logo
Tayang Setiap : Jumat pk 21.30 WIB
Tayang ulang : Minggu pk 15.30 WIB

About | Contact | Help/FAQ

Follow On :

  • Home
  • The Show
  • Video Streaming
  • Foundation
  • Andy`s Friend
  • Andy`s Corner
  • Store
  • Community
Login | Register
 
Polling

Menteri Perdagangan mengeluarkan kebijakan bagi PNS untuk memiliki skor 600 untuk TOEFL (bahasa Inggris)

 Setuju
 Tidak Setuju
 Tidak tahu
Andy`s Corner
Selasa, 15 Juni 2010 14:51:00 WIB
Pengungsi
kick andyLelaki itu sedang berjongkok di depan rumahnya. Keempat anaknya yang masih kecil-kecil juga berjongkok. Mereka tampak sibuk membersihkan butir-butir jagung yang berserakan. Tiada kata, tiada suara. Hening. Sementara matahari siang terasa menyengat.

Kalau tadi saya menyebut “rumah”, itu tidak lebih dari tempat berteduh beratap dedaunan kering dan berdinding anyaman batang bambu. Ada sebuah ruang sempit di bagian depan rumah, di samping pintu masuk. Dari ruangan itu mengepul asap dari kayu bakar. Sebuah ceret air berpantat hitam teronggok di atas tungku berupa susunan batu kali.

Paulus, nama lelaki itu, menatap penuh tanda tanya ketika saya menyapanya. Wajahnya berubah sedikit ramah ketika aktivis sebuah LSM memperkenalkan saya sebagai jurnalis televisi. Ayah empat anak asal Timor Timur itu mengaku sudah sepuluh tahun menetap di kamp pengungsi itu. Bersama ribuan pengungsi yang lari dari Timor Timur pasca konflik 1999, mereka ditampung di Kamp Pengungsi Tuapukan, Nusa Tenggara Timur.

Seperti halnya Paulus, ribuan warga Timtim yang pro integrasi, yang memilih bergabung dengan Indonesia, saat itu terpaksa harus meninggalkan kampung mereka karena keselamatan mereka terancam. Banyak diantara mereka yang pro Indonesia waktu itu yang dibunuh oleh saudara-saudara mereka sendiri yang waktu itu berpihak pada opsi yang berbeda, yakni kemerdekaan.

Konflik yang berbuntut pisahnya Timor Timur sebagai bagian Indonesia waktu itu sampai sekarang menyisakan tragedi kemanusiaan. Selaian pembantaian massal yang terjadi waktu itu, mereka yang selamat dan melarikan diri ke wilayah Indonesia ditampung di berbagai pemukiman pengungsi dengan kondisi yang memprihatinkan. Sepuluh tahun telah berlalu. Banyak diantara kita, termasuk saya, seakan lupa bahwa ada masalah yang belum terselesaikan. Kita seakan merasa urusan saudara-saudara kita yang waktu itu memilih merah putih ketimbang merdeka juga sudah selesai.

Pertemuan saya dengan Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen menyadarkan saya bahwa para pengungsi itu masih ada. Rencana Ale dan Nia mengangkat kisah para pengungsi tersebut dalam film “Tanah Air Beta” mendorong saya untuk berkunjung ke kamp pengungsi di Oebelo dan Tuapukan. Dua dari beberapa kamp pengungsian yang masih ada di wilayah NTT. Dari cerita Ale dan Nia tentang kondisi pengungsi di sana, saya dan tim Kick Andy tergerak untuk melihat langsung di lokasi.

Paulus hanya salah satu dari mereka. Paulus hanya satu dari ribuan orang yang harus bertahan hidup dengan kondisi seperti itu. Saya hanya bisa menahan nafas melihat kondisi “rumah” ayah empat anak itu yang hanya terdiri dari satu kamar ukuran empat kali empat. Lantainya tanah kering. Ruangan semakin terasa sempit karena tumpukan barang-barang dan peralatan masak. Di situlah Paulus bersama istri dan semua anak mereka tidur sekaligus beraktivitas.

Untuk bisa bertahan hidup, Paulus dan hampir semua pengungsi menjual tenaga mereka sebagai buruh tani. Mereka menggarap lahan kebun masyarakat setempat dengan upah hasil kebun tersebut. “Kami tidak punya keahlian selain bertani,” ujar Paulus. Sementara saat ditampung di tempat itu, para pengungsi tidak diberi lahan untuk digarap. Begitu pula status tanah yang mereka tempati sampai sekarang tidak jelas. Tak heran jika mereka sampai saat ini tergantung pada “rasa belas kasihan” penduduk lokal.

