


Menteri Perdagangan mengeluarkan kebijakan bagi PNS untuk memiliki skor 600 untuk TOEFL (bahasa Inggris)
Ketika saya dan tim Kick Andy HOPE sedang berada di Metro Lampung untuk rekaman, tiba-tiba seorang ibu – sambil menggendong bocah perempuan – menangis histeris. Airmatanya bercucuran.
“Maaf salah sambung”. SMS itu masuk beberapa saat setelah saya mengirim SMS untuk seorang teman. Jawaban yang saya terima dari teman itu membuat saya bertanya-tanya. Mengapa teman saya mengatakan salah sambung?
Saya tak kuasa menahan air mata. Di depan murid-murid kelas enam SD itu saya menangis. Sementara Yuni terus membacakan puisi karyanya dengan suara serak.
“Selamat siang Pak Andy. Saya Puri. Saya ingin mengucapkan terima kasih atas bantuannya bagi operasi tumor otak saya. Semoga Tuhan memberkati Bapak. Puri”.
Dari kaca spion saya melihat mata supir taksi itu berkaca-kaca. Merasa tidak percaya pada apa yang saya lihat, berulang-ulang saya mencuri pandang untuk meyakinkan apakah saya tidak salah lihat?
Seorang penonton di acara rekaman KA menulis di blognya bahwa saya “mengusir” yang bersangkutan dari studio. Dalam tulisannya, penonton tersebut lalu menghakimi saya dengan sederet “dosa” yang saya perbuat pada saat itu
Lelaki itu sedang berjongkok di depan rumahnya. Keempat anaknya yang masih kecil-kecil juga berjongkok. Mereka tampak sibuk membersihkan butir-butir jagung yang berserakan.
Wajahnya mengingatkan saya pada almarhum Bokir, pelawak asal Betawi yang dulu kerap tampil di acara lenong yang disiarkan TVRI.
Air mata saya tak terbendung lagi. Adegan itu sungguh menyentuh dan menggetarkan hati. Tak terbayangkan sebelumnya bahwa ayah Farhan bisa berubah drastis dan menyetujui pilihan anaknya untuk menjadi fotografer.
Seorang ibu datang ke rumah Pak Gendu membawa sebuah kantong kertas berwarna coklat. “Ini titipan dari suami saya,” ujar sang ibu. Ketika kantong kertas itu dibuka, Hartono terperanjat dan menatap sang ibu dengan pandangan tidak mengerti.
Namanya Gulam. Tubuhnya tinggi, atletis, dengan kulit cenderung hitam. Penampilannya necis. Untuk ukuran orang Pakistan, wajahnya terbilang tampan. Dia menjemput saya dan keluarga di Heathrow Airport, London
Menjelang ulang tahun adalah saat-saat yang paling menakutkan dalam hidup saya. Ada trauma masa kecil yang terus memenuhi alam bawah sadar saya. Perasaan itu selalu muncul menyeruak ke permukaan menjelang saya berulang tahun.
Di depan puluhan muridnya, perempuan itu memeluk saya erat-erat. Air matanya berlinang. Untuk sejenak saya terpaku. Tidak menduga adegan itu akan terjadi. Semua serba tiba-tiba.
Saya tertegun. Darah di seluruh tubuh terasa berdesir lebih cepat. Jarum jam menunjukkan pukul 12 tengah malam. Seorang pemuda sedang menyikat lantai. Di sampingnya tergeletak sebuah ember berisi air. Tak jauh dari situ terdapat cairan pembersih.
Saya tersentak mendengar syair yang dinyanyikan anak2 itu dengan sepenuh hati. Usia mereka saya taksir sekitar 12-15 tahun. Sembari menyanyikan lagu berjudul “Pak Haru” itu, mereka memainkan gitar,bas,gendang,termasuk alat musik drum yang sederhana.