


Menteri Perdagangan mengeluarkan kebijakan bagi PNS untuk memiliki skor 600 untuk TOEFL (bahasa Inggris)
Hari minggu barusan ketika jalan-jalan sama keluarga, saya dan anak saya yang masih di SD terkesima dengan 2 promosi yang ada di salah satu pusat perbelanjaan. Di foodcourt ada layar teve yang hanya menampilkan tulisan "Brokoli itu sayuran". Di salah satu toko disana ada materi promosi produk kosmetik yang menggunakan keyword "Kita harus pintar".
Kedua materi promosi tadi benar. Bahkan sangat benar. Brokoli itu ya memang sayuran. Demikian juga kita memang harus pintar. Sekalian saja saya tambahkan lagi satu kalimat yang jadi judul artikel di atas yaitu "Kita perlu duit". Terus maksudnya apa? Untuk apa saya ajak Anda untuk repot-repot ‘berpikir keras’ bahwa kita perlu duit? Semua orang tentu tahu bahwa kita perlu duit”?
Dalam konsep branding diperlukan ‘sesuatu’ untuk membuat khalayak mudah mengingat dan teringat ‘sesuatu’ yang sesuai harapan. “Sesuatu”-nya bisa nama, warna, logo, endorser, tagsline, keyword dan lain sebagainya yang membutuhkan keunikan ekstra.
Kalimat “brokoli itu sayuran” yang ada di media teve, maupun keyword produk kosmetik “Kita harus pintar” yang sangat bersahaja justru menarik perhatian. Saya bahkan merasa perlu mengulasnya untuk Anda. Meskipun bersahaja, esensi branding keduanya sampai dengan baik. Toh tujuan branding adalah membuat khalayak mengingat dan teringat sesuatu sesuai harapan. Singkat kata, branding tidak selalu ‘gebyar-gebyar’ yang keren atau mewah.
Dalam konteks Kick Andy atau hostnya Andy F. Noya terlihat dan terasa ada antagonis yang sinergis dalam konsep branding keduanya. “Kick Andy” tampil dengan kesan keren dan kosmopolitan yang inspiratif. Sementara “Andy F. Noya” terasa kental membangun kesan kesahajaan yang merakyat (saya tidak tega menyebutnya rada ‘ndeso’) yang juga inspiratif.
Kedua sosok brand yang antagonis-sinergis pada Kick Andy dan Andy F. Noya merupakan motor inspirasi untuk menggairahkan program teve Kick Andy. Tidak heran kita terbawa ‘naik-turun’ menyesuaikan dengan brand positioning keduanya. Dan disitulah nikmatnya kita menyimak Kick Andy yang kosmopolitan dan memperhatikan Andy F Noya yang bersahaja.
Kalau Anda sedang berniat membangun brand, “kesahajaan” seperti ditunjukkan oleh Andy F. Noya bisa memberi contoh. Seperti Andy Noya yang bersahaja, kita juga bisa menampilkan kesederhanaan.
Betul nggak?
Handito Joewono