Dalam pesawat, saat meninggalkan Kupang, saya merenung. Bagi saya dan siapa pun yang datang ke kamp pengungsi, situasi di sana bagaikan mimpi buruk yang hanya terasa sesaaat. Ketika kita terjaga, mimpi itu akan hilang.

Saya hanya sehari di kamp pengungsi. Hanya sehari merasakan kepedihan. Hanya sehari melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kehidupan para pengungsi di sana. Hanya sehari menyaksikan anak-anak berebut permen dan bolpoin dari tangan saya. Hanya sehari melihat anak-anak setengah telanjang. Hanya sehari melihat anak-anak berpakaian kumuh. Hanya sehari melihat jagung atau segenggam beras yang dimasak seadanya. Semuanya hanya mimpi buruk dalam sehari.

Sesudah itu, saya akan kembali menjalani kehidupan sehari-hari di Jakarta. Kembali menikmati semua fasilitas kota metropolitan yang serba modern. Kembali melihat orang berlalu lalang di mall-mall dengan dasi dan baju mahal. Melihat tawa riang anak-anak muda di cafe-cafe dengan laptop di depan mereka. Melihat anak-anak kecil dengan nikmat menyantap es krim di restoran mahal.

Tapi, bagaimana dengan mereka yang berada di kamp pengungsian? Mimpi buruk itu harus mereka lalui selama puluhan tahun. Sebelum tidur sampai ketika bangun, mereka tetap melihat masa depan yang tak menentu. Melihat anak-anak mereka yang terpaksa tumbuh dan besar dengan kondisi kekurangan gizi. Setiap bangun tidur, mereka sudah dihadapkan pada pertarungan untuk mempertahankan hidup.

Sungguh ironis. Bukankah dulu mereka mempertaruhkan nyawa demi Indonesia? Bukankah mereka berada di sana karena membela keyakinan pada merah putih? Adakah kondisi yang mereka terima sekarang ini sebagai imbalan atas keyakinan itu?

ARTIKEL TERKAIT :
Arsip +
  • Ibu Ana
  • Buku
  • Berhenti Makan Sebelum Kenyang
  • Tali Cinta
  • Keajaiban
| Share Kick Andy | Kommentar (241) | Dibaca (30758)
Kommentar Anda :

Aturan Posting Kommentar :

Seluruh layanan yang diberikan mengikuti aturan yang berlaku dan ditetapkan oleh kickandy.com.

Pasal Sanggahan :

kickandy.com tidak bertanggung-jawab atas tidak tersampaikannya data/informasi yang disampaikan oleh pembaca melalui berbagai jenis saluran komunikasi (e-mail, sms, online form) karena faktor kesalahan teknis yang tidak diduga-duga sebelumnya.

kickandy.com berhak untuk memuat , tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

Data dan/atau informasi yang tersedia di kickandy.com hanya sebagai rujukan/referensi belaka, dan tidak diharapkan untuk tujuan perdagangan saham, transaksi keuangan/bisnis maupun transaksi lainnya.



Sabtu, 31 Desember 2011 10:10:28 WIB
ali akbar : Saran saja
Mungkin Kick Andy bisa buat acara TV dengan judul TAK SEBANDING. yang mengangkat kondisi indonesia sehingga akan lebih membuka mata kita semua.
Sabtu, 31 Desember 2011 10:10:27 WIB
ali akbar : Saran saja
Mungkin Kick Andy bisa buat acara TV dengan judul TAK SEBANDING. yang mengangkat kondisi indonesia sehingga akan lebih membuka mata kita semua.
Kamis, 03 Nopember 2011 11:08:51 WIB
Kirmaji : Siapa yang bertanggung jawab
Lalu siapa yang bertanggungjawab akan hal itu,..bukankah Negara/pemerintahan yang bertanggung jawab?..bukankah bumi dan air dan segala isinya dikelola Negara untuk kesejahteraan rakyat..lalu siap yang mengkhianati UUD 1945 ?...
Selasa, 25 Oktober 2011 15:39:56 WIB
erma : pengungsi
Saya mendukung KA untuk memblow Up masalah pengungsi Eks timtim, biar bagaimanapun keputusan memilih NKRI tidak layak dibalas dengan penelantaran.jangan simpan api dalam sekam pak Beye.
Rabu, 12 Oktober 2011 15:55:19 WIB
mery : Pengungsi
Bung Andy,coba ditampilkan kondisi kamp pengungsi ex. Timor Timur ini di KA, biar mata kita semua terbuka, dan kita tdk usah berharap ke pemerintah & dewan, karena mereka semua bullshit
123456NextLast ›
Partners :
Kick Andy Talk Show : Help/FAQ (update) | Disclaimer Komentar (update)
RSS Feed Kick Andy : The Show | Andy`s Friend | Andy`s Corner
© 2010 Kick Andy Enterprise - All Rights Reserved