mail, sms, online form) karena faktor kesalahan teknis yang tidak diduga-duga sebelumnya.

kickandy.com berhak untuk memuat , tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

Data dan/atau informasi yang tersedia di kickandy.com hanya sebagai rujukan/referensi belaka, dan tidak diharapkan untuk tujuan perdagangan saham, transaksi keuangan/bisnis maupun transaksi lainnya.



Sabtu, 02 April 2011 05:00:58 WIB
Asep Saeful Ulum : peduli
Yg saya lihat, ada 2 hal besar yang dimiliki kurikulum : harapan ideal (sebut tujuan pendidikan nasional), dan aturan-aturan yg harus dipatuhi&dilakukan siswa selama di kelas. Hebatnya, dua hal besar kurikulum itu telah 'berhasil' membuat siswa jatuh sebagai korban.
Rabu, 15 September 2010 15:18:16 WIB
anisaoctavia : how?
terus bagaimana dengan anak-anak yang belum tau hal ini??apakah mereka harus menjadi korban??tp bukannya guru itu di didik untuk memahami setiap karakter anak sehingga tidak setiap anak diperlakukan demikian???apakah anda pernah merasakan hal-hal yang sama seperti kami?
Sabtu, 04 September 2010 11:17:50 WIB
widi : siswa terbaik
Yakinkanlah anak-anak kita bahwa mereka punya kemampuan terbaik dan akan berhasil dengan usaha terbaik mereka. Tetap dampingi dan semangat dalam proses pembelajaran dimana saja. Mereka akan bisa jika kita punya keyakinan yang sama
Minggu, 29 Agustus 2010 17:52:13 WIB
anisaoctavia : sekolah adlh pilihan terburuk
bener banget, aku setuju banget sama om ahmad baedowi. tapi solusinya apa kalo kita udah terlanjur sperti ini?saya ingin sekali berhenti sekolah, dan mengejar mimpi" saya untuk keliling dunia tetapi saya tidak tahu apa yang mesti saya lakukan. sekolah adalah pilihan terburuk yg pernah saya pilih.
Minggu, 29 Agustus 2010 17:19:18 WIB
Hendrika SM. Siagian : keberhasilan seorang guru
belajar tidak hanya disekolah,bsa dmana aja n semua tergantung niat org itu sendiri. guru adalah seorang pengajar n' pendidik, keberhasilan dari seorang guru dlm mndidik didkung kepatuhan dri siswa/i itu juga (dalam hal positif).
12Next
Partners :
Kick Andy Talk Show : Help/FAQ (update) | Disclaimer Komentar (update)
RSS Feed Kick Andy : The Show | Andy`s Friend | Andy`s Corner
© 2010 Kick Andy Enterprise - All Rights Reserved